Laba Bisnis Keripik Kale

Filed in Majalah, Sayuran by on 08/12/2020

Daun kale jenis curly segar bahan baku keripik.

Mengolah kale keriting organik menjadi keripik yang menyehatkan. Omzet naik dua kali lipat.

Julukan kale amat mentereng: ratu sayuran. Itu karena kandungan gizi kale Brassica oleracea acephala amat lengkap seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, dan tembaga. Namun, tak semua orang menyukai sayuran anggota keluarga Brassicaceae itu. Sandra Alfina mengolah kale menjadi keripik atau chips sehingga makin banyak orang yang menggemarinya. Sebetulnya alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu juga megolah almon. Mentor menyarankan Sandra fokus dan memilih kale karena bahan relatif mudah diperoleh.

Sandra Alfina bersama suami Ricky Kurnia Chandra, membangun Sunkrisps sejak Januari 2018.

Bungsu dari dua bersaudara itu memproduksi keripik kale di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sandra mengolah kale menggunakan teknik dehydrating atau pengeringan dengan udara panas melalui alat dehidrator. Seorang asisten membantu produksi olahan sayuran itu. Meski demikian, ia hanya mampu memproduksi 600 kemasan sebulan. Sebuah kemasan berbobot 20 gram dengan harga Rp28.000 yang semua terserap pasar. Omzet Sandra dari penjualan olahan kale itu mencapai Rp16,8 juta per bulan.

Jenis keriting

Menurut Sandra konsumen olahannya adalah para pekerja kantoran, ibu rumah tangga, anak-anak, dan para pegiat gaya hidup sehat. Mereka tersebar di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Perempuan 29 tahun itu memasarkan hasil olahannya melalui media sosial. Sejak 2018, Sandra berhenti memasarkan langsung ke konsumen, tetapi menggunakan reseler.

“Total ada 82 reseler yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya,” ujar perempuan kelahiran 16 November 1991 itu. Pemasaran atau iklanya pun melalui media sosial seperti Instagram dan Whattsap. Penjualan produknya meningkat mencapai 1.500—3.000 bungkus per bulan. Produk Sandra ternyata lebih banyak dikonsumsi oleh anak-anak dibanding orangtuanya. Ia bersama suami, Ricky Kurnia Chandra, mendirikan PT Kreasi Krispi Indonesia pada Januari 2018.

Pada awal 2019, Sandra menggeser segmen pasar yang semula untuk orang-orang yang ingin hidup sehat menjadi orang tua yang ingin anak-anaknya sehat tetapi tetap bisa jajan. “Produk-produk Sunkrisps, kami buat menjadi produk yang menggoda mata, enak di lidah, dan sehat untuk tubuh. Warna-warna menarik seperti pelangi, warna khas unicorn seperti merah muda, biru, ungu, hijau kuning, menjadi warna khas produk kami,” ujarnya.

Abon berbahan sayuran yang enak sekaligus menyehatkan.

Olahan keripik itu menggunakan sayur kale jenis curly sebagai bahan baku. Alasannya kale curly rasanya paling tidak pahit. Selain itu, “Curly paling mudah kering saat proses pengeringan, karena keriting jadi tidak terlalu tebal, gizi juga sama dengan kale jenis lain,” ujarnya. Ia mendapatkan bahan baku dari pemasok sayuran di Bogor, Jawa Barat. Perempuan kelahiran Bandung itu membutuhkan 200 kg kale per bulan. Sandra memerlukan kale curly yang segar, bebas gerekan hama atau penyakit, dan pestisida kimia. Menurut Sandra rendemen pengolahan mencapai sekitar 36%.

Karyawan minyak

Sandra menekuni bisnis olahan kale setelah berhenti bekerja di perusahaan minyak di Duri, Riau. Ia menuturkan, bekerja di perusahaan minyak membuat pola hidup kurang teratur.

Proses pembuatan produk keripik kale higienis dan memanfaatkan produk-produk lokal.

Pada September 2014 ia mengundurkan diri dari perusahaan minyak setelah dua tahun bekerja. “Saya mulai aktif berolahraga, yoga, dan belajar vegetarian plus makanan real food. Jadi, saya berusaha mengonsumsi makanan yang mendekati bentuk aslinya, seperti memilih ayam goreng dibandingkan naget,” kata peraih penghargaan Top 50 Food Startup Indonesia dari Badan Ekonomi Kreatif itu. Namun, ia ingin hidupnya lebih berdampak kepada masyarakat.

Itulah sebabnya Sandra membuat makanan dan minuman sehat seperti susu berbahan kacang almon, keripik kale, dan cookies atau kue kering berbahan tepung singkong bukan tepung terigu sehingga bebas gluten. Bisnis itu terus berjalan. Pada 2017 Sandra mengikuti beragam kompetisi rintisan atau start-up yang diadakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan awardee of impact accelerator program Kinara Indonesia dan Patamar Capital.

Produk-produk sunkrisps disukai anak-anak dan menyehatkan karena kaya sayuran.

Mentor di awardee of impact accelerator meminta Sandra fokus pada satu produk karena sumber daya manusia (SDM) terbatas. Oleh karena itu, ia meilih olahan kale. Tiga tahun berselang, pada 2019 ia menambah varian produknya seperti abon sayur, nori berbahan daun kale dan daun singkong.

Ia mengiringi inovasi produk dengan pengembangan 30 karyawan mengikuti beragam pelatihan seperti kepemimpinan, akuntansi, dan public speaking. “Omzet kami meningkat 1,5—2 kali lipat pada Juni 2020. (Bondan Setyawan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software