Kontes Kelinci 2010

Filed in Satwa by on 01/04/2010 0 Comments

Penampilan rex berbulu putih halus itu mengundang decak kagum banyak peserta. Bobot tubuh, misalnya, besar mencapai 3—3,5 kg. Itu sesuai kriteria rex sebagai kelinci pedaging. Selain itu, “Rex ini memiliki bulu pendek yang halus dan tebal,” ujar Dr Ir Yono C Raharjo, MSc, ketua juri. Sang kelinci juga memiliki tonjolan kulit bak kalung yang menutupi leher sehingga terkesan gagah.

Tonjolan kulit menjadi bagian daya tarik rex. Ketidakhadiran tonjolan itu yang membuat rex milik Ronal Junior dari Bandung tersingkir. Padahal rex ini tak kalah elok. Lihat saja warna bulunya: kombinasi hitam dan abu-abu mencolok yang seperti berpedar saat terpapar sinar lampu. Rex itu hanya mengantongi total nilai 1.453, berselisih 9,5 poin dari sang jawara.

Adu nilai

Pemilihan GC pada kontes yang berlangsung 13 Maret 2010 itu cukup unik. GC dipilih berdasarkan ranking nilai tertinggi hingga terendah dari 146 kontestan. Lomba dibagi dalam 4 kelas: angora, lop, ND, dan rex. Pada setiap kelas mereka dinilai oleh 3 juri—Dr Yono, Ir Syarifuddin, dan Dr Dra Susana— yang berpatokan pada 10 kriteria berbeda di setiap kelas. Angka 5 merupakan nilai maksimal pada setiap kriteria.

Angora yang sebelumnya digadang-gadang menjadi GC hanya meraih nilai 1381 poin. Klangenan Ryan dari Lembang, Bandung Barat, itu sebatas meraih kampiun kelas angora. Beberapa angora rival klangenan Ryan ada yang terlihat berbulu tebal bak anjing pekingese. Namun saat dibelai, ternyata berbulu tipis. “Bulu itu mengembang karena disisir baik,” kata Yono. Padahal, bulu panjang, tebal, dan halus menjadi syarat angora menjadi juara.

Perolehan nilai kampiun ND lebih tinggi ketimbang kampiun angora, mencapai 1.460,5. Angka itu diraih klangenan Yogi S dari Jakarta karena kelinci itu mendekati standar ND: kepala bulat, hidung pesek, dan telinga serta tubuh kecil. Keunggulan lain adalah kombinasi warna bulu cokelat tua dan muda tegas di telinga dan ekor. Peringkat kedua dengan total nilai berselisih 4 poin di bawah peringkat pertama, diraih ND milik Budi Aconk dari Bandung. ND berbulu cokelat itu kalah lantaran tubuhnya lebih kecil.

Lop unik dengan telinga turun belum mampu bersaing melawan rex. Padahal kampiun lop yang juga kepunyaan Budi Aconk dari Bandung mendulang nilai 1.427. Itu berkat tonjolan kulit di kepala yang terlihat seperti crown atau mahkota. Tonjolan itu menjadi nilai tambah bagi jenis english lop.

Berkualitas

Perolehan nilai para kontestan pada kontes yang diselenggarakan oleh Saung Kelinci, Balitnak, dan Himpunan Masyarakat Pecinta Kelinci Indonesia itu bersaing ketat. “Kualitas kelinci dari tahun ke tahun semakin meningkat,” ucap Yono yang mengaku kesulitan saat menilai kelas ND karena kualitas peserta nyaris setara.

Meski begitu hujan gelar pada lomba itu jatuh pada hobiis dari Kota Kembang yang mendulang 5 piala. “Agak sulit mengalahkan kelinci ternakan dari Bandung, khususnya Lembang, karena di sana udaranya cocok untuk pertumbuhan bulu kelinci,” kata Yono. Peserta lain yang datang dari Sukabumi, Jakarta, dan Yogyakarta pada lomba itu memang perlu bekerja keras untuk bisa menyaingi kelinci dari Bandung. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

Keterangan foto

  1. Rex, grand champion dengan total nilai 1.462,5
  2. Juara kelas angora milik Ryan di Lembang, Jawa Barat
  3. Hobiis dari Bandung dulang 5 piala bergengsi
  4. Juara ke-2 rex milik Ronal Junior dari Bandung Juara ke-3 kelas lop
  5. Juara pertama lop milik Budi Aconk di Bandung
  6. Juara ke-3 kelas lop

Foto-foto: Lastioro Anmi Tambunan

 

Powered by WishList Member - Membership Software