Kembali Menggelar Seminar Nasional Antipemalsuan, CropLife Indonesia Terus Berkomitmen Memerangi Pestisida Palsu dan Ilegal

Filed in Peristiwa by on 22/10/2020

Pestisida palsu dan ilegal tidak hanya merugikan petani, tapi juga dikhawatirkan mengganggu pencapaian program swasembada dan ketahanan pangan sebagaimana nawacita pemerintah pada sektor pertanian. Hal itulah yang mendasari asosiasi nirlaba yang mewakili kepentingan petani dan industri benih dan pestisida, yaitu CropLife Indonesia, untuk terus menyebarluaskan pemahaman dan pengetahuan (awareness) bahaya peredaran pestsisida palsu dan ilegal.

CropLife Indonesai pun kembali menggelar seminar nasional Antipemalsuan/Anticounterfeit yang bertajuk Sinergi Penegakan Hukum (Antipemalsuan) dalam Pencapaian Program Swasembada dan Ketahanan Pangan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Chairman CropLife Indonesia, Kukuh Ambar Waluyo, mengatakan kegiatan yang berlangsung pada 21—22 Oktober 2020 menghadirkan beberapa stakeholders terkait seperti Kementerian Pertanian, Direktorat Tipidter Bareskrim Polri, Dinas Pertanian, aparat penegak hukum dari Kejaksaan Negeri, Pengadilan Negeri, Bea Cukai, serta perwakilan beberapa Reskrim Polres dari wilayah Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, sekaligus Ketua Komisi Pestisida Republik Indonesia, Dr. Sarwo Edhy, S.P. M.M., membuka secara resmi seminar nasional yang tetap menerapkan teknis protokol kesehatan sesuai dengan arahan pemerintah itu. “Kehadiran para stakeholders tersebut dalam kegiatan itu merupakan upaya untuk menyamakan persepsi serta memperkuat sinergisitas penegakan hukum sehingga akan semakin banyak pengungkapan kasus yang dilakukan di wilayah lainnya,” kata Kukuh.

Sindikat peredaran palsu terungkap

Selain itu, tentunya memperkuat upaya dan mekanisme pelaporan yang berorientasi pada penegakan hukum yang maksimal sehingga peredaran pestisida palsu dan ilegal dapat diminimalisir. Titik awal prestasi atas sinergi dan kolaborasi kegiatan yang dilakukan oleh para stakeholders terkait  di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terjadi pada Februari 2019. Saat itu sinergi dan kolaborasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kepolisian Resort Brebes, dan Kejaksaan Negeri Brebes berhasil membongkar sindikat peredaran pestisida palsu dan menyeret para pelaku hingga ke tingkat pengadilan dan menjatuhkan hukuman pidana kepada para tersangka.

Sinergi dan kolaborasi itu terus dilakukan hingga awal 2020 melalui pengembangan kasus 2019. Hasilnya Kepolisian Resort Brebes berhasil mengungkap jaringan pemalsu pestisida yang berkedok sebagai pengepul wadah kemasan pestisida. Saat itu Kepolisian Resort Brebes mengamankan barang bukti 10 ton setara jutaan kemasan bekas pestisida yang akan didaur ulang. Tim Kepolisian Resort Brebes juga menyita ratusan kemasan pestisida palsu siap edar di beberapa wilayah antara lain Medan, Sumatera Utara, Lampung, dan Pulau Jawa. Tidak tanggung-tanggung, para pelaku pemalsuan dapat meraup keuntungan minimal Rp20 juta dalam sekali produksi.

Pestisida memang menjadi salah satu produk pertanian yang sangat rentan untuk dipalsukan lantaran tingginya tingkat kebutuhan produk itu di pasar. Meningkatnya penggunaan pestisida karena perubahan iklim dunia yang menyebabkan siklus hujan dan kemarau makin tidak menentu. Hal itu mampu mendorong pertumbuhan organisme pengganggu tanaman (OPT) semakin masif di area-area pertanian.

Upaya yang dilakukan CropLife Indonesia untuk terus berkomitmen memerangi produk palsu dan ilegal sejalan dengan kerangka kerja dan komitmen para anggota perusahaannya yang terdiri dari BASF, Bayer, Corteva, FMC, Nufarm, dan Syngenta, yang selalu menjunjung tinggi etika berbisnis yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberikan pemahaman dan menyampaikan misi dengan mengusung tema edukasi yang berbeda antara lain: tanggung jawab penggunaan (Stewardship) yang meliputi: pengendalian hama dan penyakit terpadu, lima aturan utama pestisida yang meliputi; memahami label, mengerjakan dengan hati-hati, merawat sprayer (alat semprot) dengan baik, menjaga kebersihan diri, dan kenakan alat pelindung diri (APD) serta pengelolaan resistensi serta adopsi tehnologi pertanian lainnya termasuk bioteknolgi dan benih.

 

 

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software