Koch Lumpuh dalam Pagoda

Filed in Obat tradisional by on 01/03/2010 0 Comments

Pada Maret 2010 genap 128 tahun bakteri Mycobacterium tuberculosis ditemukan. Robert Koch menemukan bakteri batang penyebab tuberkulosis itu pada 24 Maret 1882 yang kini diperingati sebagai hari tuberkulosis (TB). Sebutan tuberkulosis mengacu pada kata tubercle bacili bermakna penyakit di tube alias saluran pernapasan. Indonesia menempati peringkat ke-3 dunia dalam hal jumlah penderita TB setelah Tiongkok dan India.

“Namun, berdasarkan persentase jumlah penduduk dan jumlah penderita, sebenarnya masuk 10 besar pun tidak,” kata dr Tjandra Yoga Aditama SpP, dokter spesialis paru di Cilandak, Jakarta Selatan. Menurut dr Philemon Konoralma SpPD, bakteri tahan asam itu tergolong bakteri oportunis. Mereka kerap menyerang saat tubuh lemah akibat penyakit lain. Kasus serangan sempat berkurang setelah penemuan obat etambutol dan INH. “Kasusnya kembali meningkat setelah HIV/AIDS mewabah,” kata Philemon.

Celakanya bakteri itu juga bisa menyebar ke bagian tubuh lain seperti otak, kelenjar getah bening, ginjal, dan hati. Menurut dr Nyoman Kertia SpPD dari Rumahsakit dr Sardjito, Yogyakarta, tuberkulosis menyebar melalui udara sehingga penularan sangat cepat. Apalagi di tempat yang sedang berjangkit epidemi atau bersanitasi buruk seperti daerah yang baru terkena bencana. “Waspadai batuk berkepanjangan, apalagi yang disertai darah dan sesak napas,” kata Nyoman.

Pagoda

Salah satu cara untuk mengatasi serangan bakteri koch itu adalah mengkonsumsi rebusan daun pagoda Clerodendrum japonicum. Mohammad Hatta Prabowo, periset di Jurusan Farmasi Universitas Islam Indonesia, membuktikan keampuhan pagoda mengatasi TB. Ia tertarik meriset daun pagoda setelah mengetahui masyarakat di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, memanfaatkan daun pagoda untuk mengatasi penyakit akibat infeksi bakteri seperti diare atau tifus.

Pria kelahiran 30 tahun lalu itu melarutkan masing-masing 100 g serbuk kering dalam pelarut petroleum eter dan etanol 70%. Tujuannya untuk menarik zat aktif dalam daun pagoda sesuai tingkat kepolarannya masing-masing. Ia memfraksinasi sesuai kepolaran masing-masing pelarut, mengencerkan, mensterilkan, mencampurkan dengan media agar dan menanamkan bakteri tuberkulosis. Bakteri di cawan petri itu ia simpan pada suhu 37oC selama 6—8 pekan.

Kemudian ia mengamati pertumbuhan bakteri tuberkulosis dengan menghitung jumlah bakteri secara mikroskopis. Pertumbuhan bakteri yang diberi ekstrak daun pagoda berpelarut etanol hanya 2,99%. Artinya daya hambat daun pagoda setara obat jenis ethambutol. Pada riset itu, pertumbuhan bakteri yang diberi ethambutol mencapai 2,35%. Aktivitas penghambatan terbaik ditunjukkan INH, hanya 1,71% bakteri yang tumbuh. Kesimpulannya, “Daun pagoda ampuh memberantas bakteri TB,” kata Hatta.

Lina Mardiana memberikan racikan daun pagoda itu untuk penderita radang paru-paru, gangguan jantung, dan asma. Herbalis di Pathuk, Yogyakarta, itu juga meresepkan daun pagoda untuk mengatasi bau mulut, gangguan pernapasan, dan radang tenggorokan. Ia memberi tambahan kayumanis dan cengkih dan mengemasnya menjadi pil. “Akar, daun, dan bunga semua berkhasiat obat,” kata Lina. Pembuatan pil untuk mempermudah pasien mengkonsumsinya.

Untuk mengatasi radang paru-paru, Lina menganjurkan pasien untuk mengkonsumsi 2 pil daun pagoda 3 kali sehari. Masyarakat di Tiongkok menguyah bunga segar pagoda untuk mengobati kencing berdarah. Sedangkan untuk mengobati nyeri persendian, mereka menempelkan bunga yang telah dilumatkan sebagaimana dipublikasikan dalam Plant Resources of South East Asia.

Resistensi

Pagoda anggota famili Verbenaceae menjadi harapan bagi pasien tuberkulosis. Tanaman itu relatif mudah diperoleh dan terbukti secara ilmiah antituberkulosis. Sebelumnya meniran Phyllantus niruri juga terbukti secara klinis sebagai obat TB. Malahan meniran diuji klinis di 9 rumahsakit melibatkan 60 penderita TB berusia 15—55 tahun. “Jumlah bakteri tahan asam (BTA, salah satu indikator seseorang terserang TBC, red) pasien yang diberi meniran berkurang nyata pada minggu pertama,” kata dr Zulkifli Amin PhD FCCP yang menguji klinis meniran sebagai antituberkulosis.

Penemuan herbal anti-TB itu sangat menggembirakan lantaran penggunaan obat sintesis seperti isoniazid alias INH, rifampisin, pirazinamid, streptomisin, atau ethambutol menimbulkan beragam efek samping. Efek samping itu antara lain rasa mual, gangguan pencernaan, demam, dan gangguan fungsi hati. Apalagi kebiasaan masyarakat Indonesia yang menghentikan konsumsi obat saat sudah merasa sembuh menyebabkan efek lain: resistansi. Artinya pengobatan selanjutnya perlu dosis lebih tinggi.

Untuk menanggulangi TB Indonesia mengeluarkan biaya setengah triliun rupiah. Per 100.000 penduduk, jumlah penderita TB memang menurun dari 239 orang menjadi 234 orang pada 2007. Namun, lantaran jumlah penduduk terus meningkat, akumulasi penderita TB juga melonjak dari 532.000 orang menjadi 535.000 pasien. Agar pasien tak makin meningkat, manfaatkan pagoda yang terbukti tokcer mengatasi tuberkulosis. Bakteri koch pun terpenjara dalam pagoda. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software