Kerbau Seharga Mobil

Filed in Eksplorasi by on 31/12/2010 0 Comments

 

Bonga Ulu Ciri-ciri: Hanya bagian muka saja yang berwarna putih Harga: Rp70.000.000—Rp80.000.000Bonga Tenge Ciri-ciri: Kepala dan pundak berwarna putih, bagian lain berwarna hitam dan terdapat bercakbercak. Harga: Rp80.000.000—Rp90.000.000Saleko Ciri-ciri: Kepala, mata, dan tanduk putih, tubuh belang-belang dengan warna putih lebih mendominasi. Harga: Rp200.000.000—Rp260.000.000Saleko 1 Ciri-ciri: Kepala, tanduk, mata, dan pantat berwarna putih, sedangkan punggung hitam. Harga: Rp135.000.000Saleko 2 Ciri-ciri: Kepala, mata, dan tanduk putih, tubuh belang-belang dengan warna hitam lebih mendominasi. Harga: Rp120.000.000Di Tanatoraja, Provinsi Sulawesi Selatan, kerbau cermin status sosial. Dalam ma’badong atau ritual kematian, keluarga dari orang meninggal dunia memotong beberapa kerbau jantan – jumlahnya sampai puluhan ekor. Makin banyak jumlah kerbau yang mereka potong, kian tinggi status sosial. Agus Lamba, warga Rantepao Kabupaten Tanatoraja, mengatakan bahwa keluarga bangsawan memotong kerbau jenis saleko. Jenis lain adalah bonga tenge, bonga ulu, dan lotong boko (lihat infografis).

‘Keempat jenis kerbau itu harus ada, kalau dia bangsawan,’ kata periset kerbau dari Pusat Penelitian Bioteknologi, Yulnawati SKH, MSi. Masyarakat Tanatoraja percaya bahwa kerbau dapat mengantarkan arwah ke puya atau surga. Itulah sebabnya semakin banyak keluarga menyembelih kerbau, kian cepat arwah ke puya. Dalam sebuah ritual, pemotong kerbau jantan mencapai puluhan hingga ratusan ekor. Wajar jika para peternak merawat kerbau persis penghobi anjing memperlakukan golden retriever. Mereka memandikan kerbau 2 kali sehari. Itu saja belum cukup.

Di Desa Parinding, Kecamatan Sesean, Kabupaten Tanatoraja, para peternak merendam kerbau-kerbau itu di sebuah sungai kecil. Seluruh tubuh kerbau terendam, hanya kepala dan sedikit leher yang muncul di permukaan. Mereka mengikat kerbau pada sebatang bambu horizontal di permukaan atas tanah. Akibatnya kerbau harus selalu tegak karena tali pengikat sangat pendek. Dengan cara itu, otot-otot tengkuk terbentuk sehingga penampilan Bubalus bubalis sangat kokoh.

Lama perendaman 2 – 3 jam dengan frekuensi 2 kali sehari. Usai perendaman, peternak memandikan dan mengoleskan minyak ke sekujur tubuh kerbau hingga mengkilap. Para peternak di Tanatoraja pantang memberikan makanan di atas permukaan tanah. Mereka memberikan pakan secara langsung dengan cara menyuapi kerbau. Dengan begitu kerbau tak akan pernah menunduk ketika mengambil pakan. Cara itu juga bertujuan untuk membentuk otot-otot tengkuk dan bahu.

Bahkan setelah kerbau-kerbau meregang nyawa, pemilik tetap mengabadikan tanduk-tanduk itu di atas banua alias rumah. Tanduk kerbau tersusun hingga puluhan. Di rumah Ir Pong Rekun, di Desa Tallunglipu, Kecamatan Tallunglipu, Kabupaten Tanatoraja, Sulawesi Selatan, misalnya, 92 pasang tanduk kerbau menghiasi banua. Tanduk menjadi penanda status sosial bagi masyarakat Tanatoraja.

Mengapa kerbau itu belang? Yulnawati yang baru saja meriset genetika kerbau toraja di Uppsala, Swedia, mengatakan belang terjadi karena, ‘Gen yang mutasi.’ Sayang, ia menolak menjelaskan lebih detail pemicu dan penyebab terjadinya mutasi.

Sejak 2007 alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, itu memang banyak meneliti kerbau belang. Yulna antara lain mengembangbiakkan kerbau dari pejantan yang telah mati dalam upacara di Toraja. Ia tergerak mereproduksi karena kebutuhan kerbau belang pada upacara kematian sangat tinggi, sedangkan produksi sangat rendah.

Harap mafhum, kerbau berbeda dengan sapi yang masa birahinya mudah diketahui. Bagian vulva kerbau agak melesak, sehingga peternak sulit mengetahui masa birahi yang berlangsung hanya beberapa hari. Menurut Yulnawati dengan mereproduksi kerbau berarti menjaga kebudayaan Tanatoraja yang menyedot banyak wisatawan. Meski demikian sulit meyakinkan warga setempat. Sebab, pada 1985 seorang peneliti membuat inseminasi buatan pada seekor kerbau. Hasilnya adalah seekor kerbau putih yang buta dan akhirnya mati. Masyarakat trauma ketika Yulna hendak melakukan hal sama.

‘Tidak akan pernah berhasil,’ kata seorang peternak seperti ditirukan kembali oleh Yulnawati. Namun, periset muda itu tak putus asa. Mula-mula ia menghadiri upacara kematian di Toraja dan mendekati kerabat yang meninggal, kebetulan seorang dokter. Ia minta testis kerbau usai pemotongan. Keluarga memang tak mengonsumsi organ itu. Setelah memperoleh testis ia bergegas ke hotel dan mengambil sperma. Yulnawati mengatakan 3 jam setelah pemotongan, benih jantan harus tertampung. ‘Penelitian saya di ternak lain menunjukan sampai 6 jam setelah pemotongan, masih diperoleh sperma hidup,’ kata Yulnawati.

Mahasiswa doktoral Institut Pertanian Bogor itu hanya mengambil sperma di bagian cauda epididimis yang telah matang. Sperma di bagian caput dan corpus epididimis ia abaikan. Cara itu ia lakukan berkali-kali hingga sampel sperma berbagai jenis kerbau di Toraja pun terkumpul. Sperma itulah ia gunakan untuk menginseminasi buatan pada kerbau-kerbau di Tanatoraja. Yulnawati memilih induk betina kerbau hitam, bukan yang belang, untuk memudahkan pemetaan gen.

Dari 20 induk yang ia inseminasi, 4 di antaranya bunting selama 10 – 11 bulan. Pada Desember 2010, 4 induk itu melahirkan dengan interval 1 – 2 pekan. Tiga induk melahirkan kerbau betina hitam, seekor induk melahirkan jantan belang. Yulnawati juga mengumpulkan sampel darah dan folikel rambut kerbau toraja itu. (Sardi Duryatmo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software