Kisah Sukses 45 Petani Muda

Filed in Majalah, Topik, Uncategorized by on 01/10/2019

Petani di Indonesia sebagian besar berusia lebih dari 45 tahun.

Sebanyak 45 pemuda memutuskan untuk terjun di dunia pertanian. Mereka hadir di saat jumlah petani muda di titik nadir.

Pada usianya yang 77 tahun, Dahlan masih mondar-mandir ke kebun untuk merawat 100 pohon jeruk dekopon miliknya. Pria asal Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu sejatinya lelah mengurus kebun. Namun, mencari tenaga kerja sekadar untuk memupuk, membabat gulma, dan menyemprotkan pestisida begitu sulit di daerahnya. “Anak muda sekarang lebih memilih menjadi tukang ojek dari pada menjadi petani,” tuturnya.

Akibatnya ia tidak optimal merawat kebun. Rumput-rumput dibiarkan tumbuh tinggi mengepung pohon jeruk. Itu salah satu pertanda bila krisis petani dan tenaga kerja tani muda melanda dunia pertanian kita. Fakta itu memperkuat data Sensus Pertanian 2003 dan 2013. Pada kurun waktu itu jumlah rumah tangga tani berkurang sebanyak lima juta rumah tangga. Permasalahan lain, sebagian besar petani berusia tua.

Program pemerintah

Berdasarkan data Sensus Pertanian 2013, sebanyak 60,8% usia petani lebih dari 45 tahun. Dari jumlah itu, 73,97% di antaranya berpendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD). Akses mereka terhadap teknologi pun rendah. “Keberlanjutan sektor pertanian menghadapi ancaman yang serius,” kata dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr. Iwan Setiawan, SP., M.Si.

Regenerasi petani muda sangat penting untuk masa depan pertanian Indonesia.

Jika jumlah petani semakin berkurang, lantas siapa yang memproduksi pangan? Padahal, jumlah penduduk terus bertambah, kebutuhan pangan terus meningkat seiring bertambahnya penduduk. Itulah sebabnya regenerasi petani di Indonesia sangatlah penting. Sayangnya di mata sebagian besar pemuda menjadi petani adalah profesi yang tak membanggakan. Bahkan, banyak petani melarang anak-anaknya mengikuti jejaknya ketika dewasa kelak.

Mereka lebih suka anaknya menjadi karyawan daripada bekerja di ladang dan sawah. Bersyukur pemerintah menyadari kondisi memprihatinkan itu. Itulah sebabnya Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menyelenggarakan program kegiatan Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) pada 2016.

Menurut Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP, Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P., tujuan program itu untuk mendorong mahasiswa menjadi wirausahawan di bidang pertanian. Dalam kegiatan itu mahasiswa menjadi sasaran utama karena sebagian besar lulusan perguruan tinggi cenderung lebih memilih sebagai pencari kerja daripada pencipta lapangan kerja. Sarjana pertanian yang bekerja di sektor pertanian juga semakin sedikit.

“Jika dibiarkan dalam jangka panjang jumlah tenaga kerja terdidik yang bekerja di sektor pertanian bakal terus menurun,” tuturnya. Dalam program itu BPPSDMP menggandeng 7 perguruan tinggi, yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjajaran, Universitas Lampung, Universitas Syah Kuala (Aceh), Universitas Hasanuddin, Universitas Brawijaya, dan 9 sekolah tinggi penyuluhan pertanian di bawah koordinasi Kementerian Pertanian.

Program yang dimulai sejak 2016 itu berlangsung selama tiga tahun. Pada tahun pertama para peserta masuk dalam tahap penyadaran dan penumbuhan. Pada tahap penyadaran BPPSDMP melakukan persiapan, sosialisasi, dan seleksi. Peserta terpilih lalu memperoleh materi pembekalan dan penyusunan rencana bisnis. Pada tahap penumbuhan para peserta mulai melakukan kegiatan wirausaha dan memperoleh pendampingan.

Keluarga

Pada tahun kedua, para peserta masuk ke tahap kemandirian. Para peserta PWMP melanjutkan wirausaha rancangannya, mengevaluasi usaha, serta merencanakan pengembangan usaha. Peserta juga memperoleh bimbingan teknis jaminan mutu produk, pendampingan, dan temu inovasi wirausaha muda pertanian. Selain itu para peserta juga memperoleh bimbingan pengembangan jejaring usaha, pendampingan, dan pemberian penghargaan. Menurut Idha hingga kini sudah 1.015 kelompok wirausaha muda terpilih menjadi peserta program.

Regenerasi petani muda tentu saja bukan tanggung jawab pemerintah semata. Menurut Iwan Setiawan, dukungan keluarga salah satu faktor utama yang mendorong para petani muda terlibat di bidang agribisnis. Banyak petani muda berlatar belakang pendidikan nonpertanian. Orang tua tentunya berharap agar sang anak memilih profesi sesuai pendidikan yang ditekuni. Oleh karena itu, perlu dukungan kuat hingga akhirnya para pemuda teguh untuk bertani.

Itulah sebabnya salut bagi para pemuda yang bangga memilih dunia pertanian sebagai sumber pendapatan. Trubus menemui para petani muda di berbagai daerah di Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, pada edisi Oktober 2019, Trubus berbagi kisah mereka sejak memulai hingga sukses berwirausaha tani. Segmen usaha yang mereka geluti beragam, ada yang fokus di bidang budidaya, pengolahan, dan pemasaran. Semoga kisah mereka menjadi inspirasi masa depan dunia pertanian di tanah air. (Imam Wiguna)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software