Kentang: Panen Menjulang Bukan Mimpi

Filed in Fokus by on 03/09/2013 0 Comments

Nutrisi tepat membuat produksi kentang menjulang.

Tiga tahun berturut-turut mengebunkan kentang, Ahmad Khoiri hanya menuai 2.000 kg dari lahan 3.000 m2. “Kalau cuaca sedang tidak bersahabat, panen bisa anjlok hingga separuhnya, bahkan gagal panen,” kata pekebun kentang di Desa Pawon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, itu. Setiap kali menanam kentang, Khoiri mengeluarkan biaya Rp8-juta. Dengan harga jual kentang Rp5.000 per kilogram, omzetnya Rp10-juta. Laba Khoiri amat tipis.

Namun, dua tahun terakhir, pekebun berusia 28 tahun itu mampu meningkatkan produksi dua kali lipat, yakni 4.000 kg dari lahan sama. Khoiri menggunakan benih varietas yang sama. Yang membedakan adalah  sejak musim tanam 2010, ia justru mengurangi penggunaan pupuk NPK secara bertahap. Pada saat bersamaan, Khoiri memanfaatkan pupuk berbahan baku rumput laut.

Lapisan lilin

Sebelum tanam, ia mengolah tanah dengan mencampur 5 ton pupuk kandang sebagai pupuk dasar bersama bakteri probiotik. Ia juga mencelupkan bibit dalam 1 liter air yang mengandung 2 ml pupuk berbahan rumput laut produksi  PT Kalatham. Durasi pencelupan selama 15 menit.

Menurut Ir Achmad Santosa, kepala pemasaran PT Kalatham, pencelupan bibit dalam larutan pupuk berbahan rumput laut mempercepat masa dormansi sehingga tanaman tumbuh seragam. “Keuntungan lain mampu membentuk lapisan lilin dan mempertebal bulu-bulu di permukaan daun dan batang,” katanya. Bila lapisan lilin dan bulu daun tebal, tanaman tidak gampang terserang cendawan dan hama.

“Tanaman sehat kunci raih laba,” kata Ahmad KhoiriSelain itu, tanaman juga tidak mudah memar atau infeksi saat terkena pukulan air hujan sehingga pintu masuk bagi cendawan atau hama untuk menyerang tertutup. Ketika tunas mulai muncul, Khoiri melarutkan 2 tutup botol pupuk berbahan rumput laut, ½ tutup zat pengatur tumbuh ke dalam satu tangki air. Ia menyemprotkan larutan itu setiap 10 hari. Zat pengatur tumbuh berfungsi merangsang pertumbuhan daun dan batang, serta memperbanyak dan meningkatkan bobot umbi.

Saat tanaman berumur 30 hari, Khoiri memberikan pupuk berunsur fosfor (P) tinggi. Dosisnya 1 gram per 1 liter air. Larutan itu lantas ia semprotkan pada tanaman setiap 10 hari hingga tanaman berumur 40 hari.  Menurut Prof Didiek Hadjar Goenadi, peneliti Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), fosfat merupakan unsur hara makro penting bagi pertumbuhan akar halus dan rambut akar dan memperkuat akar agar tanaman tidak mudah rebah.

Ketika tanaman berumur 45 hari, Khoiri memberikan pupuk berunsur kalium (K) tinggi setiap 10 hari hingga tanaman berumur 80 hari. Menurut Puji Harjoko, petugas lapang PT Kalatham, umur 50 hari adalah masa bagi tanaman untuk mengisi umbi. “Dengan memberikan pupuk K tinggi otomatis menghambat pertumbuhan vegetatif sehingga tanaman fokus pada pengisian dan pembesaran umbi,” katanya.

