Komunitas Jakarta Berkebun (JKTB): Sebarkan Gairah Berkebun

Filed in Komunitas by on 05/02/2016
Kebun komunitas Jakarta Berkebun di Casa Goya Regency, Kemanggisan, Jakarta Barat.

Kebun komunitas Jakarta Berkebun di Casa Goya Regency, Kemanggisan, Jakarta Barat.

Komunitas yang memanfaatkan lahan telantar di perkotaan sebagai sumber produksi sayuran.

“Mau ke kebun Jakarta Berkebun, Pak.” Itulah kata kunci yang biasa diucapkan kepada petugas penjaga gerbang perumahan Casa Goya di Kemanggisan, Jakarta Barat. Kalau sudah begitu, senyum ramah dan beberapa arahan petunjuk akan mempermudah mencapai lokasi. Harap mafhum, kebun komunitas urban farming itu memang terletak di kawasan hunian modern dengan pengamanan berlapis.

Sekitar 200 meter dari gerbang utama, para pengunjung akan menjumpai lahan berpagar baja beton berisi rangkaian vertikultur, beragam pot, dan bedengan berisi aneka sayuran. Itulah kebun kebanggaan Komunitas Jakarta Berkebun. “Kondisi kebun saat ini yang didominasi tanaman berwarna hijau sangat kontras dengan awal tahun 2013,” ujar Yuke Kusuma, pegiat dan perintis Jakarta Berkebun.

Anggota komunitas berasal dari beragam latar belakang profesi dan status sosial.

Anggota komunitas berasal dari beragam latar belakang profesi dan status sosial.

Lahan tidur
Disebut kontras karena lokasi itu semula adalah tempat pembuangan sampah dan puing sisa pembangunan perumahan warga. Pihak pengembang Casa Goya mengizinkan lahan di sudut belakang areal pemukiman itu untuk berkebun. Berkat kerja keras dan ketekunan anggota komunitas, lahan seluas 500 m2 itu bebas timbunan sampah dan puing. Pada 12 Mei 2013 anggota Komunitas Jakarta Berkebun melakukan tanam perdana bibit berbagai sayuran seperti pakcoi, bayam, kangkung, dan sawi.

Komunitas Jakarta Berkebun digagas pertama kali pada 2011 oleh Ridwan Kamil, arsitek yang kini menjabat Walikota Bandung. Ridwan Kamil bersama Sigit Kusumawijaya, Achmad Marendes, Shafiq Pontoh, dan beberapa orang lainnya secara aktif melakukan penanaman lahan kosong dengan memanfaatkan berbagai media. “Tujuannya untuk mendekatkan sumber makanan ke masyarakat, sifatnya kebun komunitas, semua bisa ikut,” kata Sigit Kusumawijaya, yang berprofesi sebagai arsitek.

Nama Jakarta berkebun kemudian dipilih sebagai brand gerakan itu karena wilayah kerjanya masih di sekitar Jakarta. Sebenarnya Casa Goya bukanlah lokasi pertama yang digarap Jakarta Berkebun. Area pertama yang ditanami adalah tanah telantar di daerah Springhill Residence, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada akhir 2011. Di sana para pegiat membudidayakan kangkung.

Kebun bibit sayuran koleksi Komunitas Jakarta Berkebun.

Kebun bibit sayuran koleksi Komunitas Jakarta Berkebun.

Mereka lantas menjual hasil panen dengan harga yang murah dibanding harga pasar. Hasil penjualan untuk membeli benih. Keberhasilan komunitas itu segera disebarluaskan melalui jejaring media sosial di internet. Ternyata tanggapan dari masyarakat di berbagai daerah sangat bagus, banyak orang tertarik menjadi pegiat dan mengadopsi kegiatan serupa di daerah masing-masing.

Pinjam lahan
Gerakan yang semula bersifat regional berubah menjadi nasional dengan sebutan Indonesia Berkebun, dan Jakarta Berkebun sebagai salah satu cabangnya. Cabang di kota lain misalnya Depok Berkebun dan Bandung Berkebun. Komunitas Jakarta Berkebun pada dasarnya tidak memiliki lahan tetap untuk menjalani setiap kegiatannya. Komunitas bekerja sama dengan beberapa pengembang properti yang meminjamkan lahan untuk berkebun.

Acara memasak di kebun untuk meningkatkan rasa persaudaraan.

Acara memasak di kebun untuk meningkatkan rasa persaudaraan.

Pengembang akan memberitahu jauh-jauh hari jika akan menggunakan lahannya dan aktivitas berkebun harus pindah. Jakarta Berkebun memiliki misi untuk mengajak masyarakat mengembangkan konsep 3E, yakni ekologis (mengembalikan kesuburan tanah), ekonomis (hasil tanaman bisa dijual kembali),dan edukasi (mengedukasi kesadaran lingkungan, khususnya untuk anak-anak).

Mereka memiliki visi yang sama dan cukup sederhana, yaitu menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan melaksanakan program pertanian perkotaan melibatkan komunitas dan masyarakat setempat. Komunitas itu berupaya segiat mungkin dapat mengubah lahan tidur di perkotaan menjadi lahan pertanian yang memberi manfaat bagi masyarakat dan di sekitar lahan konversi.

Bahkan, kegiatan berkebun dapat juga dilakukan oleh warga masyarakat yang bertempat tinggal di rumah susun dan apartemen menggunakan sistem vertikultur berbahan murah dan tidak memerlukan tempat yang luas. Anggota komunitas berasal dari berbagai latar belakang profesi dan kegiatan sosial seperti pelajar sampai pemimpin perusahaan. Mereka peduli terhadap kelestarian lingungan dan memanfaatkan lahan terbatas untuk pertanian.

Tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota komunitas. Menurut Muslim untuk menjadi anggota cukup datang ke kebun, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Tidak ada aturan mengikat, semuanya murni berasal dari rasa memiliki dan sukarela. Saat ini anggota aktif mencapai 200-an orang. Itu di luar simpatisan dan warga yang berkunjung ke kebun. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Tentang Komunitas Jakarta Berkebun

Nama:
Jakarta Berkebun
Berdiri:
Oktober 2010
Pendiri:
Ridwan Kamil, Sigit Kusumawijaya, Achmad Marendes, Shafiq Pontoh
Komunitas:
Merupakan salah satu sub komunitas dari Indonesia berkebun yang tersebar di 33 provinsi
Visi & Misi:
Menyebarkan semangat positif kepada seluruh warga untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program pertanian perkotaan.***

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software