Kontes Tanaman Hias: Gempita Laga di Ibukota

Filed in Tanaman hias by on 03/08/2013

Semarak bunga bekal juara.

Adenium dalam pot itu tampil menawan. Hampir seluruh tajuk tertutup kuntum-kuntum bunga berwarna merah jambu. Adenium berumur 6 tahun itu juga tampak sehat dan terawat. Pantas, bila kehadiran adenium koleksi  Soeroso Soemoprawiro pada kontes nasional di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 23—24 Mei 2013 itu menarik perhatian tim juri. “Mempertahankan bunga adenium ketika curah hujan tinggi itu tergolong sulit, apalagi sampai banjir bunga seperti itu,” kata Supriyanto, anggota tim juri. Para juri akhirnya menabalkan adenium harry potter itu menjadi juara pertama di kelas bunga kompak.

Adenium ra chinee pandok (RCN) koleksi Lutfi (Nurma Bonsai) menyabet gelar best in show

Adenium ra chinee pandok (RCN) koleksi
Lutfi (Nurma Bonsai) menyabet gelar best
in show

Itulah buah upaya Soeroso merawat sang klangenan secara intensif. Agar tanaman tetap berbunga pada musim hujan, pengusaha di Pondokindah, Jakarta Selatan, itu menyimpan adenium itu di bawah jaring berlapis plastik penahan ultraviolet ketika cuaca sedang tidak bersahabat. “Jangan sampai kehujanan dan terserang kutu daun,” katanya. Menurut Soeroso penyebab adenium malas berbunga bukan hujan, tapi kutu yang menyerang daun sehingga tanaman tidak sehat. Akibatnya, kuntum bunga mudah gugur.

Soeroso juga rutin memberikan pupuk lambat urai setiap 3 bulan. “Perhatikan juga media tanam. Adenium menyukai media tanam porous,” katanya. Oleh karena itu ia menambahkan setengah bagian pasir malang dari total media tanam yang digunakan. “Saya mengggunakan media tanam yang banyak dijual di pasaran,” katanya. Ketika mulai berbunga, Soeroso mengeluarkan tanaman dari area berjaring agar terpapar sinar matahari penuh. “Dengan perawatan rutin seperti itu adenium berbunga terus-menerus,” ujarnya.

Aneka lomba

Sayangnya, pada kontes yang diselenggarakan Himpunan Petani dan Pecinta Adenium (HPPA) Jakarta Raya itu adenium milik Soeroso gagal menyabet gelar best in show. “Ukuran batang dan bonggol tidak seimbang,” kata Supriyanto. Gelar paling bergengsi itu akhirnya diraih adenium ra chinee pandok (RCN) koleksi Lutfi dari Nurma Bonsai yang turun di kelas RCN besar. Menurut Supriyanto, kunci kemenangan RCN klangenan Lutfi yakni sosoknya mirip karakter pohon di alam. Keistimewaan lain, sang kampiun memiliki komposisi bonggol, batang utama, dan percabangan ideal, meskipun sedang tidak berbunga. Koleksi Lutfi itu mengalahkan 147 peserta lomba.

Juara pertama bunga kompak, koleksi Soeroso Soemoprawiro

Juara pertama bunga kompak, koleksi Soeroso Soemoprawiro

Pada pameran Flora dan Fauna 2013 di Lapangan Banteng itu, panitia juga menggelar berbagai lomba tanaman hias. Sepekan setelah kontes adenium, Paguyuban Aglaonemania Indonesia (PAGI) menggelar kontes aglaonema tingkat nasional untuk memperebutkan takhta di kelas dewasa dan remaja. Dalam kontes itu 59 peserta beradu cantik. Hasil penilaian juri yang terdiri atas Rishal M. Luthan, Syah Angkasa, dan Debora Endang Devina, semuanya dari Jakarta, sepakat menobatkan moonlight milik Henry Biantoro sebagai jawara di kelas dewasa

Menurut seorang juri, Rishal M. Luthan, moonlight menjadi juara karena susunan daunnya nyaris roset sempurna. Batang tanaman si daun ratu itu tampak seperti berpilin akibat daun yang muncul tersusun seperti anak tangga. “Jarang sekali ada aglaonema yang roset sempurna seperti ini,” ujarnya.

Sementara di kelas remaja, aglaonema francise red milik Indri Greg Hambali sukses meraih nilai tertinggi. Aglaonema silangan Greg Hambali itu tampil istimewa. Ukuran daun besar dan bulat serta corak bintik-bintik yang merata di permukaan daun. Francise red sejatinya merupakan aglaonema pendatang baru. Ia muncul di kalangan pehobi pada pengujung 2012 (baca: Sang Ratu Pelipur Rindu,  Trubus edisi Okotober 2012).

Keesokan hari kontes anthurium berlangsung tak kalah semarak. Sebanyak 120 peserta yang terbagi ke dalam 7 kelas bersaing meraih gelar paling bergengsi. Pertarungan paling sengit terjadi di kelas madya. “Perolehan nilai antarkontestan bersaing ketat,” kata Edi Pranoto, juri dari Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan perolehan nilai, Anthurium jenmanii eskobar milik Dwi Bintarto akhirnya dinobatkan sebagai juara.

Menurut Edi Pranoto Anthurium jenmanii hasil silangan esmeralda dan kobra itu layak jadi juara sebab memiliki susunan daun rapi. Semakin tua daun semakin besar dan tumbuh rata sehingga semua bagian terisi dan terlihat kompak. Daunnya tebal dengan tulang daun menonjol dan bertekstur kasar khas jenmanii. “Semua daun sehat, utuh, tidak ada yang rusak,” kata Edi Pranoto.

Francise red, juara pertam kelas remaja aglaonema

Francise red, juara pertam kelas remaja aglaonema

Sapu bersih

Sepekan berikutnya giliran Indonesia Sansevieria Comunities (ISC) yang menggelar kontes sansevieria. Kontes tingkat nasional itu melibatkan lima juri yakni, Syah Angkasa dan Kini dari Jakarta, Yoyo Dwi Cahyono dan Ahmad Hari dari Surabaya (Jawa Timur), Bimosakti dari Pati (Jawa Tengah), dan Irfan dari Yogyakarta. Mereka didapuk untuk menilai 189 peserta yang dibagi ke dalam 13 kelas.

Persaingan paling ketat terjadi di kelas hibrida madya dan utama. “Semua hibrida yang dilombakan adalah hibrida lokal,” kata Taufik Hidayat selaku dewan juri. Hasil penilaian tim juri menabalkan sansevieria hibrida milik Tangerang Sansevieria Club (TSC) sebagai juara di kelas hibrida utama dan madya. “Koleksi TSC menyapu bersih gelar juara di kelas hibrida lantaran memiliki tingkat kematangan dan penampilan paling baik,” kata Yoyo Dwi Cahyono. Lihat saja turunan lidah jin yang terjun di kelas hibrida utama. Susunan daunnya elok mengipas dan meliuk sempurna. Selain itu, ukuran daun pun harmonis. Ukuran daun dari susunan paling bawah ke atas semakin panjang. Juara di kelas madya pun tak kalah menarik dengan susunan daun yang roset dan mulus. (Andari Titisari)

tabeltabel2

 

Powered by WishList Member - Membership Software