Kisah “Lelaki” Penyendiri

Filed in Uncategorised by on 01/10/2012 0 Comments

Ia hidup sendiri, tanpa ada siung lain menyertai.

Banyak kepala menggeleng tanda tidak tahu saat Trubus bertanya tentang bawang lanang. Sosoknya tak dikenal padahal riset menunjukkan faedahnya begitu beragam. Riset oleh KK. Al Qattan dan rekan dari Jurusan Biologi Universitas Kuwait, misalnya, membuktikan bawang lanang berfungsi sebagai antihipertensi.

Apa itu bawang lanang? Sejatinya bawang lanang ialah bawang putih Allium sativum. Namun, karena berbagai sebab ia tidak bisa tumbuh membentuk umbi bawang yang tersusun dari 10-15 siung. Ia tumbuh tunggal. Dari sosoknya itu muncullah sebutannya: bawang lanang.

Penyebutan lanang (bahasa Jawa: lelaki) seringkali dipakai untuk menggambarkan kondisi tertentu di umbi atau biji dengan kriteria tunggal, bulat, dan tidak terbelah. Contohnya kopi lanang, yaitu biji kopi Coffea spp berbentuk bulat agak besar dan tidak terbelah. Nama lanang pada bawang lanang juga mengacu pada bentuk umbi yang tunggal seperti skrotum, bagian dari organ kelamin pada mamalia jantan.

Lapisan ke-3

Umbi lanang pada tanaman anggota keluarga Liliaceae itu hanya menjadi milik bawang putih Allium sativum. “Bawang lain tidak. Contohnya bawang merah yang selalu membentuk siung baru saat siung lain membesar,” kata Ir Sartono Putrasamedja, peneliti bawang dari Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) di Lembang, Bandung, Jawa Barat.

Penelitian yang menjelaskan proses terbentuknya bawang lanang nyaris tidak ada. Pada 1982 Sartono pernah melakukan percobaan untuk mengetahui persentase terjadinya bawang lanang  di daerah Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Sartono memakai varietas lembu hijau dari wilayah Batu, Jawa Timur, dengan tiga macam perlakuan. Kelompok pertama, Sartono menanam bawang putih dengan bibit berupa siung di lapisan pertama; kelompok kedua siung lapis kedua; dan kelompok ketiga, siung lapis ketiga. Percobaan itu dilakukan di lahan 100 m2 dengan jarak tanam 5 cm x 5 cm.

Hasilnya? Setelah 84 hari pemeliharaan, bibit asal siung lapisan pertama menghasilkan 100% umbi bawang putih biasa dengan banyak siung. Siung lapisan kedua menghasilkan 95% umbi bawang putih biasa dan 5% bawang lanang. Sementara pada penanaman siung lapisan ketiga persentase kehadiran bawang lanang mencapai 90%.

Sartono menduga kondisi ekstrem yang terjadi pada saat penanaman turut mempengaruhi tingginya tingkat kejadian bawang lanang. Pada saat tanaman berumur 80 hari Gunung Galunggung meletus menyebabkan lingkungan tanam kering dan dihujani abu letusan gunung di Garut, Jawa Barat, itu. Kondisi kering itu mengingatkan Sartono pada kondisi di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang cukup banyak menghasilkan bawang lanang. “Hipotesis sementara adalah bawang lanang terbentuk karena kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan,” kata Sartono.

Diproduksi massal

Faktor lain, bibit. Percobaan Sartono memakai umbi bawang putih lapisan ketiga menunjukkan persentase terbesar kemunculan bawang lanang. Sartono menduga itu lebih karena siung dilapis ketiga berukuran lebih kecil, sehingga cadangan makanannya sangat terbatas. Kondisi terbatas itu membuat suing menekan pembentukan siung baru supaya tidak terjadi perebutan nutrisi untuk proses pembesaran. Namun, karena sedari awal ia ditanam dengan kondisi “kekurangan”, saat panen ukurannya tidak bisa besar, kira-kira sebesar kelereng. Umbi normal bisa sebesar bola bekel.

Menurut Dr Ir Dini Diniarti MSi dari jurusan Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, di negeri yang memiliki iklim 4 musim, seperti Eropa, persentase kejadian bawang lanang justru bisa di atas 95%. Dini menjelaskan di negara 4 musim bawang putih tunggal didapat dari hasil penanaman bulbil. Bulbil merupakan hasil translokasi fotosintesis yang semestinya menjadi jatah bunga, tetapi karena faktor suhu dan panjang sinar matahari beralih menjadi umbi. “Satu tanaman bisa menghasilkan 30-300 bulbil,” kata Dini.

Dengan memanfaatkan bulbil pula petani di Provinsi Yunnan, China, bisa memproduksi single clove garlic-nama dagang internasional bawang lanang-secara besar-besaran. Dengan asupan pupuk organik, umbi tumbuh subur sampai mencapai garis tengah 3-4 cm. Pekebun di tanahair bolehlah mencoba memproduksi massal “lelaki penyendiri” itu menggunakan suing dari lapisan ketiga bawang putih. (Dian Adijaya S/Peliput: Desi Sayiddati dan Muhammad Khais Prayoga)

Keterangan Foto :

  1. Bawang putih tunggal muncul di lingkungan tanam yang ekstrem
  2. Dr Ir Dini Diniarti Msi
  3. Jumlah produksi bawang lanang sedikit. Dari 1 ton panen bawang putih hanya didapat 5-6 kg bawang lanang
  4. “Dengan umbi lapisan ketiga, presentase bawang lanang mencapai 90%,” kata Ir Sartomo Putrasamedja
 

Powered by WishList Member - Membership Software