Kementrian PUPR Mendukung Perkotaan Bebas Karbon

Filed in Peristiwa by on 12/10/2021

Direktur Jenderal Cipta Karya, Ir. Diana Kusumastuti, M.T (tengah) dan Puteri Indonesia Lingkungan 2020, Putu Ayu Saraswati (kanan) hadir sebagai narasumber

Kementrian PUPR berkomitmen mengurangi emisi karbon

Hari semakin siang di kompleks Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia. Para wartawan dari berbagai media tengah mengantre untuk melakukan tes PCR sebelum memasuki ruang Media Center guna menghadiri press briefing. Panitia baru mengizinkan awak media masuk ke ruangan setelah semua dinyatakan negatif dari virus Covid-19 yang masih mewabah di tanah air.  Jarum jam menunjukkan pukul 12 siang ketika press briefing dimulai.

Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengadakan press briefingpada Senin, 4 Oktober 2021 untuk memperingati Hari Habitat Dunia (HDD) dan Hari Kota Dunia (HKD). Tema yang diangkat pada helatan HHD dan HKD tahun ini adalah “Mewujudkan Aksi Perkotaan untuk Dunia Bebas Karbon dan Tangguh Perubahan Iklim”. HHD dan HKD sendiri merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan pada bulan Oktober oleh semua negara anggota PBB, termasuk Indonesia. Hal ini mencerminkan komitmen dan keterlibatan Indonesia dalam mewujudkan permukiman dan perkotaan yang berkelanjutan melalui peningkatan kesadaran semua pihak.

Hadir sebagai narasumber adalah Direktur Jenderal Cipta Karya Kementrian PUPR, Ir. Diana Kusumastuti, M.T. Diana mengatakan bahwa untuk mendukung pengurangan emisi karbon, Kementrian PUPR telah menerbitkan peraturan terkait pembangunan infrastruktur ramah lingkungan melalui Peraturan Menteri (Permen) PUPR No. 9 tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan dan Permen PUPR No. 21 tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau (BGH). “Bangunan Gedung Hijau bukan serta merta warnanya hijau tetapi bangunan yang memanfaatkan energi terbarukan dan memerhatikan keberlangsungan lingkungan” terang Diana. Penerapan BGH ini diwujudkan dalam pembangunan kantor Kementrian PUPR, pasar tradisional, dan rumah susun yang hemat energi. Bahkan, Diana mengungkapkan bahwa bangunan gedung yang didirikan di Kementrian PUPR sudah mendapatkan penghargaan tingkat ASEAN untuk kategori Energy Efficient Building pada kategori Bangunan Tropis.

Sebelum memasuki ruangan press briefeing, awak media menjalankan tes PCR

Pengurangan emisi karbon dari sektor persampahan juga dilakukan dengan melanjutkan program-program pengelola sanitasi (air limbah domestik dan persampahan) sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. RPJMN memandatkan 100% sampah perkotaan dikelola dengan baik melalui 80% penanganan dengan memberikan dukungan kepada pemerintah daerah berupa penyediaan infrastruktur Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan 20% pengurangan sampah dengan menyediakan Tempat Pengelolaan Sampah dengan prinsip Reuse, Reduce, and Recycle (TPS 3R). Tidak lupa juga menyediakan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) setiap tahunnya. Selain itu Kementrian PUPR juga mendorong pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar alternatif. Salah infrastruktur tersebut ada di Kabupaten Cilacap. Sampah yang masuk ke infrastruktur ini akan diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF)yang bisa dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil (batu bara).

Direktur Jenderal Cipta Karya itu juga mengatakan bahwa komitmen dan capaian Indonesia dalam mewujudkan permukiman dan perkotaan yang berkelanjutan juga akan disampaikan kepada UN-Habitat melalui pelaporan implementasi New Urban Agenda (NUA)/ Agenda Baru Perkotaan (ABP).

Puteri Indonesia Lingkungan 2020, Putu Ayu Saraswati turut hadir sebagai pembicara. Putu Ayu mengajak masyarakat Indonesia untuk turut serta menekan keluaran emisi karbon. “Kita semua memiliki andil besar untuk bersinergi membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai kota yang bebas karbon” ujarnya. Menurutnya usaha menekan emisi karbon bisa dimulai pada ruang lingkup terkecil yaitu dari rumah sendiri. Ada berbagai cara, salah satunya dengan menerapkan prinsip 3R Reuse, Reduce, and Recycle. Selain itu juga dengan menghemat energi listrik. Matikan elektronik-elektronik yang tidak terpakai. Menghemat energi dapat menyebabkan pengehamatan uang.  Putu Ayu juga mendorong masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. Semakin banyak orang menggunakan transportasi umum diharapkan emisi karbon yang dikeluarkan oleh kendaraan pribadi bisa berkurang. Cara lain untuk menekan emisi karbon adalah dengan membeli bahan-bahan pangan lokal. “Dengan membeli bahan pangan lokal, emisi karbon yang dikeluarkan pada saat proses pengiriman dapat berkurang.” katanya.   Menanam tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah juga menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon. Menurut Putu Ayu tumbuh-tumbuhan dapat berfungsi sebagai bio-filter yang murah dan ramah lingkungan.

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software