KULIT PISANG

Filed in seputar agribisnis by on 01/09/2014
Kulit pisang kaya manfaat sebagai bahan pangan, kosmetik, dan obat beragam penyakit

Kulit pisang kaya manfaat sebagai bahan pangan, kosmetik, dan obat beragam penyakit

Sejak zaman dahulu kulit pisang akrab dengan manusia. Bukan hanya dijadikan lagu, tapi juga untuk pupuk dan pakan ternak. Namun, sejak ketahanan dan keragaman pangan menjadi topik nasional, kulit pisang naik gengsi jadi kudapan dan kosmetik. Di Malang, Provinsi Jawa Timur, muncul cookie pisang dengan harga Rp5.000 per bungkus kecil dengan isi 10 potong. Yang besar Rp8.000 isinya 20 potong, mereknya Cookupi. Ditambah pula semboyan “Lidah Anda perlu variasi” Your tounge deserves better.

Produk yang dikemas rapi itu diluncurkan pada April 2013 oleh sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya. Setahun berlalu, malah melayani kemasan stoples dengan harga Rp10.000 dan pesanan dari luar kota. Tentu kue kulit pisang bukan satu-satunya dan bukan hal yang baru. Sebelumnya sudah dikenal keripik kulit pisang, dodol kulit pisang, dan disusul dengan es krim kulit pisang.  Kita bisa menanyakan produk olahan kulit pisang di masing-masing kota. 
Kompres
Dodol pisang pun ada macam-macam rasa: pisang ambon, pisang susu, dan pisang nangka. Dimasaknya dengan santan, sedikit terigu dan tepung ketan. Para peneliti di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung menawarkan pengolahan keripik kulit pisang dengan aneka-rasa.  Ada rasa manis, rasa pedas, rasa bawang, rasa kacang, dan seterusnya.  Prosesnya sederhana, yaitu dengan merendam kulit pisang dalam air kapur dan garam gandu. Ada juga yang merebusnya.

Selanjutnya kulit pisang ditiriskan dan dijemur sampai kering betul. Untuk menggorengnya, dapat dilengkapi tepung terigu dan bumbu-bumbu sesuai selera. Beberapa bahkan ditawarkan dengan pewarna makanan. Sayangnya sampai sekarang, industri camilan dan farmasi kulit pisang belum dapat menyaingi popularitas kulit manggis yang muncul dalam berbagai merk.  Kalau kita perhatikan iklan dan ketersediaan di pasar, tawaran produk kulit manggis jelas lebih berjaya.  Padahal produknya terbatas pada teh celup, sirop, dan kapsul kulit manggis.

Olahan kulit pisang sudah dikenal sejak zaman Jepang, tetapi sebagai industri masih didominasi buahnya.  Isinya dikonsumsi langsung, diolah menjadi makanan bayi, bahan selai roti, pisang goreng, anggur pisang, tetapi kulitnya lebih banyak disuguhkan kepada sapi, kambing, kelinci, dan kuda. Sering terlihat bagaimana kulit pisang dikumpulkan di pasar, diangkut dengan gerobak dari warung ke warung, untuk dijual kepada peternak.  Yang paling banyak adalah kulit pisang lokal seperti kepok, batu, gajih, karena tetap utuh menempel pada sisir maupun tandannya.

Adapun kulit pisang raja, pisang hijau, dan jenis-jenis pisang besar lainnya cepat rusak, hancur, luluh lantak. Padahal, semua sama penting manfaatnya. Mulai dari untuk membuat sepatu mengkilap sampai untuk perawatan kulit.  Secara tradisional, kulit pisang dipakai mengobati iritasi, gatal-gatal, pembengkakan, dan kalau digigit serangga.  Ada panduan 20 manfaat kulit pisang terkait dengan kesehatan.  Ini tidak perlu teknologi.  Beberapa bahkan cukup menempelkan kulit pisang sebagai alat kompres kalau terjadi pembengkakan.

Fungsi lainnya adalah sebagai pemutih gigi dan penghilang jerawat. Namun,  mulai Februari 2014 ekstrak kulit pisang dipercaya dapat menurunkan kadar kolesterol dan membantu penderita jantung koroner. Itu gara-gara kandungan pektin yang terdapat pada permen kulit pisang, buatan peneliti muda Lukman Azis dan kawan-kawannya yang memenangkan lomba penelitian dukungan USAID.

