Laba Manis Bibit Mangga

Filed in Topik by on 05/12/2010 0 Comments

 

Yuwen, buahnya eksotis: ukuran besar dan warna kulit merah menyala. Banyak hobiis menginginkan bibitnya meski harga relatif mahal Rp250.000/bibit ukuran 40—60 cmdr Kerry Kartosen, tukarmenukar bibit dengan hobiis lain layaknya penggemar filateliLima tahun silam Andy dikenal rekan dan sejawatnya sebagai pria ‘gila’ mangga. Maklum setiap kali mendengar ada jenis mangga yang belum dimiliki, ia langsung mencari bibitnya. ‘Berapa pun harganya pasti saya beli,’ kata manajer nasional di sebuah perusahaan farmasi itu. Bibit lalu ditanam di pot dan diletakkan di dak lantai 2 rumahnya. Hanya dalam hitungan bulan dak rumah pun penuh sesak.

Dari tabulampot mangga itu Andy sering memetik mangga matang pohon. Buah lantas dicicip bersama keluarga. Buah berlebih dibagikan ke tetangga dan rekan kerja. Saking sering berbagi buah, para tetangga menjuluki Andy ‘bapak mangga’. ‘Rumah saya pun disebut ‘rumah mangga’ saking banyaknya pohon mangga di dak. Saya pun mulai bingung karena jumlahnya terlalu banyak,’ kata Andy.

Hingga suatu ketika Andy ditunjuk gereja di perumahannya untuk mencari dana setiap Paskah dan Natal. ‘Saya dapat ide memajang tabulampot yang tengah berbuah di gereja, lalu meminjam bibit dari penangkar langganan untuk dijual,’ kata penghobi olahraga tenis itu. Tak disangka ide itu berbuah manis. Dalam sehari 50 bibit chokanan terjual. Laba dari penjualan itu lantas dipakai mendanai kegiatan gereja.

Bisnis sampingan

Kejadian 4 tahun silam itulah yang membuat hari-hari Andy berubah. ‘Sejak itu banyak yang cari saya untuk beli bibit mangga. Dari hanya pinjam bibit, sekarang mulai produksi sendiri dan menjadi pekebun,’ tuturnya. Lantaran kelabakan tak punya tempat, Andy membeli sebidang tanah seluas 3.000 m2 di Karawang, Jawa Barat, pada 2007. Di sana sebagian tabulampot dipindah ke tanah sebagai tanaman induk sekaligus tanaman produksi. Kini luas tanah bertambah luas menjadi 10.500 m2. Sebanyak 60% penjualan bibit, hasil produksi dari sana.

Setahun terakhir omzet penjualan meningkat tajam pasca Andy memasang iklan di buletin gereja. ‘Irwin, chokanan, dan namdokmai jadi bibit primadona,’ katanya. Irwin paling menarik untuk tabulampot, chokanan paling mudah berbuah, dan namdokmai paling lezat. Penjualan bibit mencapai250 bibit per bulan. Harga bervariasi Rp100.000 – Rp175.000 per bibit ukuran 80 – 100 cm. Sementara penjualan untuk amal tetap dilakukan di gereja seminggu sekali.

Di Bintaro, Tangerang, Provinsi Banten, ada Nugroho Budhisantosa ST MMSI yang juga membisniskan bibit mangga di lahan sempit. Itu bermula saat Nugroho iseng mengunggah tulisan jenis mangga baru di situs pribadi. Tak disangka banyak pembaca yang tertarik memiliki bibitnya. ‘Lalu saya pikir, saya bisa menggunakan internet untuk memasarkan bibit mangga. Syaratnya mesti jenis baru,’ kata staf pengajar Informasi dan Teknologi di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta itu.

Nugroho yang memang hobiis tabulampot lantas berburu bibit mangga jenis baru – seperti yuwen dan mahachanock – dan kembali mengunggahnya. ‘Benar saja peminatnya banyak hingga saya kewalahan,’ ujarnya. Maka sejak 1,5 tahun terakhir Nugroho memanfaatkan waktu luangnya untuk berburu bibit mangga jenis baru guna memenuhi permintaan pasar. Bibit diletakkan di dak lantai 2 berukuran 4 m x 8 m.

Kini laba bulanan Nugroho mencapai Rp4-juta. ‘Saya diuntungkan dengan jenis baru karena harganya bisa 5 – 10 kali lipat jenis mangga biasa seperti arumanis yang hanya Rp15.000 – Rp25.000 per kg,’ katanya. Ia pun tengah membangun sebuah nurseri seluas 2.000 m2 di Bintaro sebagai tempat produksi. Masih dari pekarangan, Mami Kastedi dan Agus Sudarto, di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, juga berbisnis bibit mangga dari lahan seluas 25 m2 dengan omzet mencapai Rp7-juta – Rp15-juta per bulan.

Populer

Menurut Maurice Kong, pakar buah di Florida, Amerika Serikat, bibit mangga mudah dipasarkan karena Mangifera indica itu tergolong buah paling populer di dunia. ‘Buahnya paling banyak muncul di pasar buah tradisional di Asia Tenggara. Pasti masyarakatnya gampang tertarik menanam di halaman rumah,’ katanya melalui surat elektronik pada wartawan Trubus Nesia Artdiyasa.

Masyarakat yang familiar dengan mangga itu gampang ‘kaget’ saat disodori jenis mangga introduksi dari luar. ‘Itu seperti pemilik telepon genggam yang terkaget-kaget dan ingin memiliki blackberry saat mendengar berbagai kelebihannya,’ kata Nugroho yang juga pakar Ilmu Komunikasi Massa itu.

