Kohibora Bersatu Karena Hidroponik

Filed in Komunitas, Majalah by on 15/05/2019

Anggota Kohibora berkumpul di tempat semaian seledri.

 

Mereka bersatu karena hiroponik.

Semula orang-orang itu hanya berkumpul untuk sekadar bertukar pendapat mengenai hidroponik. Harap mafhum mereka alumni pelatihan hidroponik sehingga meminati informasi hidroponik. Total 23 orang itu berkumpul di kebun hidroponik milik Cecep Sudrajat di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor pada 18 Oktober 2018. “Tanpa ada yang memberi aba-aba langsung kami setuju untuk membuat komunitas,” kata Hanny Nabila.

Mereka meyebut Komunitas Hidroponik Bogor Raya (Kohibora) dan mendaulat Hanny Nabila sebagai ketua. Itulah awal mula terbentuknya Kohibora. Sampai kini anggota Kohibora berjumlah 150 orang. Komunitas hidroponik di Bogor itu kerap mengadakan pertemuan resmi sebulan sekali. “Di luar agenda rutin para anggota dapat bertemu dadakan untuk membicarakan sesuatu, berdiskusi semacam seminar kecil,” kata Hanny.

Tiga kelompok

Menurut anggota Kohibora, Renia Darmawan, menjadi anggota komunitas memiliki banyak faedah, terutama bagi yang haus akan informasi hidroponik. Apalagi sebagian besar anggota tidak berlatar belakang pertanian. Contohnya Renia yang berlatar belakang Kimia dan berkecimpung di dunia pendidikan. “Hidroponik itu ternyata menyenangkan dan membuat semakin haus akan ilmu hidroponik,” kata Renia.

Kehausan akan ilmu hidroponik sangat terakomodasi melalui Kohibora. Apalagi Kohibora juga sangat memegang komitmen bahwa semangat untuk menghijaukan kota Bogor lewat hidroponik. Anggota Kohibora terdiri atas berbagai usia, latar belakang pendidikan, dan pengalaman. Di Kohibora banyak pakar dan orang-orang sukses yang berhidroponik.

Anggota Kohibora memanen kale.

Menurut anggota kohibora Yuyun Arifin anggota bisa saling belajar membagi ilmu dan pengalaman juga cara menghadapi masalah hidroponik, dari budidaya hingga pemasaran. Kebanyakan anggota berhidroponik menggunakan beragam sistem antara lain nutrient film technique (NFT), deep flow technique (DFT), rakit apung, dan tetes atau drip. Setiap anggota bebas berkreasi memilih sistem yang sesuai dengan selera masing-masing.

Pelaku hidroponik sistem NFT dan DFT mudah menemukan perlengkapan yang dibutuhkan, hanya menggunakan pipa polivinil klorida (PVC) dan pompa untuk sirkulasi. Panjang talang lazimnya 4 meter. Jarak antarlubang bervariasi tergantung jenis tanaman. Jenis tanaman yang merekah seperti sawi dan caisim jarak antarlubang 25 cm. Namun, untuk tanaman yang tumbuh ke atas seperti kangkung bisa menggunakan jarak lubang 15—20 cm.

Pelaku hidroponik sistem rakit apung membutuhkan wadah yang besar dan benda yang dapat mengapung untuk diletakkan di atasnya. Selain itu, mereka membutuhkan aerator pada sistem rakit apung karena kondisi air yang tidak mengalir. Menurut Renia secara umum anggota kohibora terdiri atas 3 kelompok. Kelompok pertama pehidroponik yang mempunyai greenhouse, lubang tanam banyak, sudah produksi, dan memasarkan ke toko atau swalayan.

Kelompok kedua pehobi hidroponik yang rata-rata pehobi hanya memiliki lahan skala kecil. Mereka menikmati sendiri atau memberikan hasil panen kepada tetangga. Kelompok ketiga pengamat hidroponik. Anggota pengamat belum berhidroponik, mungkin karena kesibukan, biaya, atau tidak punya lahan. Namun, mereka tetap aktif menjadi anggota Kohibora. Ada pula anggota yang berhidroponik tergantung pada pemesanan. “Karena pada prinsipnya kalau asal nanam aja dan tidak ada yang ambil jadi mubazir,” ujar Renia.

Hingga kini Kohibora belum mempunyai lahan khusus untuk digarap bersama. Jenis tanaman yang ditanam antara lain sawi-sawian, kangkung, selada, kale, dan bayam. “Tanaman hidroponik mempunyai jadwal tanam dan panen. Tidak bisa mengikut keinginan pemesan selang 1 hari. Kita juga tidak bisa mengatur anggota menanam jenis komoditas,” kata Hanny. (Bilqis Sinar Rizki Harumingtyas)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software