Koko, Raja Baru Grand Prix

Filed in Tanaman hias by on 04/11/2010 0 Comments

Lakon mirip Barefoot Dream juga terjadi di Kediri, Jawa Timur, di ajang Grand Prix (GP) Sansevieria putaran ke-2. Sansevieria ‘koko’ koleksi Ahmad Sokhifin yang pertama kali turun di ajang GP langsung tampil merajai dengan melibas 38 pesaingnya. Padahal, ia tak muncul di GP putaran ke-1 di Pati, Jawa Tengah, Juni silam.

Puncak klasemen dicapai koko setelah melibas 9 lawan di kelas utama round leaf tunggal. Sukses berlanjut setelah koko bertarung dan menang melawan jawara di kelas lain: utama round leaf majemuk, utama flat leaf tunggal, dan utama flat leaf majemuk. Koko pun berhasil mengumpulkan nilai 241. Itu angka tertinggi di antara seluruh peserta GP. Lawan terberatnya adalah S. pearsonii milik Asosiasi Sansevieria Indonesia Parakan (ASIP) dari Temanggung.

Koko banget

‘Koko pantas diganjar nilai tertinggi karena ia koko banget’,
kata juri Willy Purnawanto. Istilah itu untuk menggambarkan koko milik Ahmad memiliki karakter yang matang. Tengok saja susunan daun berbentuk kipas meliuk membentuk huruf S.

Koko muda dan belum matang biasanya hanya berbentuk kipas bersusun rata. Koko asal Wonosobo itu makin memukau dengan hadirnya tangkai bunga setinggi 50 cm. Ia juga tampil mulus dengan warna daun hijau yang cerah. Itulah senjata koko melibas lawan terberatnya S. pearsonii milik ASIP.

Sejatinya personii yang pada GP 1 masuk dalam klasemen 10 besar sama-sama tampil memukau. ‘Ia hanya kalah tipis dalam keserasian wadah,’ kata juri Bimo Sekti. Lantaran itu ia sangat berpeluang untuk menggeser koko di GP putaran  ke-3 yang akan digelar di Tulungagung , Tulungagung, pada Desember 2010.  Pearsonii juga berpeluang memiliki poin akumulasi lebih tinggi karena  sudah mengumpulkan poin di GP 1  dan 2.

Kontes yang digelar di halaman SMA Brawijaya, Kediri, itu, juga membuka lomba non-GP. Ada 13 kelas yang dikonteskan: madya round leaf tunggal, prospek round leaf tunggal, prospek round leaf majemuk, prospek mix, unik warna, unik bentuk, pinguicula, kirkii, paten, trifasciata, robusta-katana-sordida, mini non size, dan dekoratif.

‘Total jenderal tercatat 192 peserta beradu cantik. Itu terbagi atas 39 peserta di kontes GP dan 153 peserta di lomba non-GP,’ kata Edy Yuwono, ketua panitia. Semua kelas diwasiti oleh Willy Purnawanto (Yogyakarta), Bimo Sekti (Pati), Taufik Hidayat (Tangerang), Yoyok Dwi Cahyono (Surabaya), Tikno Suwoko (Surabaya) dan Nesia Artdiyasa (Trubus).

Di kelompok non-GP, kelas prospek round leaf tunggal menjaring peserta terbanyak yaitu 25 peserta. Persaingan pun sangat ketat.  ‘Banyak peserta berjenis sama dengan kualitas setara,’ kata Yoyok Dwi Cahyono. Pertarungan sengit itu berakhir dengan kemenangan di tangan S. rorida milik Syahrir (Makassar).

Debat alot antarjuri pun terjadi di kelas mini  untuk menentukan posisi teratas. ‘Patula unggul lantaran karakternya mencerminkan patula tua, selain itu ukurannya kurang dari 10% daripada normal,’ kata juri Bimo Sekti. Makanya ia sedikit lebih unggul dibanding pesaingnya horwood yang tengah berbunga.

Sementara itu, kelas yang banyak mengundang perhatian adalah dekoratif. Kelas yang diikuti 7 peserta itu menandingkan kreasi penataan beberapa sansevieria dalam pot membentuk panorama tertentu. Nilai tertinggi dikantongi dekorasi sansevieria milik Pandu (Solo). Sansevieria ditata seolah-olah berada di atas gunung batu dan hamparan sawah. Tema itu kian tegas dengan hadirnya gubuk mini lengkap dengan boneka petani yang sedang bersantap.

Adenium

Seminggu sebelumnya di tempat yang sama juga terjadi pertarungan adenium terbaik di tanahair. Tercatat 39 peserta berkompetisi dalam kelas Grand Prix (GP) Adenium putaran ke-4.  Sementara 63 adenium lainnya bertarung di kelas non-GP. ‘Ada 102 adenium yang membuktikan diri sebagai yang terbaik,’ kata Didik Absa, ketua panitia kontes adenium.

Klasemen GP putaran ke-4 dirajai adenium milik Aldika (Klaten) di kelas A dan ra chine pandok (RCN) milik Bella Jegeg Paser (Bali) di kelas B. Adenium milik Aldika, jawara kelas total performance A. Sedangkan RCN milik Bella, jawara kelas RCN B.  Di putaran sebelumnya keduanya juga merajai klasemen. ‘Keduanya mampu menghadirkan penampilan terbaik, sama seperti di putaran ke-3,’ kata Andi Solviano Fajar.

Kelas yang paling banyak mencuri perhatian hobiis di Kediri adalah kelas unik kreasi dan alami. Maklum, kota Sekartaji itu gudang adenium unik. Toh peserta dari luar kota tetap tak gentar menurunkan jagoan unik di kadang adenium unik. Sebut saja adenium unik bertema ‘ikan mas’ milik Prof. Zudan dari Bekasi.

Keberaniannya turun tak sia-sia, Ia berhasil menjadi jawara kelas unik kreasi. Di posisi ke-2 dan ke-3 menyusul ‘penari di atas karang’ milik Aldika dan ‘ikan cupang’ koleksi Didik Absa (Kediri). Merekalah para juara yang tak kalah istimewa dengan koko di kontes sansevieria atau timnas Timor Leste di ajang Rivelino Cup. (Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software