Kepayang Menjaga Alam

Filed in Majalah, Perkebunan by on 14/07/2019

Getah daun kepayang bermanfaat untuk pengobatan luka luar.

 

Tidak hanya buah picung—sebutan kepayang oleh etnis Sunda—yang bermanfaat. Daunnya pun menjadi pembungkus untuk mengawetkan daging atau ikan. Kehadiran pohon kepayang menjamin kelancaran pasokan air di sumur warga saat kemarau. “Kayu kepayang tergolong awet karena tidak disukai kumbang bubuk,” kata Kepala Seksi Perlindungan, Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, dan Pemberdayaan Masyarakat KPHP Limau, S.L. Suzanto, S.Hut.

Kelebihan itu membuat sebagian warga yang kurang bertanggung jawab mengincar kepayang untuk memperoleh kayunya. Untungnya, ada larangan turun-temurun di masyarakat Kalimantan untuk menebang pohon pangi alias kepayang. “Istilahnya nutuh kepayang nubo tepian, artinya menebang pohon kepayang ibarat meracuni sumber air,” kata Suzanto. Pendatang yang tidak merasa terikat dengan larangan itu tidak acuh dan menebang kepayang.

Zanto dan timnya sampai menomori satu per satu pohon yang mereka survei. Mereka berharap cara itu membuat orang segan karena tahu pohon itu dalam pemantauan. Pohon dan minyak kepayang juga membawa berkah bagi KPHP Limau. Berkat kedekatan yang terjalin dengan masyarakat, mereka cepat mendapat informasi ketika ada pembalakan liar atau pemburu gelap memasuki wilayah pengawasan mereka.

“Kepayang makanan babi hutan, babi hutan mengundang harimau. Harimau mengundang pemburu,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Limau, Misriadi, S.P., M.Sc. Tak hanya menyedapkan semangkuk rawon atau seporsi ikan gabus pucung, kepayang menjaga hutan, mempertahankan sumber air, dan menjadi sumber pendapatan masyarakat. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software