Kulit Manggis: Garcinia Stop Fibrosis Paru

Filed in Obat tradisional by on 03/08/2013
Amanda bersama dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir

Amanda bersama dr Paulus Wahyudi Halim
Med Chir

Amanda lepas dari tabung oksigen setelah konsumsi kulit manggis.

Batuk Ardelia Novalista Amanda Trouerbach yang tak kunjung reda membuat sang ibunda, Berta Gatumaya Irawati, cemas. Apalagi hasil pemeriksaan dokter di sebuah rumahsakit di Bekasi, Jawa Barat, menunjukkan Amanda harus menjalani rawat inap. Dua pekan di rumahsakit, kondisi Amanda belum juga membaik. “Batuknya masih belum reda,” kata Berta.

Ibu tiga anak itu lalu memutuskan untuk memeriksa Amanda ke tiga rumahsakit di Jakarta. Sayang, kondisi sang putri sulung tak berubah. “Dokter belum menemukan penyakitnya,” ujar perempuan berusia 49 tahun itu. Selama di rumahsakit, Amanda hanya diberi antibiotik dan menjalani terapi uap.

Paru-paru kaku

Sampai kemudian pada pertengahan 2008 kondisi Amanda semakin memburuk. Badannya melemah dan napasnya sering sesak. “Berjalan saja tidak sanggup,” kata Berta. Amanda yang kala itu berusia 9 tahun menggantungkan hidupnya pada tabung oksigen. Amanda pun dirujuk ke rumahsakit di Jakarta Timur untuk memperoleh penanganan dari dokter spesialis paru. Dari hasil rontgen, dokter menduga Amanda terkena  idiopathic pulmonary fibrosis atau fibrosis paru idiopatik.

Menurut Prof dr Faisal Yunus PhD SpP(K) dari Departemen Paru dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, idopathic pulmonary fibrosis (IPF) adalah berubahnya jaringan paru yang elastis menjadi jaringan ikat yang kaku. “Penyebabnya belum diketahui dengan jelas,” ujar Faisal. Itu sebabnya dunia medis menamakan sesuatu yang belum jelas sebagai idiopathic.

Untuk memastikan penyakit itu, pasien harus melakukan biopsi (pengambilan jaringan untuk pemeriksaan laboratorium, red). “Jika tidak dilakukan biopsi, diagnosisnya masih dugaan sementara,” ujar Faisal. Dokter di salah satu rumahsakit di Jakarta pernah menyarankan biopsi untuk Amanda. Namun, keluarga menolak karena risiko dan biaya tinggi.  Gejala fibrosis paru biasanya berupa sesak napas dan batuk kering. Lebih jauh, ketua Dewan Asma itu menjelaskan, kasus IPF jarang ditemukan di Indonesia. Bila dijumpai pun, biasanya terjadi pada orang berusia 50 tahun dan  jarang terjadi pada anak-anak.

Ratu berpadu

Ratu berpadu

Penasehat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) itu menjelaskan, jaringan yang sudah kaku sulit elastis kembali. Upaya pengobatan hanya bisa memperlambat atau menghentikan proses pengerasan jaringan. Penanganan IPF di dunia medis dengan cara memberi obat golongan steroid, meskipun belum tentu tokcer. “Solusi lainnya melakukan transplantasi paru,” ungkap dokter alumnus Hiroshima University, Jepang itu.

Setelah menjalani perawatan di rumahsakit terakhir, kondisi Amanda berangsur membaik. Dokter pun mengizinkan pulang. Meski begitu, Amanda tidak bisa lepas dari tabung oksigen dan konsumsi obat. “Kemana-mana bawa tabung oksigen,” ujar Berta. Namun, kondisinya kembali drop pada 2011 karena Amanda lalai mengonsumsi obat. Kali ini lebih parah, napasnya sesak karena keracunan karbondisoksida.