Yang unik orang Indonesia juga menyukai komoditas dari luar meski itu barang lama. ‘Saya unggah green bombay, banyak orang yang berminat. Padahal itu mangga lama yang pernah masuk di era 80-an,’ tambah Nugroho. Green bombay asal India masuk ke Indonesia melalui Thailand pada 1985. Ia tergolong mangga genjah karena dapat berbuah sebelum umur 2 tahun di pot.

Jika ‘barang’ lama saja jadi incaran, apalagi yang baru. Ricky Hadimulya, pemilik nurseri Hara di Ciseeng, Bogor, memproduksi bibit yuwen asal Taiwan sejak setahun terakhir. Itu dipicu kemunculan buahnya di pasar swalayan dengan harga fantastis: Rp100.000 per kg.

Yuwen berukuran jumbo dengan kulit merah menarik. Daging buah tebal lantaran biji supertipis. Rasanya manis sedikit asam tapi menyegarkan. ‘Sosok buahnya menggoda untuk dimiliki,’ kata dr Kerry Kartosen, hobiis mangga di Surabaya, Jawa Timur, yang kerap bertukar bibit mangga dengan sesama hobiis layaknya penggemar filateli bertukar perangko.

‘Saya sudah punya pohon induk berumur 5 tahun. Begitu banyak orang mencari, langsung saya produksi bibit,’ kata Ricky. Dalam hitungan 6 bulan 500 bibit ukuran 40 – 60 cm ludes dibeli hobiis dan penangkar lain. Padahal harganya mahal, Rp250.000.

Bandingkan dengan mangga baru lain seperti mahachanok, golden namdokmai, sala, dan kirsatiparmalda. Keempatnya dibanderol Rp200.000 per bibit ukuran 50 cm. Sementara jenis lama yang masih agak terbatas irwin dan liar Rp100.000 per bibit dengan ukuran sama. Mangga introduksi lama yang populasinya sudah banyak seperti namdokmai, khio sawoei, dan chokanan harganya Rp50.000. ‘Harga terus naik seiring bertambahnya tinggi tanaman,’ kata Eddy Soesanto, pemilik nurseri Tebuwulung. Contohnya chokanan ukuran 1 m harganya naik menjadi Rp150.000 – Rp300.000 tergantung kondisi percabangan.

Terbesar

Sayang, tak ada catatan penjualan pasti bibit mangga di tanahair. Sebagai gambaran penjualan bibit mangga selalu berada di 3 besar penjualan bibit di toko Trubus. ‘Saat ini berada di peringkat pertama di atas durian dan lengkeng,’ kata Gunadi, manajer toko Trubus. Ia menyebut penjualan bibit mangga pada 2010 mencapai 10.000 unit atau 2 kali lipat ketimbang 2 tahun silam. Nurcholis ST, penangkar di Majalengka, Jawa Barat, mengakui hal serupa. ‘Mangga selalu berada di deretan pertama bibit yang paling banyak laku,’ kata penangkar aneka jenis bibit itu.

Menurut Dr Reza Tirtawinata, pakar buah di Bogor, laris manisnya penjualan bibit mangga seiring dengan meningkatnya kesadaran menanam pohon di lingkungan sekitar. ‘Bahkan sekarang banyak pengembang perumahan yang memberi bonus tanaman untuk pelanggannya. Karena mangga yang paling populer, maka pilihan terbanyak adalah mangga,’ katanya.

Lazimnya jenis yang dipilih tergantung strata sosial perumahan. ‘Perumahan menengah ke bawah biasanya memilih mangga lokal seperti indramayu, gedong gincu, atau arumanis. Sementara perumahan menengah ke atas membidik jenis mangga ‘terbaik’ seperti chokanan, namdokmai, atau irwin,’ tutur Andy.

Menurut Asiong, pemilik Metro Hortikultura di Kedoya, Jakarta Barat, saat ini banyak pula perumahan yang memberi bibit mangga tanpa nama kepada para pelanggannya. ‘Bila buahnya enak rawat terus, tapi bila tidak enak jangan ditebang. Sambung saja dengan chokanan, namdokmai, Irwin, atau ketiganya sekaligus,’ tuturnya. Ya, 3 mangga itu bisa dikombinasikan tumbuh di 1 batang bawah (baca: Tiga dalam Satu, hal. 18 – 19).

Pantas para penangkar yang semula hobiis pun tetap optimis bisnisnya terus berkembang. ‘Selama ada orang yang membeli rumah baru, maka peluang menjual bibit mangga tetap ada,’ kata Andy. Jadi, yuk kita hadirkan mangga di halaman atau dak rumah. (Destika Cahyana/Peliput: Ari Chaidir, dan Faiz Yajri).

 

 

  1. Andy Kim, bermula dari lahan 35 m2, kini mendapat penghasilan tambahan Rp7-juta per bulan
  2. Mahachanok, populer disebut mangga pelangi. Warna kulit menarik dan rasanya manis asam sehingga bibitnya dicari konsumen
  3. Yuwen, buahnya eksotis: ukuran besar dan warna kulit merah menyala. Banyak hobiis menginginkan bibitnya meski harga relatif mahal Rp250.000/bibit ukuran 40 – 60 cm
  4. dr Kerry Kartosen, tukarmenukar bibit dengan hobiis lain layaknya penggemar filateli
  5. Namdokmai, kerap ditanam di area perumahan kelas menengah ke atas sebagai tanaman pekarangan

Foto-foto: Destika Cahyana, Ari Chaidir, dan Faiz Yajri

 

Powered by WishList Member - Membership Software