Kiat Kerek Produksi Cabai

Filed in Fokus by on 15/02/2016
Kualitas cabai prima disukai konsumen di pasar.

Kualitas cabai prima disukai konsumen di pasar.

Pemilihan pupuk dan benih yang tepat meningkatkan produksi cabai.

Senyum terkembang saat Ni Luh Putu Suariani memperhatikan deretan angka di buku panjang bersampul batik di tangannya. Petani di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, itu tidak dapat menyembunyikan rasa gembira saat mengetahui kenaikan hasil produksi cabai. Setiap kali usai panen, ia memang menimbang dan menuliskan hasil panen di buku catatan.

“Hasil cabai pada musim panen Desember 2015 mencapai 350 kg. Naik cukup banyak dibanding pada masa penen sebelumnya yang cuma 200 kg,” ujar Suariani sumringah. Itu hasil panen di lahan 2.000 m2. Kualitas buahnya juga meningkat. Permukaan kulit cabai lebih mulus, jika buah dibelah, biji terlihat memenuhi ruang di bawah permukaan kulit. Dengan penampilan buah seperti itu, keuntungannya lebih besar.

Hasil panen meningkat karena pupuk organik cair berbahan rumput laut.

Hasil panen meningkat karena pupuk organik cair berbahan rumput laut.

Meningkatkan imunitas
Keberhasilan Ni Luh Putu Suariani itu berkat penggunaan pupuk cair organik yang mengandung hara makro nitrogen, fosfor, kalium. Selain itu pupuk juga mengandung unsur hara mikro, seperti boron, magnesium, hormon perangsang yaitu auksin, giberelin, sitokinin, dan betain. Putu Suariani terpilih menjadi salah satu mitra Misi Pertanian Taiwan di Kabupaten Badung pada akhir 2014.

Seorang ahli pertanian Taiwan menunjukkan cabai berkualitas prima sebagai acuan produk yang diinginkan oleh pasar luar negeri. Caranya dengan menggunakan pupuk organik cair. Sejak situlah Putu Suariani menggunakan pupuk organik cair untuk memenuhi nutrisi tanaman sayuran. Bentuk cairan pupuk daun itu pekat sehingga konsentrasinya rendah. Suariani cukup melarutkan 20 ml pupuk untuk 17 liter air.

Frekuensi penyemprotan tergantung cuaca. “Saat musim hujan, saya menyemprot 3 hari sekali, sedangkan saat jarang turun hujan atau musim kemarau biasanya seminggu sekali,” ujar Suariani. Dalam sekali siklus budidaya mulai penanaman sampai panen, ia menghabiskan rata-rata hanya 3 liter puppuk berbahan baku rumput laut giant bull kelp dan ekstrak ikan yang hidup di perairan subtropis itu.

Pupuk organik cair, menyuburkan tanaman sekaligus membuat tanaman tahan penyakit.

Pupuk organik cair, menyuburkan tanaman sekaligus membuat tanaman tahan penyakit.

Selama setahun menggunakan pupuk itu ia mengamati tanaman lebih sehat dan tak pernah terserang penyakit. Perempuan berusia 39 tahun itu mengatakan, “Dulu cabai mudah diserang penyakit yang disebabkan cendawan. Akibatnya daun jadi keriting dan penuh bercak. Sejak memakai pupuk organik itu, tanaman tetap sehat sampai masa panen,” kata Suariani.

Selain itu pemakaian pupuk organik cair dapat mengurangi pemakaian pupuk kimia pabrikan sepanjang masa budidaya cabai. Biasanya Putu Suariani memerlukan 1 sak setara 50 kg pupuk NPK. Namun, setelah memakai pupuk organik cair kebutuhan pupuk kimia berkurang sampai 30 kg. Kebutuhan sebanyak itu juga hanya 3 bulan sekali atau pada saat kondisi tanaman memerlukan tambahan nutrisi.

Produksi dan mutu
Muhammad Anwar memiliki pengalaman serupa. Petani cabai dari Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menggunakan pupuk organik cair itu sejak Agustus 2015. Selama masa panen, hasil setiap petikan dalam lahan 2.500 m2 meningkat dari semula 80 kg menjadi 120 kg. “Kalau ditotal, sampai akhir panen bisa memperoleh 23 sak, meningkat dari sebelumnya dalam kisaran 20 sak berkapasitas 40-50 kg,” ujar Anwar.