Tepung
Kunci keragaman terletak pada olahan tepung kulit pisang yang dapat dijadikan apa saja. Termasuk dibuat donat, naget, dan krispye kulit pisang rasa keju dan vanila.  Setiap 3,5 kg kulit pisang dapat diolah menjadi 500 gram tepung.  Masalahnya kadar air dalam kulit pisang lebih dari dua pertiga bobotnya. Di dalamnya masih ada karbohidrat (18%), lemak, protein, kalsium, fosfor, zat besi, dan berbagai vitamin.  Itu yang membuat kulit pisang sangat bermanfaat.
Di antara penganjur tepung kulit pisang adalah Adriansyah Sarjani.  Pada 2013 ia mendapat hadiah sebagai inovator dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Ia mulai penemuannya dengan memanfaatkan limbah kulit pisang kepok, yang berasal dari sejumlah pengusaha keripik pisang di Kabupaten Banyuasin. “Kulit pisang direndam air kapur sirih tiga jam, kemudian direbus sampai matang dan diiris. Setelah itu dijemur sampai kering dan digiling menjadi tepung,” ia menerangkan. Dari satu sisir pisang kepok, bisa diperoleh 250 gram tepung.

Selanjutnya perlu upaya pemasyarakatan.  Belum banyak warga menyambut baik tepung kulit pisang. Mungkin karena masih menganggapnya sampah atau membawa kenangan kotor. Padahal penemuannya mendapat pengakuan dari dinas kesehatan dan dinas perindustrian. Tambahan lagi, tepung kulit pisang juga sudah mengantungi label halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).  Jadi perlu motivasi sendiri untuk membuat gerai dan outlet khusus produk kulit pisang yang hendak dijadikan ikon Kabupaten Banyuasin.

Untuk memproses tepung kulit pisang dengan lebih baik, dipakai natrium tiosulfat yang bisa mencegah oksidasi. Oksidasi pada kulit pisang menimbulkan bercak-bercak hitam atau cokelat yang mengesankan kotor. Selain itu juga memerlukan pisau perajang agar potongan lebih kecil, mesin giling untuk kapasitas satu kuintal, ayakan atau saringan dan mesin pengering. Dengan proses yang baik, hasil tepung kulit pisang akan lebih bersih.

Masalahnya tentu, bagaimana mendapat pasokan kulit pisang dalam jumlah besar dan teratur. Memang ada sentra-sentra pengolahan pisang yang membuat pengumpulan kulit menjadi lebih mudah seperti di Banyuasin, Sumatera Selatan, dan di Kota Batu, Jawa Timur. Belakangan di Pontianak, Kalimantan Barat, juga mulai dimasyarakatkan pemrosesan tepung kulit pisang. Perdagangan kulit pisang juga mulai marak antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per tandan.

Eka Budianta

Eka Budianta

Obat alami
Secara historis, kulit pisang mempunyai reputasi buruk.  Pada abad ke-19 di Amerika Serikat banyak kota besar menyatakan terancam oleh kulit buah-buahan tropis yang diimpor.  Saat itu sampai menjadi perdebatan di berbagai kota, karena kulit pisang diasosiasikan seperti kotoran hewan. Namun, selanjutnya dapat diatasi untuk memasok peternakan ayam, babi, perikanan, dan pupuk. Untunglah kini disadari kulit pisang adalah bahan farmasi.

Hal itu terkait dengan fungsinya untuk pelembut kulit kering, menjaga kecantikan, mencegah kutil dan penghalus rambut keriting serta menghilangkan ketombe.  Intinya kembali pada pisang dan kulitnya sebagai obat alami. Terutama untuk menjernihkan mata karena kaya Vitamin A. Kulit pisang—apalagi isinya— yang kaya potasium dan berbagai enzim dipercaya dapat mengontrol pelepasan cairan dalam sel, dan menjaga suhu dan melihara perasaan.  Yang lebih penting, pisang diyakini bisa memacu kerja otak.  Oleh karena itu konsumsi pisang di kampus-kampus cenderung meningkat pada masa-masa ujian.

Berita terbaru, 200 mahasiswa di Twickenham, Inggris, dinyatakan sangat terbantu karena sarapan pisang setiap pagi. Dinas Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat juga membenarkan khasiat pisang dalam mencegah darah tinggi dan serangan stroke. Yang paling umum diketahui pisang memang menghambat penuaan dan sumber energi.  Ia  juga mengurangi depresi dan menolong pencernakan untuk menyerap berbagai nutrisi. Tinggal bagaimana teknologi dapat mengolah kulitnya, untuk memanfaatkan bermacam khasiat yang masih tersisa.

Sekarang untuk menjaga agar manusia tetap bahagia, paling sedikit diperlukan 150-juta ton pisang dalam setahun. Indonesia produsen pisang nomor tujuh di dunia.  Dalam memanfaatkan kulitnya, termasuk pelopor, bersama Filipina, Thailand, dan Turki. Seorang peneliti Turki mendapatkan penghargaan PBB karena mengolah kulit pisang untuk pengganti kemasan yang dapat memerangi pencemaran. (Eka Budianta) ***

*)Aktifis lingkungan dan kebudayaan, kolumnis Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Jababeka Botanic Gardens.

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software