Kisah Sahih Siwak

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 17/06/2019

Batang siwak terbukti ampuh membantu menjaga kesehatan gigi.

Namanya melegenda karena melintasi berbagai zaman dan amat sohor di seantero dunia. Namun, amat sedikit orang Indonesia yang pernah melihat sosoknya. Itulah siwak Salvadora persica. Masyarakat Muslim mengetahui nama siwak karena acap disebut-sebut dalam hadis. Nama genus Salvadora untuk menghargai ahli botani Spanyol, Joan Salvador Bosca (1598—1681). Sementara itu nama persica mengacu pada Persia.

Tanaman siwak yang tumbuh di Duta Wisata Kebun Kurma di Pasuruan, Jawa Timur.

Pantas ketika melihat sosok tanaman siwak, banyak yang takjub. “Ini tanaman siwak ya, Pak?” tanya seorang pengunjung Duta Wisata Kebun Kurma. Wartawan Trubus Riefza Vebriansyah menyambangi kebun di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, ketika pertanyaan itu muncul. Pengelola kebun meletakkan papan nama bertuliskan “Siwak” di dekat tanaman semak itu. Tinggi tanaman 1 meter dan batang seukuran jempol tangan.

Anggota tim budidaya Duta Wisata Kebun Kurma, Masrum dan Fathurrozi, yang menemani Trubus mengatakan, tanaman semak itu hasil penanaman pada 2016. Duta Wisata menanam 200-an bibit siwak, sembilan di antaranya gagal tumbuh. Kehadiran tanaman siwak di kawasan agrowisata itu membangkitkan rasa ingin tahu pengunjung. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO) kawasan Arab Saudi dan negara-negara lain di jazirah Arab habitat yang baik untuk pertumbuhan siwak.

Arak—sebutan lain siwak—juga tumbuh baik di kawasan tropis di Benua Afrika, India, dan Srilanka. Para pedagang perlengkapan Muslim di Indonesia kerap menjajakan batang atau akar tanaman itu. Masyarakat menggunakan batang siwak untuk menjaga kesehatan gigi. Caranya dengan mengupas kulit di bagian ujung akar atau batang kecil siwak, lalu menggosokkannya ke permukaan gigi.

Batang siwak yang lurus yang dipanen untuk dijual sebagai pembersih gigi.

Menurut anggota staf pengajar di Departemen Botani dan Mikrobiologi King Saud University di Riyadh, Arab Saudi, Hassan Sher, warga Arab Saudi bisanya memanfaatkan hampir seluruh tanaman siwak. Masyarakat mengonsumsi buah siwak dalam bentuk segar, olahan, atau buah kering. Bentuk buah siwak mirip bluberi. Mereka juga mengonsumsi daun siwak yang diolah menjadi saus, salad, atau tumis seperti sayuran hijau.

Bunga siwak juga sohor sebagai sumber nektar yang baik. Itulah sebabnya masyarakat suku Badui di Arab Saudi kerap memelihara lebah di sekitar hamparan tanaman miswak—nama lain siwak. Mereka percaya madu dari bunga siwak lebih berkhasiat dibandingkan dengan madu dari bunga tanaman lain. Masyarakat kerap memanfaatkan daun siwak muda sebagai pakan ternak, seperti unta, sapi, kambing, dan domba.

Menurut Hassan daun siwak sumber pakan yang baik karena berkadar air tinggi, yakni mencapai 15—36%. Mereka juga percaya pakan dari daun siwak dapat meningkatkan jumlah air susu dan memacu pertumbuhan sapi. Masyarakat Arab Saudi juga menggunakan akar dan cabang kecil siwak untuk menjaga kesehatan gigi. Menurut Masrum kini memakai siwak menjadi gaya hidup anak muda Arab Saudi.

“Pemuda di sana lazim menggunakan siwak yang berukuran lebih ramping dan tipis daripada yang digunakan orang tua,” kata Masrum yang pernah bekerja di Arab Saudi pada 1989. Kebiasaan warga Arab itu berlangsung sejak ribuan tahun silam. Nabi Muhammad SAW mengabarkan faedah siwak untuk kesehatan gigi pada 15 abad silam. Imam Al Bukhari dan An Nasai meriwayatkan hadis, Aisyah radiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Bersiwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan rida Tuhan.”

Nabi Muhammad bahkan menganjurkan agar membersihkan gigi dengan siwak setiap kali akan berwudu atau salat. Imam Al Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudu.” Itulah sebabnya bagi umat Islam menggosok gigi dengan batang siwak ibarat sebuah keutamaan.

Batang siwak hasil panen dari kebun Duta Wisata Kebun Kurma di Pasuruan.