Menurut pria berusia 49 tahun itu keistimewaan pupuk organik cair itu mampu meningkatkan imunitas tanaman sehingga lebih tahan dari serangan penyakit. “Lantaran tanaman menjadi semakin tahan penyakit, menyebabkan umur hidup tanaman semakin panjang. Jadi petani dapat menikmati frekuensi panen yang lebih banyak dari sebelumnya,” kata Anwar.

Kini Anwar masih menggunakan pupuk itu sebagai pupuk tambahan, sehingga pengurangan penggunaan pupuk kimia pabrikan masih belum signifikan. Namun, setelah merasakan berbagai manfaat itu, ia mulai mengurangi pupuk kimia dan mengganti dengan pupuk berbahan organik itu secara bertahap. Pupuk yang digunakan Suariani dan Anwar kini menjadi pilihan petani untuk meningkatkan produksi dan mutu cabai.

Menurut Manajer Pemasaran CV Duta Jaya, produsen pupuk organik cair, Dyah Praningtyas, pupuk berbahan baku rumput laut giant bull kelp dan ekstrak ikan yang hidup di perairan subtropis itu berpotensi menggantikan peran pupuk kimia hingga 70%. Dyah mengatakan kandungan pupuk itu mineral hara mikro, makro, dan senyawa perangsang pertumbuhan tanaman seperti hormon auksin, sitokinin, dan giberelin.

Peran ganda
Selain itu, rumput laut bahan dari rumput laut membuat tanaman tahan terhadap serangan penyakit yang disebabkan bakteri,” ujar Dyah. Pupuk cair itu cocok sebagai pupuk daun karena akan diserap tanaman dengan cepat dan minim residu. Walaupun demikian, pupuk itu andal sebagai pupuk kocor.

Guru besar Bioteknologi Tanah, Institut Pertanian Bogor, Prof Iswandi Anas Chaniago, menduga pupuk organik dapat sekaligus sebagai zat perangsang. Itu karena pupuk mengandung biostimulan. Zat itulah yang bisa merangsang pertumbuhan akar, bulu-bulu akar, mempercepat proses fisiologi tanaman, dan mendukung perkembangbiakan mikrob yang menguntungkan.

Benih berkualitas tinggi memiliki potensi tumbuh 85%.

Benih berkualitas tinggi memiliki potensi tumbuh 85%.

Menurut Sudadi Ahmad, pakar tanaman hortikultura di Yogyakarta, petani dapat membuat benih sendiri dari tanaman cabai yang telah di tanam sebelumnya. Namun, jika tidak memungkinkan, saat ini sudah banyak penjual benih untuk memenuhi kebutuhan petani. Dalam memilih benih di yang di pasaran, perlu diperhatikan kualitasnya. Misalnya tentang potensi tumbuh benih dalam persemaian. Iwan Setiawan, pemilik Platinum Crop Internasional mengatakan, kini petani harus jeli memilih produk yang berkualitas.

“Standar Nasional Indonesia mensyaratkan produk benih memiliki tingkat potensi tumbuh benih mencapai 85%. Namun, masih banyak produsen benih yang kurang memperhatikan hal itu. Akibatnya petani yang dirugikan karena merasa tertipu,“ ujar Iwan. Karena kasus itu, Platinum Crop Internasional selalu memproduksi benih sesuai standar yang berlaku dan terus mempertahankan kualitasnya.

Platinum Crop Internasional mengeluarkan 2 jenis benih cabai, yakni sephira-99 dan vrgo. Sephira-99 benih cabai keriting hibrida yang potensi buahnya lebat dan tinggi, dan toleran terhadap penyakit karat daun. Sukirno memilih varietas virgo karena memiliki keistimewaan produksi tinggi, mencapai 0,8 kg per tanaman. Selain itu tipe buahnya merunduk, cocok ditanam di dataran rendah sampai tinggi.

Benih yang baru saja diluncurkan pada Januari 2016 mudah dikenali karena warna buahnya dari putih ke jingga saat matang. Sudadi menyarankan petani harus memiliki pengetahuan tentang benih cabai yang cocok ditanam di lahannya. Itu penting untuk menghindari kerugian akibat hasil yang tidak sesuai harapan. “Ada cabai yang tumbuh baik pada musim hujan dan menurun kualitasnya jika ditanam pada musim kemarau, demikian juga sebaliknya,” kata Sudadi. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software