Kentang Baru Ungu

Filed in Majalah, Sayuran by on 13/02/2020

Kentang kreasi Rudy Madiyanto berdaging ungu.

 

Kentang berbatang ungu menghasilkan umbi ungu. Cocok sebagai kentang goreng bercita rasa lezat.

Rudy Madiyanto merakit kentang berdaging ungu kehitaman sejak 2016.

Petani sekaligus pemulia tanaman kentang mandiri di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Jawa Timur, Rudy Madiyanto menyodorkan tanaman kentang dalam pot. Tinggi tanaman kurang lebih 40 cm. Sepintas tak ada yang spesial dari tanaman itu. Namun, jika dilihat lebih dekat, batang tanaman ungu kehitaman. Berbeda dengan tanaman yang lazimnya berbatang hijau gelap.

Rudy menanam kentang berbatang ungu di Sumberbrantas berketinggian 1.400—1.700 meter di atas permukaan laut. Luas penanaman 400 m2 pada 2017. Populasi mencapai 1.800 tanaman. Masa budidaya selama 100 hari. Bandingkan dengan kentang bahan baku keripik lain panen pada umur 100—110 hari. Yang menakjubkan, daging umbi kentang itu juga berwarna ungu. Rudy memanen setara 20—22 ton kentang per ha.

Rasa enak

Selama ini belum ada kentang berumbi ungu. Rudy menuturkan, “Saya kira kentang berdaging ungu kehitaman itu masih asing di Indonesia dan menarik untuk dibuat keripik. Di samping unik, warna ungu itu menunjukkan kandungan antioksidan yang tinggi. Jadi, selain nikmat juga mneyehatkan.” Menurut peneliti kentang dari Balai Penelitian Sayuran (Balitsa), Kusmana, S.P., Kementerian Pertanian belum pernah melepas kentang berdaging ungu.
“Kalau koleksi plasma nutfah sepertinya ada, tapi belum pernah dilepas sebagai varietas unggul,” ujar Kusmana. Hal itu karena preferensi konsumen belum mengarah pada kentang ungu. “Sejauh ini baru kentang-kentang unggul yang disukai pasar seperti berdaging putih dan kuning plus keunggulan lain seperti penampilan menarik dan produktif,” kata Kusmana. Penampilan kentang berdaging ungu menarik dan kemungkinan mengandung antioksidan tinggi.

Kentang lazimnya berdaging kuning atau putih.

Menurut Kusmana untuk konsumsi terutama pasar keripik, umbi kentang harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar penampilannya tetap terjaga hingga di tangan konsumen. “Syarat itu di antaranya kadar pati tinggi, gula reduksi sedikit, dan specific gravity (SG) tinggi,” ujar peneliti kelahiran Bandung 6 Oktober 1963 itu. Kadar pati tinggi di atas 10%, gula reduksi maksimal 0,2%, dan specific gravity minimal 1,070.

Rudy Madiyanto belum pernah menguji ketiganya. Namun, ia menguji coba dengan membuat keripik berbahan kentang hasil rakitannya. “Rasanya bisa diadu dengan keripik kentang dari jenis lain,” ujarnya. Selain itu, ketika diproses, kentang tidak gosong. Berbeda dengan kentang berdaging ungu asal negeri Belanda. Ia pernah mengolah kentang ungu dari Belanda tetapi umbi kentang gosong menjadi kecokelatan.

Petani kelahiran 2 Juli 1978 itu yakin, kentangnya akan menjadi primadona penikmat keripik. Harap mafhum, cita rasa keripik kentang ungu gurih dan renyah. Ia menduga ketika muncul di pasar, banyak yang mengira keripik kentang itu menggunakan pewarna buatan sehingga berdaging ungu kehitaman. Oleh karena itu, perlu edukasi dengan menunjukkan secara langsung prosesnya.

“Biasanya benih kentang ini terselip di antara benih kentang yang petani tanam. Benihnya tercampur dengan benih kentang lain yang dikehendaki petani,” ujar Rudy. Ia mendapatkan kentang berdaging ungu itu di daerah Junggo, Kotamadya Batu, Jawa Timur. Ketika tumbuh dan berumbi, kentang berbatang ungu itu masuk sortir. “Saya menemukannya menjelang magrib. Kentang itu bukan yang dikehendaki petani, jadi biasanya dibuang oleh petani,” ujar perakit kentang unggul varietas madisu AP 4 yang telah memperoleh hak Perlindungan Varietas Tanaman dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia itu.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Ungu kehitaman

Rudy mulai meneliti kentang berbatang ungu kehitaman secara mandiri pada 2016. Kentang itu ternyata memiliki kelemahan pada serangan penyakit penyakit hawar daun akibat cendawan Phytophthora infestans. Statusnya rentan. Rudy menyilangkan kentang unik itu dengan kentang KR yang tahan terhadap penyakit phytophthora dan memiliki umbi bercita rasa yang cocok untuk industri keripik.

Tanaman induk kentang berbatang ungu kehitaman.

Proses penelitian selama tiga tahun itu menghasilkan 8 kentang jenis baru. Ia memilih tiga jenis semua berdaging ungu kehitaman. Ketiga kentang itu memiliki kulit luar yang berbeda-beda yakni kuning, hitam, dan ungu. Rudy mengembangkan ketiga jenis kentang baru itu. Hasil budidayamenunjukkan produksi per tanaman 1,5—2 kg umbi. Jika populasi 14.000 tanaman, produktivitas mencapai 20—22 ton per ha.

Selain itu ketiga kentang itu relatif tahan serangan phytophthora. Saat ini Rudy memperbanyak kentang ungu di lahan 200 m2 untuk produksi benih kentang G0. “Saya juga sedang penjajakan pasar. Agar lebih cepat lagi kentang ini berkembang,” ujar alumnus Universitas Brawijaya, Malang itu. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software