Laba Lemon di Lahan 3 Ha

Filed in Buah, Majalah by on 01/06/2022

H. Syahid Albarkah mengebunkan lemon sejak 2015. (foto.dok. Trubus)

TRUBUS – Membudidayakan lemon california menguntungkan. Prospek pasar masih bagus di masa mendatang, terutama jika ada pembatasan impor lemon saat panen raya.

Upaya H. Syahid Albarkah menanam lemon california berbuah manis. Omzet Syahid dari perniagaan lemon california sekitar Rp128 juta per bulan. Pendapatan itu dari penjualan sekitar 32 ton lemon seharga Rp4.000 per kilogram (kg). Sebetulnya harga lemon bervariasi yaitu Rp4.000—Rp15.000/kg tergantung kualitas berdasarkan tingkat kemulusan kulit buah. Perhitungan omzet menggunakan harga terendah karena harga lemon fluktuatif. “Dengan harga terendah petani masih bisa mendapatkan keuntungan,” kata pekebun lemon di Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu.

Syahid menghitung biaya produksi 50% dari omzet sehingga laba bersih Rp64 juta/bulan dari berjualan lemon. Konsumen lemon Syahid yaitu distributor buah, pedagang, pasar induk, dan pasar tradisional. Setiap konsumen memiliki kriteria lemon tersendiri. Distributor buah menghendaki lemon berbobot 111—250 g, berukuran seragam, dan berkulit mulus. Perusahaan distributor buah menjual lemon dari kebun Syahid ke pasar swalayan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Diterimanya lemon produksi Syahid di pasar swalayan membuktikan buah itu berkualitas premium.

Perawatan intensif

Hebatnya lagi sekitar 50% dari hasil panen masuk kategori buah untuk pasar swalayan. Sisanya untuk memenuhi permintaan di pasar induk dan pasar tradisional. Ia memang merawat tanaman anggota famili Rutaceae itu secara intensif. Syahid menumpangsarikan lemon bersama aneka sayuran seperti cabai dan brokoli. Tujuannya memaksimalkan penggunaan lahan sehingga tidak ada tanah tanpa tanaman. Sayuran juga menjadi “mulsa alami” yang melindungi lemon dari gulma.

Kebun lemon california seluas 3 hektare milik H. Syahid Albarkah di Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Yang paling penting pendapatan Syahid lebih banyak dengan tumpang sari lemon dan sayuran dibandingkan dengan penanaman lemon monokultur. Namun, teknik tumpang sari hanya berlaku saat penanaman awal hingga lemon berumur 3—4 tahun. Saat itu tajuk lemon berdekatan sehingga penanaman sayuran kurang maksimal. Sebetulnya menanam lemon secara monokultur pun tidak masalah. Semua kembali pada petani. Syahid menanam lemon dengan jarak tanam 4 m x 4 m sehingga terdapat sekitar 625—700 tanaman per hektare (ha).

 

Pastikan bibit lemon sehat. Awalnya ia membeli bibit lemon dari kawan. Kini Syahid memperbanyak bibit sendiri dengan cara okulasi. Sambil menyiapkan bibit, buat lubang tanam berukuran 30 cm x 30 cm. Masukkan pupuk kandang ke dalam lubang tanam. Selang 2 hari, masukkan bibit. Sebulan kemudian Syahid memberikan pupuk NPK. Pemupukan selanjutnya setiap 4 bulan. Adapun penyemprotan pestisida per 10 hari agar tanaman terhindar dari organisme pengganggu tanaman (OPT).

Lemon tergolong genjah sehingga mulai berbuah saat berumur 7 bulan. Namun, Syahid menyarankan untuk membuang buah agar, “Pertumbuhan tanaman maksimal,” kata pemilik CV Berkah Tani (Bertan) itu. Pemangkasan (pruning) juga dilakukan pada tunas air dan tajuk yang bersentuhan. Syahid tidak menyeleksi buah karena keterbatasan waktu dan tenaga kerja. Apalagi populasi tanaman di kebun Syahid seluas 3 ha mencapai sekitar 2.100 tanaman.

Penyiraman saat kemarau sepekan sekali. Ada pipa yang tersedia di beberapa titik sehingga memudahkan penyiraman. Syahid membuahkan lemon saat tanaman berumur setahun. Ciri panen siap panen yakni berwana hijau mengilat dan tidak ada kerutan. Lemon yang menguning di kebun berarti terlambat dipanen. Menurut Syahid lemon buah yang sensitif sehingga pemanenan pun harus hati-hati. Pemanenan lemon memakai gunting.

Prospek cerah

Sebelum masuk wadah penyimpanan, Syahid menggunting tangkai buah lagi supaya agak tumpul. “Guntingan tangkai buah yang tajam berpotensi melukai buah lain sehingga menurunkan kualitas,” kata pekebun lemon sejak 2015 itu. Syahid menganjurkan pekerja menggunakan ember atau keranjang sebagai wadah pengumpulan lemon. Ia melarang keras pemakaian karung bekas pupuk kotoran ternak untuk menampung lemon karena merusak kemulusan buah.

Syahid tidak langsung menjual lemon hasil panen yang berwarna hijau. Sebelum dijual, ada beberapa tahapan pascapanen untuk menguningkan lemon. Setelah hasil panen terkumpul, pekerja mencuci lemon untuk menghilangkan noda dan kotoran. Selanjutnya pengelompokkan lemon berdasarkan ukuran (grading). Tahap berikutnya yakni pencelupan lemon ke dalam larutan etilen selama sekitar 3 menit.

