Kian Sayang Kepayang

Filed in Majalah, Perkebunan by on 14/07/2019

Daging buah kepayang makanan kesukaan satwa liar seperti anoa, babi hutan, dan babi rusa.

 

Buah kepayang bukan hanya membuat orang mabuk karena kadar sianida. Sedap sebagai bumbu rawon.

Pangi salah satu tumbuhan berhabitus pohon yang tersebar sangat luas di wilayah Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Papua Nugini.

Langkah Diah Irawati Dwi Arini, S.Hut, M.Sc., terhenti di depan pohon setinggi 15 m ketika menjelajahi Cagar Alam (CA) Tangale di Desa Labanu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. “Pemandu mengatakan buah dari pohon di depan saya salah satu pakan babi hutan dan anoa,” kata peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado, Sulawesi Utara, itu.

Saat itu peneliti konservasi keanekaragaman hayati itu mengeksplorasi flora dan fauna di cagar alam seluas 112,5 hektare. Buah pohon itu seukuran pepaya berujung lancip dan berwarna cokelat. Satwa liar seperti babi hutan Sus celebensis, babi rusa Babyrousa babirussa, anoa Bubalus spp., dan monyet hitam sulawesi (Macaca nigra dan Macaca nigrescens) mengonsumsi daging buah tanaman yang habitatnya dekat sumber air itu.

Masyarakat lokal menyebut pohon itu pangi. Itu kali pertama Diah melihat pohon itu. Pangi pohon baru bagi Diah yang sebelumnya berdomisili di Pulau Jawa. “Setelah melihat bijinya saya mengetahui itu keluak,” kata perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu. Sebelum ke Cagar Alam Tangale, Diah hanya mengenal keluak sebagai bumbu masak rawon.

Tersebar

Diah belum pernah melihat sosok kepayang Pangium edule, tanaman penghasil keluak. Ahli botani asal Belanda, Karel Heyne, dalam Tumbuhan Berguna Indonesia, menyatakan tinggi kepayang hingga 40 m dan diameter batang beserta banir 2,5 m. Pohon anggota famili Achariaceae itu tumbuh liar di lokasi berketinggian tempat kurang dari 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl) di Pulau Jawa.

Diah Irawati Dwi Arini, S.Hut, M.Sc., (kedua dari kiri), peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado, Sulawesi Utara.

Penyebaran kepayang di berbagai daerah di Indonesia sehingga sebutannya pun berbeda di setiap wilayah. Pucung sebutan kepayang untuk warga Jakarta. Masyarakat Jawa mengenal kepayang dengan nama pakem atau keluwek. Nama lain kepayang yakni picung (Sunda), pangi (Bugis), kalowa (Sumbawa), dan nagafu (Tanimbar). Menurut Diah persebaran kepayang di CA Tangale lebih sedikit dibandingkan dengan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Semenanjung Minahasa.

Biji keluak lazim menjadi bumbu masak rawon di Pulau Jawa.

Di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, banyak pangi ditemukan di sepanjang sungai, daerah berair, dan pada kelas lerengan terjal hingga curam. Satwa dan aliran air menentukan pola pertumbuhan pangi. Hujan membuat keluak jatuh melewati lereng sehingga hanyut ke sungai. Wartawan Majalah Trubus Sardi Duryatmo juga menemukan beberapa buah pangi di pinggir sungai di kawasan TNBNW.

Satwa liar seperti babi hutan dan anoa pun berperan menyebarkan pangi ke penjuru hutan. Kepayang berbuah perdana pada umur 15 tahun. Pohon itu berbuah pada awal musim hujan. Diah menyatakan, keluak berbentuk bulat telur hingga lonjong dan berdiameter 10—25 cm. Daging buahnya putih hingga kuning pucat, bertekstur lunak, dan dapat dimakan. Setiap buah berisi hingga 18 biji.

Diah menuturkan, sebetulnya masyarakat Sulawesi Utara mengenal pangi. Pada waktu tertentu ada pedagang yang menjual daun pangi di Kota Manado, Sulawesi Utara. Masyarakat lazim mencampurkan irisan daun muda pangi dalam jumlah banyak ke olahan daging. Masakan itu disebut sayur pangi. “Rasa daun muda pangi enak. Teksturnya agak keras, tapi renyah,” kata alumnus Ilmu Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, itu.

Anakan salah satu perbanyakan alami kepayang.

Olahan lainnya yakni membikin semacam buntil menggunakan daun pangi. Bukan daun keladi atau pepaya sebagai pembungkus buntil. Di Kota Manado sayur pangi hanya disajikan pada acara tertentu seperti syukuran. Harap mafhum pohon pangi relatif langka. Sementara masyarakat pedesaan di Sulawesi Utara menjadikan sayur pangi sebagai menu harian karena mudah mendapatkan tanaman itu.

Masyarakat Sulawesi Utara terfokus memanfaatkan daun pangi. Penggunaan biji pangi tidak lazim seperti di Pulau Jawa. Manfaat pangi tidak hanya sebagai sumber pangan. Kulit kayu kepayang dapat digunakan sebagai racun ikan. Biji keluak juga menjadi bahan alami pengawet ikan (Baca Mabuk Kepayang Olahan Pangi 92—94). Menurut Diah tidak ada perlakuan khusus pada budidaya pangi.

Perbanyakan pangi melalui anakan yang tumbuh alami atau biji. Hasil penelitian menunjukkan daya kecambah biji pangi lebih dari 80% sehingga tidak ada kesulitan dalam hal regenerasi. Sebaiknya rendam biji pangi 24 jam sebelum menyemai di media pasir. Tujuannya memecah masa dormansi. Selang sebulan pindahkan pangi muda berdaun 2—3 buah ke dalam pot berisi campuran pasir dan kompos. Empat bulan kemudian bibit siap ditanam di lahan. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software