Khaya Bikin Kaya

Filed in Perkebunan by on 01/09/2011

 

Pohon Khaya anthoteca berumur 50 tahun di Bandung, Jawa Barat. Diameter mencapai 2 m dan tinggi 50 mPohon khaya yang dimaksud Zulkifli adalah Khaya anthotheca atau sohor di tanahair sebagai mahoni afrika. Pekebun di Bandung, Jawa Barat, menyebut pohon itu mahoni uganda. Sematan afrika melekat pada pohon itu karena memang berasal dari daerah rendah benua itu  dengan sebaran dari Angola, Kamerun, Pantaigading, Ghana, hingga Zimbabwe. Julukan mahoni afrika lekat karena kualitas kayu kemerah-merahan mirip dengan kayu mahoni. Keduanya – antara mohoni afrika dan mahoni – memang masih sekerabat. Mereka anggota famili Meliaceae.

Seperti halnya mahoni daun kecil Switenia mahogany dan mahoni daun besar Switenia macrophylla, khaya tergolong kayu kelas kuat II dan kelas awet II – III. Tidak heran jika kayu itu menjadi salah satu favorit dalam perdagangan kayu internasional sejak abad ke-17  dan terus meroket seiring makin seretnya pasokan kayu mahoni. Menurut data The International Timber Trade Organization, harga log mahoni afrika berkisar

Rp2,9-juta – Rp4,42-juta per m3. Serat khaya yang agak kasar dengan arah lurus dan tekstur seragam membuatnya favorit sebagai bahan mebel mewah, vinir dekoratif, bahan ukiran, atau kayu pelapis yang eksotis.

Mahoni bongsor

Menurut periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan, Bogor, Jawa Barat, Dr Ir Nina Mindawati MSi, Khaya anthoteca sangat potensial sebagai kayu komersial untuk memenuhi kebutuhan kayu yang terus meningkat. Ronny Lukito dari Gerakan Tanam Indonesia (GTI) berpendapat kayu khaya tergolong tanaman penghijauan yang bernilai ekonomis tinggi.

Sejatinya menurut Nina, Balai Penyelidikan Kehutanan mengembangkan Khaya anthoteca sejak 1937. Lembaga itu menanam mahoni afrika di 14 hutan penelitian di Jawa. Dari uji coba itu  Khaya anthoteca mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan di tanahair. Tak heran pertumbuhannya pun bongsor dibanding mahoni daun kecil dan daun besar.

Hasil penanaman Nina pada 2000 di kebun percobaan Banten, menunjukkan pada umur 10 tahun diameter Khaya anthoteca mencapai 25 cm dengan tinggi 15 m. Bandingkan dengan diameter mahoni dengan umur sama hanya 10 cm dan tinggi 12 – 13 m. “Pertumbuhan itu tidak maksimal karena kondisi tanah inceptisol yang kurang subur,” kata Nina. Tidak heran jika mantan Menteri Kehutanan MS Kaban, sebagaimana dituturkan Iwan Irawan dari GTI, menjuluki mahoni afrika sebagai mahoni bongsor.

Jika kondisi tanah mendukung, pertumbuhan lebih pesat. Tengok saja tanaman mahoni afrika berumur 17 tahun di Kebun Percobaan Cikampek, Jawa Barat. Diameternya mencapai 93,7 cm dengan tinggi 31,7 m. Menurut Nina mahoni afrika bukan tanaman perintis sehingga butuh lingkungan yang relatif subur dengan curah hujan di atas 1.500 mm per tahun.

Keunggulan lain Khaya athoteca mempunyai rentang daya adaptasi yang lebih luas dibanding mahoni. Penanaman mahoni hanya terbatas hingga ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (m dpl). Lebih dari itu pertumbuhan lebih lambat. Bandingkan dengan mahoni afrika yang subur dari ketinggian 50 m dpl hingga 1.600 m dpl. Contohnya di Kebun Percobaan Cikole, Lembang, Jawa Barat yang berketinggian 1.500 m dpl, mahoni afrika berumur 15 tahun mampu mencapai diameter 55,4 cm dan tinggi 28,2 m. “Pertumbuhan ideal pada ketinggian 50 m dpl hingga 1.300 m dpl,” tutur Nina.

Marak

Selain bongsor, Khaya anthoteca pun relatif tahan terhadap ancaman hama penggerek pucuk yang menjadi momok bagi mahoni. Serangan Hypsipyla robusta itu kerap menyerang tanaman mahoni berumur 1 – 2 tahun. Bagian pucuk yang terserang akan tertimbun serbuk gerek dan gumpalan getah merah. Akibatnya lama-kelamaan pucuk menjadi  kering dan patah sehingga menimbulkan pucuk baru lebih dari satu.  Dampaknya percabangan menjadi banyak. Pun matinya pucuk menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat.

Struktur tajuk mahoni afrika yang melancir ke atas pun memberi keuntungan karena pekebun dapat menumpangsarikan dengan komoditas lain. Pekebun di Ghana, Afrika, menumpangsarikan Khaya anthoteca dengan kakao Theobroma cacao; pekebun di Cikole, Bandung,  menumpangsarikan dengan kentang dan cabai. “Sebagai tanaman  introduksi Khaya anthoteca tidak bersifat invasif seperti Acacia mangium,” kata Nina.

Dengan seabrek keunggulan itu, wajar jika mahoni afrika mulai marak ditanam di berbagai daerah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara Hari Menanam Pohon 2010 di Jatiluhur menanam khaya. Menurut Nina sejak 2000 Perum Perhutani pun mulai mengembangkan mahoni afrika di pantai selatan Jawa, sama seperti pekebun di Sukabumi dan Ciamis. Rektor Universitas Indonesia Prof Dr der Soz Gumilar Rusliwa Somantri termasuk mereka yang terpikat keunggulan khaya. “Saya sudah menanam 1.500 pohon sejak 1,5 tahun silam di lahan 2,5 ha,” tutur Gumilar. Di lokasi kebun di Megamendung, Bogor itu pertumbuhan khaya pun bongsor mampu mencapai tinggi 5 – 6 m dan diameter 8 – 9 cm.

Pendiri Paguyuban Budiasi, Brigadir Jenderal Doni Munardo, sudah menanam 2.000 pohon Khaya anthoteca di seputaran Kabupaten Bogor. “Ada 100.000 bibit lagi yang siap tanam menunggu musim hujan,” tutur Doni yang juga menjabat wakil komandan jenderal Komandan Pasukan Khusus (Wadanjen Kopassus) itu. Tertarik khaya? (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software