Kemasan lemon untuk pasar swalayan.

Setelah diangkat, lemon didiamkan selama satu hari. Proses selanjutnya pemeraman lemon selama 10 hari. Pekerja memasukkan lemon dalam keranjang buah yang berlapis karung. Kemudian pekerja menyortir lemon secara manual berdasarkan tingkat kemulusan buah dan mengemas dalam kardus. Lemon pun siap didistribusikan kepada para konsumen. Sekitar 60 pekerja membantu Syahid mengelola kebun lemon hingga pascapanen.

Syahid optimis budidaya lemon masih bagus di masa mendatang. Alasannya lemon memiliki khasiat kesehatan. Permintaan buah kaya vitamin C itu melonjak hingga 50% selama pandemi korona. Masyarakat meyakini tanaman kerabat jeruk manis itu dapat meningkatkan imunitas tubuh. “Saya kewalahan memenuhi permintaaan saat itu,” kata pria berumur 62 tahun itu. Permintaan lemon lokal meningkat karena saat itu ada pembatasan lemon impor akibat pandemi.

Syahid pun berharap pemerintah mengatur ketentuan impor lemon untuk menyejahterakan petani lemon lokal. “Kualitas lemon kita lebih bagus karena lebih banyak air dan lebih segar,” kata Syahid. Beda dengan lemon impor yang mengandung sedikit air dan kurang segar karena perjalanan lama dari negara asal. Oleh karena itu, perlu edukasi kepada masyarakat oleh para pihak terkait. Membeli lemon lokal berarti mendukung produk dalam negeri.

Kontribusi BRI

Apalagi petani lemon di tanah air juga berkembang. Beberapa daerah seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur pun membudidayakan Citrus limon. Impor mungkin tidak bisa dihindari, tetapi pengaturan waktu dan kuantitas sebaiknya berkaca pada kondisi di dalam negeri. Jika panen raya, maka kurangi impor lemon. Begitu pun sebaliknya. Sejatinya kapasitas produksi Syahid yang mencapai 8 ton per pekan belum memenuhi permintaan. Jika ia berhasil meningkatkan produktivitas kebun hingga 2 kali lipat pun pasti terserap pasar.

Syaratnya ada pembatasan impor lemon. Meski begitu penjualan lemon tidak hanya sebagai buah segar. Syahid tengah berupaya menghasilkan serbuk lemon agar lebih tahan simpan dan praktis. Ia melihat masih ada peluang pengembangan lemon di masa mendatang. Tidak heran jika ia membuka kebun lemon baru seluas 4 ha yang terbagi menjadi 3 lokasi pada 2019—2020. Total jenderal kebun lemon kepunyaan Syahid mencapai 7 ha.
Ia berharap kapasitas produksi kebun mencapai 16 ton per pekan pada 2024 ketika kebun baru berproduksi maksimal. Selain kebun sendiri ia juga menjalin mitra di Sukabumi, Pengalengan, Ciwidey, dan Garut, semuanya di Jawa Barat. Sekitar 30 anggota Kelompok Tani Al Baroqah pun mengikuti jejak Syahid menanam lemon. Setelah ditambah kebun mitra dan anggota kelompok, kebun lemon kelolaan Syahid seluas lebih dari 20 ha.

Tentu ada pihak-pihak yang berkontribusi terhadap kesuksesan Syahid membudidayakan lemon. Salah satunya adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Syahid tidak pusing memikirkan permodalan pengembangan usaha karena ada program pemerintah berupa kredit usaha rakyat (KUR). BRI menjadi salah satu bank penyalur KUR. Syahid yang menjadi nasabah BRI sejak 1990 pun kerap menggunakan fasilitas lain di BRI seperti pinjaman komersial. Pembelian lahan baru seluas 4 ha itu pun terdapat andil besar BRI.

Yang paling baru bank milik pemerintah yang berdiri pada 1895 itu memberikan bantuan berupa mesin pencuci buah dan mesin grading lemon pada November 2021. “Saya sangat terbantu dengan BRI. Saya sangat terima kasih atas bantuan dari BRI,” kata ayah 4 anak itu. Oleh karena itu, ia menganjurkan para mitra dan anggota kelompok tani untuk menjadi nasabah BRI sehingga bisa mengembangkan usaha agribisnis. Syahid juga berharap dapat terus bekerja sama dengan bank yang berkantor piusat di Jakarta itu. Keberhasilan Syahid mengembangkan lemon tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ketika menanam lemon kali pertama pada 2015, ia belum mengetahui cara budidayanya. Ia pun bertanya kepada kawan yang lebih berpengalaman dan mempelajari lemon secara otodidak. Selain lemon impor, tantangan lainnya yakni serangan lalat buah yang menurunkan kualitas lemon. Untuk mengatasinya ia rutin menyemprotkan pestisida. Ia menerapkan budidaya lemon secara semi organik. Artinya perpaduan antara pupuk kimia dan organik. Menurut Syahid salah satu keuntungan bertanam lemon yakni penanaman hanya sekali, tetapi bisa panen berkali-kali. Berbeda dengan sayuran yang mesti menanam baru setiap musim. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software