Kiat Kendalikan Kresek

Filed in Inspirasi, Majalah by on 23/04/2020

Upaya pencegahan serangan Xoo akan lebih efektif dibanding bakteri telanjur menyerang.

Serangan hawar daun atau kresek kadang-kadang sulit dikenali. Gejalanya mirip dengan gejala hawar akibat cendawan. Kenali gejala agar tidak salah langkah. Wikantimur Ayus Sani Aji ingat betul pada 2017. Petani di Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, itu kehilangan hasil hingga lebih dari 50%. Penyebabnya seragan penyakit hawar daun. Bakteri Xanthomonas oryzae (Xoo) ada di balik serangan itu. Padi yang tumbuh di sawah tampak mengering di bagian pucuk daun.  Itulah gejala serangan hawar daun.

Waktu itu Wikantimur keliru menyemprotkan pupuk cair berlebihan. Akibatnya kondisi lingkungan makin lembap dan kondusif bagi perkembangan bakteri. Hawar daun biasanya muncul pada musim hujan. Menurut peneliti madya di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr. Enung Sri Mulyaningsih, hawar daun salah satu penyakit utama pada padi. Enung mengatakan, serangan dan kerugian akibat penyakit itu paling banyak terjadi di wilayah beriklim tropis.

Pemilihan varietas padi untuk pengendalian kresek harus tepat.

Gagal panen

Menurut Enung, “Pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh kelembapan dan curah hujan yang tinggi.” Doktor Agronomi dan Pemuliaan Tanaman alumnus Institut Pertanian Bogor itu menuturkan, serangan kresek bila melewati ambang tertentu mengakibatkan padi fuso atau gagal panen. Awalnya bakteri Xoo hanya menyerang di padi sawah, tetapi kasus lima tahun terakhir bakteri gram negatif itu juga mulai menyerang padi gogo.

Peneliti muda di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Yashanti Berlinda Paradisa, M.Sc mengatakan, dampak serangan Xoo berupa penurunan produksi padi. “Hasil beberapa penelitian mengatakan pada musim kering penurunan produksi 18—28%, sedangkan saat musim hujan produksi makin turun 21—35%.” Itu sebabnya, hawar daun menjadi penyakit penting komoditas padi. Prevalensi meningkat saat musim hujan.

Gejala penyakit berupa perubahan warna daun padi yang semula hijau lama-kelamaan menjadi kering dan layu. Ketika angin berembus menyebabkan daun-daun kering bersinggungan dan menimbulkan suara kresek-kresek. Mungkin itu sebabnya masyarakat menyebutnya kresek.Yashanti mengatakan, gejala kresek timbul pada fase vegetatif padi. Adapun pada fase generatif, gejala hawar yang timbul.

Alumnus pascasarjana Fitopatologi, Universitas Gadjah Mada itu mengatakan, gejala kresek daun padi akan tetap hijau tetapi ada bercak-bercak kuning dan kering di ujung daun. Lama- kelamaan bercak itu berkembang di seluruh bagian tanaman. Menurut Yashanti penggunaan varietas tahan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan kresek. Tetapi harus sesuai dengan patotipe padi yang dominan di daerah setempat.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Menurut perempuan kelahiran Desember 1986 itu, upaya pencegahan sejak dini wajib dilakukan yakni perlakuan benih, sanitasi lahan, dan pemupukan berimbang. “Terlalu banyak pemberian unsur nitrogen mengakibatkan tanaman rapuh sehingga lebih rentan,” kata perempuan 34 tahun itu.

Varietas tahan

Serangan bakteri Xanthomonas oryzae menyebabkan daun padi kering.

Menurut Wikantimur bakteri itu juga memengaruhi kualitas beras yang dihasilkan. Petani 38 tahun itu menuturkan, jika tanaman selamat pun beras yang dihasilkan mudah pecah.   Oleh karena itu, pada musim tanam berikutnya, Wikan menyemprotkan pupuk daun yang tidak mengandung nitrogen.

Periset dari Institut Pertanian Bogor, Wage Ratna Rohaeni dan Dini Yuliani, juga mengatakan terdapat sosok daun padi varietas lokal yang berbeda, yakni warna pelepah, warna leher daun, permukaan daun, dan warna permukaan daun. Wage menduga karakter permukaan daun memengaruhi ketahanan tanaman terhadap serangan bakteri anggota famili Xanthomonadaceae itu.

Permukaan daun yang tidak berambut cenderung tanaman lebih rentan terhadap serangan kresek. Sebaliknya permukaan daun yang berambut mengindikasikan tanaman lebih kuat. Rohaeni dan rekan dari Institut Pertanian Bogor mengujikan 25 aksesi padi varietas lokal yang dikelompokkan berdasarkan kesamaan morfologi. Hasil riset menunjukkan satu kelompok dengan tingkat keparahan serangan kresek di bawah 20%.

Kelompok itu teridi atas dari empat aksesi yakni ketan lomah hitam, bumbuy inih, gonggoi, dan waren. Empat aksesi itu memiliki kesamaan yakni dengan ciri morfologi permukaan daun yang berbulu. Adapun tingkat keparahan serangan paling tinggi terdapat pada aksesi careon yang permukaan daunnya tidak berbulu yakni sebesar 49%.

Upaya pengendalian kresek yang dilakukan Wikan lebih mengutamakan pemanfaatan bahan alami. Ia menggunakan fermentasi bawang putih kala itu. tetapi menurut Wikan, di pasaran mudah didapatkan bakterisida dengan bahan aktif tembaga oksida. Tentu saja petani harus mengikuti anjuran dosis. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software