Prof Faisal menjelaskan, fibrosis paru menyebabkan pertukaran oksigen dan karbondioksia menjadi tidak lancar sehingga karbondioksida masuk ke darah dan meracuni tubuh. Dunia medis menyebutnya CO2 narcosis. “Dampak keracunan itu adalah kesadaran  berkurang, cepat lupa, dan lama-kelamaan otak tidak berfungsi,” ujar Faisal. Hasil analisis gas darah (astrup), tekanan CO2 Amanda mencapai 90 mmHg; normal 35—45 mmHg.

Keluarga segera melarikan Amanda ke rumahsakit. Dokter memasang ventilator, selang dari mulut ke paru pada gadis kecil itu. Praktis, selama 2 pekan Amanda tak bisa bicara. Untuk berkomunikasi ia menuliskan di papan. Menurut Berta, ketika perawatan di rumahsakit itu ia memperoleh informasi dari pasien lain tentang pengobatan herbal di Tangerang Selatan, Provinsi Banten oleh dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir.

 

Temulawak sebagai herbal pendamping, berperan menetralisir racun di dalam tubuh

Temulawak sebagai herbal pendamping, berperan menetralisir racun di dalam tubuh

Kulit manggis

Berta pun membawa Amanda kepada dr Paulus pada Januari 2012. Dokter Paulus meresepkan kombinasi herbal terdiri atas kulit manggis, daun sambiloto, bunga soka, bunga sepatu, daun sukun, rimpang temulawak, daun binahong, rimpang kunyit, biji kecipir, dan daun meniran. Dokter alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu memberikan ramuan dalam bentuk kapsul dan rebusan. Berta merebus ramuan herbal itu dalam dua gelas air hingga bersisa segelas. Amanda meminumnya tiga kali dalam sehari; kapsul 3 buah sehari.

Menurut Paulus, dalam ramuan itu kulit manggis Garcinia mangostana berperan sebagai superantioksidan. “Antioksidan tinggi memacu regenerasi sel untuk mengganti sel-sel yang rusak,” ujar dokter yang pernah praktik di Ethiopia dan Uganda itu. Bunga soka mengaktifkan fungsi paru. Temulawak menetralisir racun di dalam tubuh, sedangkan sambiloto dan meniran meningkatkan sistem imun.

Dr Berna Elya Apt MSi, ahli farmasi dari Universitas Indonesia, menjelaskan kulit manggis mampu mengatasi  beragam penyakit karena memiliki senyawa xanthone. Senyawa itu merupakan antioksidan tinggi. Xanthone memiliki gugus hidroksida yang efektif mengikat radikal bebas di tubuh.

Prof dr Faisal Yunus PhD SpP(K), fibrosis paru biasanya terjadi pada orang usia 50 tahun, jarang terjadi pada anak-anak

Prof dr Faisal Yunus PhD SpP(K), fibrosis paru biasanya terjadi pada orang usia 50 tahun, jarang terjadi pada anak-anak

Belum ada riset ilmiah yang mendukung peran kulit manggis atasi fibrosis paru. Namun, selama satu tahun rutin mengonsumsi ramuan herbal itu, kondisi Amanda berangsur membaik. Sekarang ia sudah tidak bergantung pada tabung oksigen. Demi mempercepat kesembuhan, Amanda menjalani fisioterapi setiap pekan.  Selain itu rutin kontrol ke dokter setiap 6 bulan. “Saat ini kondisinya 70% normal,” kata Paulus.

Saat pengecekan tes elektrokardiografi (EKG) pada Mei 2013, pulmonary artery pressure (PAP) Amanda mencapai 38 mmHg; normal 9—18 mmHg. PAP menunjukkan angka tekanan darah di arteri paru. Angka PAP itu penting karena menunjukkan kinerja paru yang mulai membaik. Pada penderita fibrosis paru, paru bermasalah menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Akibatnya, tekanan pembuluh darah di paru yang awalnya rendah menjadi tinggi. Sewaktu sakit nilai PAP Amanda mencapai 60 mmHg. Meski angka itu belum mencapai normal, tetapi sudah menunjukkan perubahan yang signifikan. (Desi Sayyidati Rahimah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software