Kembalinya Durian Seupah

Filed in Buah, Majalah by on 04/07/2019

Durian si seupah tergolong istimewa dengan warna daging buah jingga dan rasanya yang creamy dan dominan legit.

 

Sejak sohor sebagai juara kedua kontes durian di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, durian si seupah tiba-tiba “menghilang” di pasaran.

“Saya punya durian istimewa,” ujar penjelajah durian asal Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Iwan Subakti, sambil menyingkap taplak sebuah meja pada Festival Durian Banten 2019. Iwan yang menjadi panitia kontes menyimpan tiga buah durian yang diikat menggunakan tali plastik di bawah meja. “Nanti kita cicip bersama-sama setelah kontes selesai,” ujarnya. Pada sore hari kontes durian pun usai.

Iwan menempati janjinya untuk bersama-sama mencicipi ketiga buah durian itu. Ia lalu mengajak ke sebuah balai bambu. Para penggemar durian pun tidak sabar menanti Iwan membelah ketiga durian. Begitu terbelah, tampak daging buahnya kuning semu jingga. “Yang saya cicip sebelumnya bahkan lebih jingga,” tutur pengurus Yayasan Durian Indonesia (YDI) itu. Tekstur daging buah begitu lembut dan creamy sehingga lengket di lidah. Rasa daging buah dominan manis.

Si seupah

Menurut Iwan durian yang dicicipi bersama itu adalah durian si seupah. Mendengar nama itu mengingatkan pada jenis durian yang sohor pada 2010 saat Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menggelar kontes durian. Durian si seupah milik Adung asal Desa Saruni, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, ketika itu meraih juara kedua. Dalam kontes itu juara pertama diraih durian si radio milik Jamaludin asal Desa Tapos, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang bekerja sama dengan tim pengelolaan sumber daya genetik Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Banten serta tim pendaftaran dan pelepasan varietas Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH) Banten. Mereka mendaftarkan si seupah dan si radio ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian.

Dalam proses pendaftaran itu si seupah terdaftar lebih dahulu, yakni pada 2014 melalui surat keputusan nomor 108/Kpts/SR.120/D.2.7/12/2014. Adapun si radio baru terdaftar dua tahun berikutnya dengan nomor registrasi Dr.Lk./BT/113/2016. Namun, sejak kontes durian usai, si seupah seperti lenyap tanpa jejak. “Para pedagang durian tidak ada yang menjual durian si seupah,” ujar Iwan Subakti.

Iwan Subakti berdiri di sisi akar banir pohon durian seupah.

Semula Iwan menduga pohon si seupah senasib dengan si radio yang kini merana dan mogok berbuah. Sejak menjadi jawara kontes durian banyak yang memburu entres si radio untuk perbanyakan vegetatif dengan cara sambung pucuk. Pengambilan entres yang berlebihan membuat pohon induk si radio kekurangan daun. Padahal, daun merupakan “pabrik” makanan bagi sang pohon melalui proses fotosintesis.

Dibeli pengusaha

Akibat kekurangan daun itu sangat fatal. Pohon merana sampai akhirnya mogok berbuah. Hingga kini para penggemar durian tak lagi bisa mencicipi lezatnya si radio. Akhirnya banyak beredar si radio abal-abal di pasaran. Pada 2019 titik terang terlihat saat Iwan memperoleh kabar bila pohon si seupah masih lestari dan rajin berbuah. Iwan pun mengunjungi lokasi pohon induk si seupah dan menemui pengelola kebun.

Ternyata penyebab “menghilangnya” buah si seupah lantaran kepemilikan pohon induk berpindah tangan. Pohon induk “dibeli” oleh seorang pengusaha. Sayangnya identitas sang pembeli pohon dirahasiakan untuk melindungi privasi yang bersangkutan. Kondisi pohon induk tampak masih prima dan rutin berbuah setiap tahunnya. Menurut Iwan setiap kali musim berbuah, si seupah hanya dikonsumsi oleh keluarga dan kolega sang pengusaha.

Iwan lalu mencoba memperoleh buah melalui pengelola kebun yang merawat si seupah. Upaya itu membuahkan hasil. Sejak musim berbuah pada 2018 Iwan memperoleh “jatah” buah si seupah meski hanya beberapa durian. “Kualitas buah si seupah tergolong istimewa bila dibandingkan dengan durian lokal asal Banten. Yang menggembirakan, kualitas buahnya terjaga hingga sekarang,” ujarnya.

Bahkan, Iwan pernah mencicipi si seupah dengan warna daging buah yang jingga pekat. “Itu membuktikan pengelola kebun bersungguh-sungguh merawat si seupah,” kata Iwan. Menjelang Festival Durian Banten 2019 Iwan memperoleh buah si seupah. “Saya sengaja membawa durian si seupah untuk dicicipi para penggemar durian,” tuturnya. Para pehobi yang mencicipinya sepakat bila si seupah dapat menjadi varietas lokal yang layak dikembangkan. Dengan begitu si seupah tak lagi hanya sebatas kisah. (Imam Wiguna)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software