Kontroversi Kurkumin

Filed in Majalah, Topik by on 03/04/2020

Kurkumin banyak terdapat dalam kunyit dan temulawak.

Sejak kasus pneumonia akibat virus SARS-CoV-2 merebak di Wuhan, para penganjur herbal menyarankan konsumsi rimpang herbal Nusantara seperti jahe, jahe merah, temulawak, atau kunyit. Khasiat yang diunggulkan antara lain antiradang maupun imunostimulator. Sebagian masyarakat pun rutin mengonsumsi bahan-bahan itu sejak lama. Itu sebabnya banyak yang syok begitu pada 16—17 Maret 2020 berseliweran anjuran menghentikan konsumsi rimpang yang mengandung kurkumin, setidaknya sampai pandemi korona berlalu.

Kabar yang beredar itu bersumber dari pernyataan dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Dr. Taufikurahman di grup percakapan internal. Entah bagaimana, percakapan yang mestinya hanya dikonsumsi segelintir orang itu tersebar luas. Pesan dalam percakapan itu mengutip dua riset. Pertama, riset Xue Fen Pang dan rekan dari Department of Physiology Shanxi Medical University, Tiongkok. Riset Xue membuktikan pemberian kurkumin meningkatkan pembentukan enzim angiotensin-converting enzyme (ACE) 2 pada tikus.

Riset kedua oleh Yushun Wan dan rekan di Department of Veterinary and Biomedical Sciences, University of Minnesota, Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa virus korona memasuki jaringan tubuh inangnya melalui reseptor enzim ACE-2. Gabungkan kedua riset itu, maka voila! Terbentuklah kesimpulan bahwa kurkumin meningkatkan kerentanan seseorang terhadap virus korona. Pada 18 Maret 2020, Taufikurahman mengklarifikasi kabar yang beredar itu. Menurut Taufikurahman ia mengutip riset yang menggunakan kurkumin murni sebagai bahan penelitian.

Sementara itu, kandungan rimpang jelas tidak hanya kurkumin sehingga konsumsi kurkumin murni efeknya akan berbeda dengan konsumsi rimpang. Taufikurahman juga menyatakan bahwa diskusi terkait kurkumin dalam grup itu pun belum menghasilkan titik temu konklusif sehingga belum saatnya dibagikan kepada publik. Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr. Inggrid Tania, M.Si menyatakan bahwa penarikan kesimpulan seperti itu terlalu dini.

“Hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi temulawak maupun kunyit berdampak buruk atau menjadikan seseorang lebih mudah terjangkit virus korona,” ungkap Inggrid. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu pun menganjurkan untuk meneruskan konsumsi rimpang herba. Manfaat rimpang herbal terhadap kesehatan malah terbukti secara saintifik, klinikal, dan empiris. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software