Laba dari Budikdamber

Filed in Majalah, Topik by on 03/07/2020

Budikdamber memberikan keuntungan finansial, ekologis, dan sosial kepada masyarakat.

 

Budidaya ikan dan sayuran dalam ember (budikdamber) memberi keuntungan finansial.

Senyum kebahagiaan menghias wajah Erwan Cukro ketika memanen kangkung perdana di samping rumah pada pekan kedua Mei 2020. Harap mafhum itu kali pertama Erwan menanam kangkung dan berhasil. “Saat itu saya memanen satu baskom kangkung yang dua kali dimasak menjadi tumis kangkung,” kata warga Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, itu.

Kangkung hasil panen di halaman rumah memakai sistem budikdamber.

Aktivitas menanam kangkung menjadi kegiatan positif bagi Erwan dan keluarga ketika menghabiskan waktu di rumah saat pandemi korona. Ia menerapkan sistem budidaya ikan dan sayuran dalam ember (budikdamber) untuk memelihara tanaman anggota famili Convolvulaceae itu.

Menguntungkan

Hingga kini Erwan tiga kali panen kangkung. Erwan belum memanen lele karena ukurannya masih relatif kecil. “Kemungkinan Juli 2020 saya memanen lele perdana,” kata pria yang berbudikdamber sejak pengujung April 2020 itu. Erwan memiliki 3 ember masing-masing bervolume 80 l ketika kali pertama berbudikdamber. Alasannya agar ember lain menjadi tempat penampung lele sortiran.

Menyortir lele secara berkala perlu dilakukan untuk menghindari ikan menjadi kanibal sehingga mengurangi populasi. Ia merogoh kocek Rp500.000 untuk 3 budikdamber itu. Menurut alumnus Manajemen Bisnis, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Tanjungpandan, itu, harga pembuatan budikdamber bervariasi di setiap daerah.

Ada enam unit budikdamber baru di rumah Erwan sejak pengujung Mei 2020. Total jenderal ia memiliki sembilan unit budikdamber. Enam unit budikdamber terbaru ditanami tomat, terung, dan cabai. Saat ini Erwan mengandalkan sembilan unit budikdamber itu untuk memenuhi keperluan keluarga. “Memungkinkan jika budikdamber sebagai penghasilan sampingan asalkan kita harus telaten belajar. Mesti berinovasi juga untuk memperbanyak lubang tanam,” kata pria berumur 34 tahun itu. Erwan menuturkan, berbudikdamber memiliki banyak keuntungan.

 

Kombinasi polibag

Erwan Cukro berbudikdamber sejak pengujung April 2020 agar memiliki kegiatan positif selama masa pandemi.

Bukan hanya kentungan finansial, tapi juga menjadi ajang silaturahmi dan menambah teman baru. Kreator budikdamber, Juli Nirsandi, S.Pi., M.Si., mengatakan sebetulnya satu unit budikdamber pun bisa mendatangkan keuntungan (Baca Keuntungan Budikdamber). Syaratnya masyarakat juga menanam sayuran dalam polibag di sekitar budikdamber.
Air hasil pengurasan budikdamber bisa digunakan untuk menyiram tanaman dalam polibag. Itu yang dilakukan Erwan setiap pekan. Ia mengganti air dalam budikdamber hingga 50% dan menggunakan air buangannya untuk menyiram tanaman di lahan. “Dengan cara itu masyarakat bisa memanen 30 polibag setiap hari,” kata Juli yang berprofesi sebagai dosen di Politeknik Negeri Lampung.

Sejatinya keuntungan ekonomi menjual ikan dan sayuran relatif kecil. Nilai ekonomi budikdamber berkembang melalui penjualan kit siap pakai atau perlengkapannya. Meski begitu kentungan ekologis dan sosial pun dirasakan masyarakat. Keuntungan ekologis berupa penghijaun di rumah, sedangkan keuntungan sosial karena berbagi ilmu kepada orang yang memerlukan.

Dosen di Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si., mengatakan, lazimnya budikdamber untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Budikdamber berpotensi sebagai penghasilan sampingan tergantung jumlah atau volume wadah yang dimiliki. Musababnya itu berkaitan dengan kapasitas produksi. (Riefza Vebriansyah)

Asumsi:

  • Pembuatan 5 unit budikdamber.
  • Masa pakai ember 3 tahun.
  • Masa budidaya selama 3 bulan.
  • Setiap ember menghasilkan 3 kg ikan.
  • Tanaman lain berasal dari penyiraman menggunakan air dalam ember, tapi penanaman di luar budikdamber.
  • Biaya investasi dan produksi serta pendapatan untuk 3 bulan.

Catatan:

  • Produktivitas beragam di setiap lokasi budidaya tergantung kualitas bahan baku dan teknik budidaya.
  • Data diolah dari penemu budikdamber di Politeknik Negeri Lampung, Juli Nursandi S.Pi., M.Si.
  • Harga bisa saja berbeda di setiap daerah.

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software