Kerapu Macan: Polikultur Pacu Produksi

Filed in Ikan konsumsi by on 31/05/2011

 

Polikultur kerapu macan dan baronang menguntungkan karena keduanya memiliki nilai ekonomis tinggiMelonjaknya kecepatan tumbuh kerapu macan sebesar 0,14% itu terjadi karena kehadiran baronang memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan kerapu yang ujung-ujungnya nafsu makan kerapu meningkat. Kerapu yang dipelihara di karamba jaring apung (KJA) tumbuh sehat lantaran jaring yang dipakai terbebas dari organisme pengganggu.

Normalnya pada budidaya kerapu di KJA, jaring dibersihkan setiap bulan. Itu dilakukan supaya jaring tetap bersih dan tidak menjadi sarang penyakit. Bila tidak dibersihkan sirkulasi air dalam KJA terganggu lantaran organisme yang memenuhi waring menyumbat aliran air. Kehadiran baronang diperlukan karena ikan itu memakan organisme di jaring sehingga jaring cukup dibersihkan 2,5 bulan sekali. Bahkan hasil riset memperlihatkan baronang doyan menghabiskan sisa-sisa pakan kerapu yang dapat menjadi sumber senyawa beracun, amonia.

SR naik

Kerapu macan dan baronang merupakan komoditas perikanan laut yang sama-sama memiliki nilai ekonomi tinggi. Keduanya bisa dipolikultur karena memiliki sifat hidup berbeda. Kerapu macan lebih banyak berdiam di dasar dan merupakan jenis karnivora alias pemakan daging. Sebaliknya baronang merupakan pemakan tumbuhan seperti lumut dan beberapa jenis alga yang pada budidaya KJA kerapu seringkali dijumpai menempel pada jaring. Sinergi keduanya membuat polikultur kerapu dan baronang itu menguntungkan.

Riset polikultur yang dilakukan di KJA berukuran 3 m x 3 m sebanyak 5 kotak dan jaring berukuran 3 m x 3 m x 4 m sebanyak 10 buah itu memperlihatkan bahwa polikultur keduanya dapat menaikkan sintasan hidup kerapu macan. Dengan polikultur kelangsungan hidup (SR) kerapu mencapai 81%; tanpa polikultur SR berkisar 70,67%. Untuk baronang rata-rata SR sekitar 88%.

Seiring meningkatnya nafsu makan kerapu karena kondisi lingkungan yang lebih baik, konversi pakan pada polikultur dengan kepadatan tebar masing-masing 300 kerapu (bobot 112 g/ekor) dan 100 baronang (bobot 60 g/ekor) meningkat menjadi 4,52; pada monokultur nilai FCR 4,43. Meski konversi pakan lebih tinggi, tetapi dapat diimbangi dengan waktu panen lebih pendek sekitar sepekan untuk mencapai bobot 600 g/ekor.

Selama polikultur 10 bulan antara kerapu dan baronang itu memang terdapat beberapa parasit penyakit menyerang kerapu seperti Benedenia sp, Diplectanum  sp, dan sejenis parasit dari trematoda yang menyerang kulit, sirip, dan insang. Namun, penyakit-penyakit itu tidak fatal dan dapat dibasmi dengan cepat lewat perendaman dalam air tawar selama 10 menit. Sejauh ini polikultur kerapu macan dan baronang dapat menjadi alternatif pilihan bagi peternak kerapu. (Umar Rifai, Niwan Hendarto, dan Ris Dewi N, peneliti di Balai Budidaya Laut Ambon)

 

Powered by WishList Member - Membership Software