Kisah Pedang nan Lezat

Filed in Sayuran by on 01/07/2009 0 Comments

Di meja itu terhidang 7 jenis penganan seperti tempe goreng, pisang goreng, dan tahu isi. sri suparjini, sang tuan rumah, menyajikan 120 potong tempe di beberapa piring. dalam sekejap tempe-tempe itu habis tersantap. ‘rasanya lebih gurih,’ ujar suryani, seorang tamu.


Sri Suparjini, herbalis di Kulonprogro, Yogyakarta, menyajikan tempe yang tak biasa. Lazimnya penganan tradisional itu terbuat dari kedelai. Namun, Sri Suparjini mengolah tempe asal biji kara pedang Canavalia ensiformis. Kini kian banyak produsen yang membuat tempe asal kara pedang. Dr Ir Enny Harmayani MSc dari Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada mengatakan kara pedang cocok sebagai bahan baku tempe. ‘Kara pedang sumber protein nabati yang potensial untuk bahan baku susu, tahu, dan tempe,’ kata Enny.

Kandungan protein kara pedang mencapai 27,4%, kedelai 35%, kacang tanah 23%. Edeh Rodiah, produsen tempe di Desa Cintamekar, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, 1,5 tahun terakhir rutin memproduksi tempe berbahan baku kara pedang. Dari sisi pemasaran, tempe kara pedang bukan masalah. Konsumen bisa menerima kehadiran tempe ‘baru’ itu. Setiap pekan Edeh memproduksi 60 kg tempe – yang didapat dari 100 kg kara pedang. Ia membuat tempe pada Ahad dan Rabu yang dipasarkan pada Senin dan Kamis.

Obat kanker

Dibanding ukuran kedelai, biji kara pedang memang relatif besar. Satu kilogram terdiri atas 740 biji setara dengan 37 – 74 polong. Sebuah polong rata-rata terdiri atas 10 – 20 biji. Oleh karena itu produsen tempe memotong-motong biji kara pedang menjadi 2 – 3 bagian. Pemotongan itu dilakukan setelah kara pedang direndam semalam. Tujuannya untuk mengendapkan zat toksik yang terkandung dalam biji seperti kholin, asam hidrozianine, dan trogonelin.

Kara pedang juga mengandung senyawa con-canavalia A. Industri farmasi memerlukan senyawa itu sebagai obat kanker. Astanto Kasno, ahli kara dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, mengatakan senyawa canavalin B , enzim urease, asam amino canavalin, dan kandungan protein tinggi digunakan industri farmasi sebagai bahan kosmetik dan pangan.

Produsen tempe dan tahu yang memanfaatkan kara pedang cukup banyak. Di Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah, Heru Triyanto rutin memasok kara pedang kepada 4 produsen tempe. Heru memperoleh kara pedang dari pengepul di Madura dan Situbondo – keduanya di Provinsi Jawa Timur – serta Bandarlampung. Heru memasok 58 ton sebulan. ‘Permintaan lebih dari 100 ton,’ katanya.

Selain sebagai bahan baku tempe, kara pedang juga menjadi bahan pembuatan tahu, susu, dan campuran abon. Beberapa industri mengolah kara pedang sebagai camilan. Kulit ari biji kara pedang sumber protein dalam pakan ternak. Karena multifungsi, banyak orang menyebut-nyebut kara pedang sebagai substitusi kedelai. Maklum, impor kedelai Indonesia mencapai 1,2-juta ton setahun. ‘Kara pedang potensial mengurangi devisa impor kedelai kita,’ ujar RM Purwadi yang kekurangan pasokan kara pedang berton-ton.

Dua jenis

Kara pedang yang kini digadang-gadang sebagai substitusi kedelai itu sejatinya bukan komoditas baru. Pada 1970 – 1980 kara pedang banyak ditanam di pekarangan. Namun, saat itu hampir tak pernah dikebunkan secara komersial. Baru pada 2006 hingga kini, para pekebun di berbagai daerah seperti Kabupaten Bandung, Garut, Lampung Tengah membudidayakan kara pedang.

Disebut kara pedang lantaran bentuknya seperti pedang dengan panjang 30 cm. Ada juga yang menyebut kara bendo dan kacang parang. Embel-embel bendo, parang, atau pedang – semua alat potong – mengacu pada bentuk polong. Sebutan lain adalah kara dongkrak. Sebab, polongnya tegak lurus menyentuh permukaan tanah, mirip dongkrak. Namun, sebutan yang paling lazim adalah kara pedang. Bahkan masyarakat Perancis pun menyebutnya pois sabre (pois = kacang, sabre = pedang).

Menurut Astanto Kasno ada 2 jenis kara pedang. Yang pertama kara pedang tegak Canavalia ensiformis yang berbiji putih. Masyarakat internasional menyebutnya jackbean. Sedangkan kara pedang Canavalia gladiata tumbuh merambat. Tipe kedua sohor sebagai swordbean yang berbiji merah. Yang kini banyak dibudidayakan oleh para pekebun adalah kara pedang tipe tegak berbiji putih.

‘Kara pedang memiliki daya adaptasi yang luas di lahan kering masam, mudah dibudidayakan secara tunggal atau tumpangsari, cepat menghasilkan, mengandung protein tinggi,’ kata Astanto. Tanaman anggota famili Leguminoceae itu adaptif di dataran rendah hingga 2.000 m di atas permukaan laut. ‘Ditanam di lahan marginal, kara pedang tetap tumbuh,’ ujar Ir Kankan Cukanda Abdurrahman, pekebun di Cijapati, Kabupaten Bandung.

Pada umur 4 bulan, kara panen perdana. Panen kedua dan ketiga dengan interval sebulan. Total jenderal pekebun memanen 5 – 6 ton kering per ha. Usai panen ketiga pada umur 6 bulan, pekebun mencabut tanaman. Beberapa perusahaan besar seperti PT Great Giant Pineapple yang mengebunkan nanas, menghancurkan tanaman kara muda – sebelum berproduksi – sebagai sumber nitrogen. (Sardi Duryatmo/Peliput: Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software