Kombuca Kaya Rasa & Faedah

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 14/11/2019

Beras kencur salah satu ramuan tradisional yang cocok digabungkan dengan kombuca.

Produsen menambahkan bahan tertentu sehingga kombuca kaya rasa, warna, dan faedah.

Joy Paramita Surya mengeluarkan sebotol minuman dari tas. Sebanyak 250 ml minuman di dalamnya berwarna merah menggoda, mengingatkan kepada merek minuman bersoda asal mancanegara. Namun, minuman di tangan Joy sama sekali bukan soda meski rasanya sama-sama kemrenyes di tenggorokan. Itulah kombuca rasa rosela, salah satu varian kombuca buatannya. Selain itu, ia membuat kombuca dengan rasa kombinasi beri (mixberries), arang aktif, teh hijau, dan teh melati hijau.

“Semua punya penggemar,” kata alumnus jurusan International Marketing Business, Indiana University, Amerika Serikat itu. Penggemar pertama justru kedua buah hatinya. Setiap kali melihat Joy hendak “memanen” kombuca, mereka langsung mengambil cangkir dan menguntitnya ke ruang fermentasi. Sebutan memanen merujuk kepada prosedur mengambil kombuca yang selesai masa fermentasinya.

Tradisional plus kekinian

Setelah fermentasi pertama, Joy menambahkan bahan lain lalu memfermentasi lagi. Ibu 2 anak itu menambahkan bahan lain tergantung rasa. Ia membuat kombuca dengan rasa teh hijau orisinal, teh hijau melati, kombinasi beri (mixberries), arang aktif, dan rosela. “Tidak semua jenis buah bisa ditambahkan, salah satunya nanas,” katanya. Pengalamannya, rasa kombuca nanas hanya bertahan sekitar sebulan pascaproduksi.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-er+o+l-go+rw”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3417295201″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Selewat itu muncul rasa pahit yang membuat peminumnya tidak nyaman. Itu sebabnya ia tidak melanjutkan produksi kombuca nanas. Sebaliknya, produsen kombuca merek Indokombucha di Bandung, Jawa Barat, Arsenius Sutandio, menyatakan semua bahan herba maupun pangan boleh ditambahkan. Yang penting, “Rasanya bisa diterima konsumen. Kalau ternyata tidak enak ya jangan dibuat,” katanya. Ia meracik 4 rasa kombuca yaitu original, lemongrass, red gingerlime, dan mint basil.

Produsen kombuca bermerek heal! Probiotic di Jakarta Pusat, Erina Ekawati Azis dan Pratita Ichwani Chusnun menggabungkan beras kencur, kunyit asam, wedang jahe, atau bir peletok yang merupakan jamu racikan nenek moyang dengan kombuca. Rasa lain yang menyasar kaum muda antara lain berry kisses (stroberi) dan activated charcoal (arang aktif).

Mengutip laporan penelitian dari Negeri Abang Sam, Erina menyatakan bahan lain dalam fermentasi kedua meningkatkan keragaman kandungan bakteri probiotik. “Kalau menggunakan kunyit dan asam, maka bakteri dalam kombuca akan mencerna kandungan gula dalam kedua bahan itu sehingga kandungannya menjadi lebih beragam,” kata perempuan berusia 53 tahun yang tampak awet muda berkat rutin konsumsi kombuca itu.

Berbagai rasa kombuca kreasi Erina Ekawati Azis.

Maklum, para produsen kombuca di Amerika Serikat sudah lebih jauh menggali manfaat dan kemampuan kombuca. Penelusuran sejenak dengan mesin pencari di dunia maya menampilkan berbagai merek teh fermentasi itu di sana, plus laporan berbagai media yang menyatakan tren sejak 10 tahun terakhir. “Mereka malah menggabungkan kombuca dengan minuman beralkohol seperti bir atau vodka,” kata Arsenius sambil tertawa.

Konsumsi terpisah

Arsenius tidak menganjurkan produsen menambahkan air kelapa, kefir, atau susu. Sifat masam kombuca bakal memecah butiran susu sehingga tidak enak diminum. Berbeda halnya dengan kefir yang juga bersifat probiotik. “Kalau ingin manfaat sehat kombuca dan kefir, minum saja keduanya di waktu terpisah, misalnya pagi dan sore,” katanya menganjurkan.

Sementara itu, air kelapa tinggi protein yang cepat rusak begitu terkena udara bebas. Dalam 4—6 jam saja air kelapa rusak dan berbau, padahal fermentasi kombuca tingkat kedua saja makan waktu minimal 12 jam. “Apalagi kalau menggunakan air kelapa untuk fermentasi pertama yang memerlukan waktu minimal 7 hari,” kata Arsenius. Ia juga menyarankan untuk menambahkan bahan tambahan pada fermentasi kedua.

Pasalnya, aroma bahan tambahan akan terserap dalam scoby alias biang kombuca. Misalnya menambahkan kayu manis dalam fermentasi pertama, maka scoby akan membawa aroma kulit pohon Cinnamomum zeylanica itu dalam fermentasi berikutnya meski tidak ada tambahan kayu manis lagi. Jika demikian, produsen harus mempunyai banyak stoples terpisah untuk memproduksi rasa tertentu.

Menurut Arsenius bahan beraroma kuat seperti basil atau kayumanis sedikit saja sudah menghasilkan aroma kuat. Penambahan bahan itu bukan sekadar membuat kombuca kaya rasa, tetapi juga faedah. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software