 

Banyak perongrong

Keruan saja upaya pekebun meningkatkan produksi juga tak terlepas dari pestisida. Sebab, serangan organisme pengganggu tanaman—hama dan penyakit—berpotensi menurunkan produksi. Itulah sebabnya pekebun mesti mengendalikan para perongrong kentang seperti busuk daun. Anggota staf pemasaran PT Dow AgroSciences Indonesia, Aviantara Budi Prasetyo, menuturkan bahwa busuk daun merupakan ancaman utama pekebun kentang di tanahair.

Untuk mengatasi serangan busuk daun di pasaran terdapat beragam fungisida sepert Dithane berbahan aktif mankozeb. “Dithane bekerja menghambat pertumbuhan spora cendawan,” ujar Aviantara Budi Prasetyo.

Cuaca ekstrem mampu menurunkan produksi kentang hingga 50%Sementara Antracol, Previcur, dan Trivia produksi PT Bayer Indonesia manjur menghalau cendawan Phytophthora infestans (baca: Jangan Datang Pencuri Laba, hal. 100). Musuh lain pekebun kentang adalah cendawan Alternaria sp. penyebab bercak kering. Untuk mengatasi penyakit itu pekebun dapat menggunakan Folicur (tebukonazol 20%)  atau Nativo (tebukonazol 50% dan trifloksistrobin 25%).

Menurut Darmawan Sandi Susilo, manajer pemasaran dari PT Guna Kimia (FMC Indonesia) di Jakarta, pekebun kentang juga perlu mewaspadai hama pada akar. “Akar tanaman yang terluka akibat terserang hama tanah memuluskan jalan bagi bakteri penyebab layu dan busuk,” kata darmawan.

Beberapa hama yang kerap dijumpai di tanaman kentang yakni nematoda sista kentang Globodera rostochiensis., orong-orong alias anjing tanah Gryllotalpidae sp., dan uret Holotrichia sp. Untuk mengatasi nematoda sista kentang pekebun dapat menggunakan Rugby berbahan aktif cadusafos.

Selain Rugby, FMC Agricultural Product juga memproduksi insektisida sistemik furadan berbahan aktif karbofuran untuk menghalau serangan nematoda bintil akar. Sedangkan untuk mengatasi thrips dapat menggunakan marshal berbahan aktif karbosulfan dan bestox berbahan aktif alpha cypermethrin.

Salah satu insektisida untuk mencegah kedatangan kutu kebul, adalah Movento (spirotetramat 120 g/l dan imidakloprid 120 g/l). Sementara untuk mencegah serangan ulat penggerek pekebun dapat memiliih 3 macam insektisida yakni Destello (tiodikarb 360 g/l dan triflumuron 120 g/l), Decis (deltametrin 25 g/l), dan Buldok (beta siflutrin 25 g/l). Adapun untuk mengurangi serangan kutu daun bisa menggunakan insektisida Confidor (imidakloprid 200 g/l).

Pekebun dapat memanfaatkan Endure berbahan aktif spinoteram untuk mengendalikan serangan thrips. Adapun  untuk mengatasi aphids, silakan gunakan Closer berbahan aktif sulfoxaflor. Kedua insektisida itu produksi PT Dow AgroSciences Indonesia di Jakarta.

Khoiri memanfaatkan fungisida sistemik berupa Masalgin berbahan aktif benomil dan kontak berupa Velimek berbahan aktif maneb 70% dan zineb 8% dari PT Kalatham untuk menghalau serangan cendawan Phytophthora infestans. Sementara untuk mengusir hama seperti kutu-kutuan, ia menggunakan Demacide berbahan aktif dimetoat. Menurut Puji Harjoko, pekebun sebaiknya melakukan rotasi penggunaan pestisida agar hama dan penyakit tidak resisten. Bagi Khoiri sendiri, penggunaan pestisida adalah pilihan terakhir. “Prinsip saya membuat tanaman sehat sehingga gampang mengendalikan penyakit. Dengan begitu biaya pembelian pestisida menurun” katanya. (Andari Titisari)

 

Powered by WishList Member - Membership Software