Kiat Tanam Bayam Jepang

Filed in Majalah, Sayuran by on 19/06/2019

Daya kecambah benih impor mencapai 85%.

 

Benih, media tanam, dan waktu penyiraman kunci sukses budidaya horenso.

Henry Soetrisno membudidayakan horenso sejak 2017.

Henry Soetrisno rutin memanen 60—70 kg horenso di lahan 60—70 m². Artinya 1 m menghasilkan minimal 1 kg Spinacia oleracea. Lalu Henry mengepak horenso dalam kemasan berbobot 250 gram dan menjualnya Rp10.000 atau Rp40.000 per kg. Harga itu tergolong tinggi tapi sepadan karena Henry membudidayakan horenso secara organik. Meski organik, ia selalu berupaya menjual bayam jepang—sebutan lain horenso—yang berpenampilan mulus.

Lazimnya penampilan sayuran tanpa cacat berkat penyemprotan pestisida. Henry mengandalkan pestisida nabati untuk mencegah serangan hama. “Hanya beberapa tanaman yang terserang hama,” kata Manajer Villa Biru Farm di Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Ia menghasilkan horenso organik yang relatif mulus dengan cara itu. Syarat lain horenso permintaan konsumen yaitu tanaman setinggi 20—25 cm.

Media tanam

Tiga pemasok langganan mendistribusikan horenso produksi Villa Biru Farm ke beberapa pasar swalayan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Henry membudidayakan horenso di lahan 400 m² yang terdiri atas 3 rumah tanam tanpa dinding. Henry pernah menanam sayuran daun asal Jepang itu tanpa naungan. Hasilnya tanaman tidak bisa dipanen karena rusak akibat hujan deras. Apalagi lokasi kebun Henry di daerah bercurah hujan tinggi.

Pasar menghendaki horenso organik yang berpenampilan mulus.

Luas penanaman horenso saat ini 4 kali lipat lebih luas. Semula pria kelahiran Jember, Jawa Timur, itu menanam horenso di lahan 100 m2 pada 2017. Ia tertarik membudidayakan sayuran introduksi itu karena permintaan konsumen. Henry menggunakan benih impor dari Jepang lantaran daya kecambahnya relatif tinggi 85%, sedangkan benih lokal maksimal 60%. Menurut Henry tempat ideal menanam horenso yang berelevasi lebih dari 500 meter di atas permukaan laut (m dpl). Horenso bisa tumbuh di lahan berketinggian tempat kurang dari 500 mdpl, tapi tidak optimal. Selain benih, kunci sukses lain bertanam horenso yaitu media tanam. “Saya menggunakan campuran tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang terfermentasi urin kelinci dengan perbandingan 1:1,” kata pria berumur 58 tahun itu.

Rumah tanam bernaung diperlukan agar hasil panen horenso bagus.

Setelah ketiga media tanam tercampur, ia membuat bedengan setinggi 20 cm dengan panjang menyesuaikan lahan. Selanjutnya Henry menyiram bedengan hingga basah. Lalu ia membuat lubang tanam dengan jarak tanam 10 cm. Setiap lubang tanam berisi 3—5 benih horenso. Penyiraman berikutnya ketika tanaman berdaun 2 dan media tanam kering. Penyiraman seperlunya hingga akar kecil dapat menyerap air. Waktu penyiraman pun mesti tepat yakni pada pukul 17.30—18.00. Di luar waktu itu ia gagal memanen horenso.

Menurut anggota staf pengajar Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Endah Budi Irawati, S.P., M.P., tidak ada yang spesifik pada budidaya horenso. Endah mengatakan, “Horenso tumbuh bagus di bawah rumah plastik.” Tujuannya menghindari hujan deras. Tidak ada pemupukan susulan karena nutrisi pada media tanam memadai. Henry memanen horenso 5—6 pekan setelah tanam. Kesuksesan Henry mengembangkan tanaman kerabat jengger ayam Celosia cristata itu penuh perjuangan.

Ceruk pasar tinggi

Ia gagal memanen horenso pada 4 siklus penanaman pertama karena tanaman mati. Barulah pada penanaman kelima ia berhasil memanen dan menjual horenso. Endah mengatakan kelebihan budidaya organik antara lain menghasilkan produk tanaman yang bebas pestisida serta menjaga kualitas tanah secara fisik, kimia, dan biologi. Selain itu budidaya organik meningkatkan aktivitas organisme menguntungkan bagi tanaman. Menurut Henry kebutuhan horenso organik di Jabodetabek belum terpenuhi.

Kapasitas produksi Villa Biru Farm hanya mengisi 40% ceruk pasar. Pemilik pasar daring (online) sayuran segar organik Bali Pick Fresh, I Gede Sucahya Jaya, menuturkan, “Permintaan horenso tinggi, sayang pekebunnya tidak banyak,” kata Henry. Peluang mendulang laba horenso pun terbuka lebar. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software