Kentang: Jangan Datang Pencuri Laba

Filed in Fokus by on 03/09/2013 0 Comments

Strategi menghadapi busuk daun yang acap mencuri laba pekebun.

Hendra Cahyanto, pekebun kentang di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, selalu waspada ketika tanaman kentangnya memasuki umur 10 hari setelah tanam. “Saya akan menghadang tamu yang tidak diundang,” kata Hendra. Menurutnya, tamu itu datang dengan menandai tepi daun kentang dengan warna kecokelatan.

Warna itu lama-lama menyebar ke seluruh daun, batang, akar, hingga seluruh tanaman. Dalam waktu 5—10 hari kentang yang disambangi tamu itu bakal membusuk dengan aroma menyengat. Ayah 2 anak itu memang harus waspada, pasalnya tamu itu adalah musuh nomor satu para pekebun kentang. Itulah penyakit busuk daun alias lodoh.

Cendawan

Menurut peneliti kentang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat, Ir Asih Kartasih Karyadi, penyakit itu disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans. “Gejala awalnya ada bercak kecokelatan di tepi daun,” kata Asih. Menurut alumnus Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor (IPB) itu jika tak tertangani, busuk daun menyebar ke seluruh tanaman sehingga membuat fisiologi tanaman terganggu dan akhirnya tanaman mati.

Menurut Asih penyakit itu memang menjadi momok paling menakutkan para pekebun kentang. “Jika tidak dikendalikan serangannya bisa menurunkan produktivitas hingga 100% alias gagal panen,” kata Asih. Lebih-lebih pada musim hujan. “Serangannya bisa meningkat hingga dua kali lipat dari musim kemarau,” kata Febi Aryana, kepala pengembangan PT Bayer Indonesia di Jakarta.

Hingga kini pencegahan busuk daun sangat sulit dilakukan selain penyemprotan fungisida. “Pelebaran jarak tanam belum mampu menekan serangan penyakit karena penularan melalui angin yang sangat cepat,” kata Febi. Menurut Asih Kartasih Karyadi, salah satu pencegahan yang memungkinkan untuk dilakukan adalah dengan penggunaan benih varietas kentang yang toleran busuk daun seperti repita, tango, dan margahayu. Ketiganya sudah dilepas Balitsa pada 2008 silam dengan ragam keunggulan seperti produktivitas tinggi mencapai 30—32 ton/ha untuk repita, 33,5 ton (tango), dan 24 ton (margahayu).

Sungguh beruntung bagi Hendra, sejak mengikuti anjuran PT Bayer Indonesia dalam mengatasi busuk daun, kerugiannya hanya 20—30%. Padahal, pekebun kentang lain yang tidak patuh anjuran para petugas lapang kerugiannya lebih tinggi lagi. “Mereka rata-rata mengalami kerugian hingga 40—50%,” kata petani sejak 10 tahun silam itu.

Fungisida

Hendra mulai mencegah kedatangan busuk daun sejak kentang berumur 10 hari setelah tanam (lihat ilustrasi). Ia menyemprotkan fungisida itu 4—7 hari sekali. Namun, jika tanaman sudah terserang di atas 5% interval penyemprotan lebih cepat, yakni 3 hari. Menurut Febi, perkembangbiakan phytophthora itu sekitar 3 hari, sehingga ia menyarankan untuk melakukan penyemprotan 3 hari sekali ketika tanaman sudah mulai terserang.

PT Bayer memiliki beragam pilihan fungisida untuk kentang seperti fungisida Antracol yang memiliki bahan aktif propineb, ada juga Previcur (propamocarb HCl), Trivia (propineb 66,7%, dan fluopikolid 6%). “Penggunaan fungisida sebaiknya imbang antara kontak dan sistemik,” kata Febi.

Bakteri

PT Kalatham juga memiliki fungsida untuk kentang seperti Masalgin 50 WP dan Velimek 80 WP. Masalgin memiliki bahan aktif benomil, sementara Velimek mengandung maneb 70% dan zineb 8%. Menurut  Kepala Pemasaran PT Kalatham, Ahmad Santosa, dua fungisida itu efektif dalam pencegahan maupun pengobatan tanaman kentang yang terserang penyakit.

Fungisida lain sebagai antibakteri maupun cendawan bernama Bioback. “Produk bioback adalah fungisida organik,” kata Hou Shuan Yu, bio division PT Makmur Fantawijaya Chemical Industries, produsen pestisida di Jakarta Pusat. Fungisida tersebut mengandung bakteri baik untuk tanaman yaitu bakteri Bacilus subtilis.

PT Dow AgroSciences Indonesia di Jakarta juga memiliki fungisida untuk mengatasi musuh nomor satu pekebun kentang itu. Aviantara Budi Prasetyo, Bagian Pemasaran Spesialis Tanaman dan Sayuran menuturkan, fungisida perlu diaplikasikan 3 minggu setelah tanam. PT Dow AgroSciences Indonesia memiliki fungisida andalan petani bermerek Dhitane dengan bahan aktif mankozeb.

“Untuk penyemprotan dosisnya 1,2—2,4 kg per hektar,” kata Aviantara. Selain itu, Dhitane juga mengandung unsur mangan (Mn) sebesar 150 g/ kg. “Unsur mangan dapat membuat tanaman lebih sehat karena nutrisi mikronya dapat tercukupi,” kata Aviantara.

PT Bina Guna Kimia (FMC Indonesia) di Jakarta memiliki fungisida pemberantas busuk daun. Darmawan Sandi Susilo, Manajer Cabang menuturkan serangan pyhtophthora memang paling ditakuti pekebun kentang. “FMC punya pemberantas yang efektif untuk pyhtophthora yaitu Raksasa 80 WP,” tuturnya.

Raksasa 80 WP merupakan fungisida kontak berbahan aktif mankozeb. “Dalam waktu dekat ini, namanya akan kami ganti dengan Raksamax 80 WP,” kata Darmawan. Untuk musim kemarau penyemprotan bisa dilakukan 5 hari sekali, sementara ketika musim penghujan menjadi 2—3 kali. “Musim hujan serangan phytophthora lebih gencar,” kata Darmawan.(Bondan Setyawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software