Faedah dan keutamaan itulah yang mendorong sang pemilik Duta Wisata Kebun Kurma menanam siwak pada 2016. Saat itu Masrum menanam sekitar 200-an bibit siwak tinggi sejengkal tangan dewasa dan berdaun 15 helai. Ia memperoleh bibit siwak dari seorang kawan asal Kabupaten Gresik, Jawa Timur. “Kemungkinan bibit siwak itu berasal dari luar negeri,” kata Masrum.

Masrum menanam siwak pada media tanam berupa kompos. Tinggi media tanam 10—20 cm. Ia lalu menaburkan pasir di permukaan media tanam agar menyerupai suasana habitat aslinya di kawasan Timur Tengah. “Penutupan dengan pasir juga mencegah pertumbuhan rumput. Area sekitar tanaman juga tidak becek saat disiram,” tambahnya. Siwak ternyata adaptif di Pasuruan meski ditanam sangat rapat, yakni jarak tanam 10 cm.

Masrum menuturkan pertumbuhan tanaman lebih optimal bila jarak tanam renggang. “Jarak tanam sebaiknya 50 cm,” kata pria kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, itu. Menurut FAO tanaman siwak adaptif di kawasan tropis dan subtropis berketenggian hingga 1.800 meter di atas permukaan laut (m dpl). Tanaman itu tumbuh paling baik di daerah bersuhu 15—30ºC atau 12—42ºC dan bercurah hujan 300—700 mm per tahun, bahkan 200—1.500 mm per tahun.

Fathurrozi hanya mengandalkan pupuk Urea sebagai sumber nutrisi. Ia memberikan 500 g Urea per tanaman setiap 3 bulan. Pada 2017 Masrum memanen batang siwak sekaligus pemangkasan karena tanaman terlalu rimbun. Yang dipanen hanya batang siwak yang lurus. Ia lalu memotong batang hingga berukuran 10 cm, kemudian mengeringanginkannya selama sepekan.

Warga Arab Saudi terkadang mengonsumsi daun siwak sebagai sayuran.

Selanjutnya Marsum mengerik kulit ari siwak menggunakan pisau, lalu mengemasnya dalam plastik. Fathurrozi menuturkan setiap 3 bulan menghasilkan sekitar 1.500 batang siwak panjang 10 cm. Ia menjual batang siwak itu di toko oleh-oleh Duta Wisata Kebun Kurma. Ia pernah menjual 3.000 batang siwak ke salah satu pesantren di Pandaan, Pasuruan. Masrum juga memperbanyak siwak dengan cara cangkok pada 2017.

Faedah siwak untuk menjaga kesehatan gigi bukan sekadar adat yang diwariskan turun-temurun atau sebuah perintah agama. Hassan Sher membuktikan siwak sebagai antibakteri. Dalam penelitian itu Hassan menguji siwak terhadap bakteri yang berkembang di mulut manusia. Ia mengumpulkan 45 sampel mikrob dari pasien dewasa di Klinik Gigi Rumah Sakit King Khalid, Riyadh.

Daun muda siwak kerap dimanfaatkan warga Arab Saudi untuk pakan ternak ruminansia.

Hassan lalu mengidentifikasi jenis bakteri dari setiap sampel. Dari jumlah itu 11,59% di antaranya adalah bakteri Staphylococcus aureus, 5,02% S. mutans, 5,97% Lactobacillus acidophilus, dan 3,2% Pseudomonas aeruginosa.

Tahap berikutnya Hassan mempersiapkan ekstrak akar siwak. Ia mencacah akar siwak hingga berukuran mungil, lalu mengeringkannya. Cacahan akar kering lalu dihancurkan hingga menjadi bubuk. Kemudian Hassan mengekstrak akar siwak dengan cara melarutkan 500 g bubuk akar siwak ke dalam air dan metanol. Masing-masing hasil ektrak lalu dikeringkan menggunakan pengering beku hingga menjadi serbuk.

Dalam penelitian itu Hassan menggunakan ekstrak akar siwak dalam berbagai konsentrasi, yaitu 300 mg/ml hingga 18,75 mg/ml. Ia meneteskan 20 mikroliter larutan ekstrak pada cakram berisi media agar yang mengandung bakteri. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak air kayu siwak aktif menghambat semua bakteri mulut. Daya hambat paling kuat terhadap bakteri jenis S. aureus.

Ektrak air siwak mampu menghambat perkembangan bakteri S. aureus hanya dengan konsentrasi 2,49 mg/ml air. Namun, daya hambat terhadap P. aeruginosa cukup lemah. Ekstrak air siwak baru bisa menghambat perkembangan bakteri dengan minimal inhibitory concentration (MIC) 7,31 mg/ml. Dalam penelitian itu juga terungkap bahwa aktivitas antibakteri ekstrak air siwak lebih kuat ketimbang ekstrak metanol. Ektsrak metanol siwak baru mampu menghambat perkembangan bakteri S. aureus pada konsentrasi 5,13 mg/ml.

Penelitian faedah siwak untuk kesehatan gigi juga mulai banyak dilakukan di tanah air. Periset di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah, Setiawati Maharani, meriset ekstrak siwak untuk mengontrol pertumbuhan cendawan patogen Candida albicans. Cendawan itu penyebab 85—95% kasus infeksi kandidiasis oral. Infeksi cendawan itu menyebabkan lesi putih pada permukaan lidah dan dinding pipi bagian dalam.

Aneka inovasi pembersih gigi dan mulut yang menggunakan bahan baku siwak.

Hasil penelitian menunjukkan, kelompok sampel yang diberi larutan ekstrak siwak berkonsentrasi 3,1%, 6,2%, 12,5%, dan 25% masih tampak adanya pertumbuhan koloni C. albicans meski tak sebanyak kelompok kontrol. Larutan ekstrak siwak dengan konsentrasi 50% merupakan konsentrasi paling efektif dalam menghambat pertumbuhan C. albicans. Siwak juga terbukti secara ilmiah mampu menghambat pembentukan plak gigi.

Plak yang menempel pada gigi menyediakan nutrisi bagi bakteri untuk tumbuh. Plak juga menyebabkan kondisi asam pada permukaan gigi. Jika dibiarkan enamel gigi akan larut dan menimbulkan karies atau gigi berlubang. Faedah itu terbukti dalam penelitian Paramitha Adriyati dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Paramitha menguji klinis terhadap 60 santri pondok pesantren Qosim Al Hadi di Mijen, Semarang.

Masrum (kiri) dan Fathurrozi, tim budidaya Duta Wisata Kebun Kurma.

Hasil penelitian menunjukkan larutan ekstrak siwak berkadar 5%, 10%, dan 25% dengan alkohol sebagai pelarut, menghambat pembentukan plak gigi. Itu terlihat pada skor plak ketiga kelompok perlakuan lebih rendah daripada kelompok kontrol. Hasil penelitian juga menunjukkan, ekstrak siwak paling efektif menghambat pembentukan plak gigi berkadar 25%. Makin tinggi kadar larutan ekstrak siwak, kian ampuh mengikis plak. Kisah siwak menjaga kebersihan mulut dan gigi terbukti sahih alias benar, sempurna, dan tiada cela.

Ekstrak siwak multifaedah karena kaya kandungan kimia seperti β-sitosterol dan asam m-anisat, khlorida, salvadourea, beragam senyawa organik seperti pyrrolidine, pyrrole, dan piperidine, glikosida (salvadoside dan salvadoraside), kaempferol, kuersetin, kuersetin rutin, dan kuersetin glukosida. Riset lain membuktikan akar dan batang siwak juga kaya alkaloids seperti salvadorine dan trimethylamine, khlorida dan fluoride, sulfur, vitamin C, tanin, saponin, flavonoid, dan sterols.

Keampuhan siwak itulah yang mendorong PT Miswak Utama di Surabaya, Jawa Timur, memproduksi pasta gigi yang mengandung siwak sejak 1992. Menurut manajer produksi PT Miswak Utama, Jamilah Bawazier, inovasi itu untuk memudahkan konsumen meraih manfaat siwak. “Selama ini pemakaian kayu siwak sering kali kurang higienis. Setelah digunakan, ujung batang siwak tidak dipotong, tapi digunakan terus-menerus. Dalam bentuk pasta gigi pemakaian siwak menjadi lebih higienis dan praktis,” tuturnya.

Apalagi proses produksi pasta gigi di PT Miswak Utama telah memperoleh setifikat ISO 9001:2000. Sertifikat itu diberikan kepada perusahaan yang memiliki sistem manajemen mutu yang memenuhi standar internasional. PT Miswak Utama mengimpor bahan baku kayu siwak langsung dari Arab Saudi. Perusahaan itu menghaluskan batang kayu itu lalu mencampur dengan bahan-bahan pasta gigi. Kini produk pasta gigi yang mengandung siwak mulai banyak bermunculan. Produk berbahan siwak pun semakin beragam. Ada juga produsen larutan pencuci mulut yang mengandung ekstrak siwak. Warisan budaya dari tanah Arab sejak ribuan tahun silam itu makin lestari meski zaman sudah berganti. (Imam Wiguna/Peliput: Riefza Vebriansyah)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software