Kelinci untuk Ketahanan Pangan

Filed in seputar agribisnis by on 05/10/2010 0 Comments

Sebetulnya masyarakat pedesaan memelihara unggas, meski dalam jumlah kecil, sebagai tabungan. Mereka memelihara secara umbaran, tanpa biosekuritas yang memadai sehingga menimbulkan potensi merebaknya penyakit. Salah satu alternatif model penanggulangan berbagai kasus di atas adalah kelinci. Budidaya kelinci dapat menjadi usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pada skala usaha mikro dan kecil, dan membuka peluang usaha agribisnis berorientasi industri alias komersial.

Unggul

Kelinci berpotensi cepat tumbuh dan berkembang biak. Hewan keluarga Leporidae itu mampu beranak 4 – 10 kali per tahun, masing-masing 4 – 10 anak setiap kelahiran. Pakan kelinci yang herbivora itu berupa hijauan sehingga mudah diperoleh di pedesaan. Oleh karena itu biaya produksi relatif rendah.

Tubuh kelinci relatif kecil (2,5 – 3,5 kg), memungkinkan dipelihara di lahan sempit. Selain halal, daging kelinci kaya protein, serta rendah kolesterol dan lemak, sehingga tidak khawatir dikonsumsi oleh para penderita sakit jantung atau penyempitan pembuluh darah.

Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa produktivitas seekor kelinci mencapai 40 kg bobot hidup per tahun. Bahkan di negara maju seekor kelinci mencapai bobot 120 kg. Bandingkan seekor induk sapi yang menghasilkan 200 kg; domba 75 kg per tahun. Artinya, dalam menghasilkan daging, 5 induk kelinci setara 1 induk sapi, atau 2 induk kelinci setara 1 induk domba.

Saat ini minat usaha kelinci berkembang pesat dengan permintaan tinggi untuk daging maupun satwa hias. Namun, pasokan tidak mencukupi meski jumlah peternak terus meningkat. Contoh, kebutuhan kelinci sebagai satwa klangenan di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Magelang (Jawa Tengah), dan Brastagi (Sumatera Utara) pada 2007 masing-masing mencapai 12.000 – 15.000 ekor, 7.500 ekor, dan 7.000 ekor per bulan. Kemampuan pasok saat itu hanya 7.000 – 10.000 per ekor, 3.000 ekor, dan 3.000 – 4.000 ekor per bulan.

Kebutuhan daging, untuk ketiga lokasi itu masing-masing 6.000 – 6.400 kg, 2.500 – 3.000 kg, dan 500 kg per bulan. Bandingkan dengan kemampuan pasok yang hanya 4.000 – 4.500 kg, 600 – 800 kg, dan 250 – 300 kg per bulan. Di Lembang, Jawa Barat, dan sekitarnya saat ini tercatat lebih dari 3.400 kepala keluarga (KK) peternak kelinci, sedangkan di Magelang, lebih dari 1.800 peternak, dan Brastagi, 300 peternak. Kepemilikan rata-rata 5 – 30 ekor induk per peternak dan lebih dari 90% dalam kisaran 8 – 15 induk per peternak.

Saat ini, kelinci berkembang hampir di seantero Nusantara. Daerah yang menjadi produsen dan konsumen kelinci yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Populasi kelinci yang tercatat oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi pada 2007 adalah di Lembang dan sekitarnya 123.000 induk, di 10 kabupaten di Jawa Tengah 183.000 induk, Magelang 33.000 induk, Brastagi 12.000 induk, Papua 2.000 induk, serta Batu dan Malang 30.000 induk (2009).

Bila 4 anak dari tiap induk dipelihara – sebelum dijual – populasi di tiap daerah itu menjadi 4 kali lipat. Jika Lembang dijadikan contoh untuk perhitungan secara ekonomi, dari 123.000 induk menghasilkan 344.000 ekor anak tiap 2 bulan (persentase kebuntingan 70%, dengan jumlah anak 4 ekor per induk). Saat ini harga lepas sapih berumur 1 bulan mencapai Rp10.000 per ekor. Dari perhitungan itu maka total uang berputar hampir Rp3,5-miliar per 2 bulan. Jika kelinci dipelihara sampai berumur 4,5 bulan atau berbobot 2,5 kg nilainya lebih besar lagi. Harga kelinci potong itu Rp15.000 per ekor, maka nilai perputaran uang mencapai Rp13-miliar dalam 2 bulan. Suatu nilai luar biasa di tingkat pedesaan.

Paket pengembangan

Sebagai gambaran kecepatan pengembangan, 1 paket terdiri atas 15 induk betina dan 2 pejantan diberikan kepada seorang peternak. Jika 75% hasilnya untuk pemelihara dan 25% sisanya digulirkan kembali kepada pemberi modal, dalam waktu 1 tahun dapat diperoleh 3 peternak baru lain yang dapat mengusahakan kelinci model serupa. Melalui pemeliharaan 15 induk dan 2 pejantan itu, cukup memadai untuk memenuhi konsumsi protein hewani 20 g/kapita/hari dalam sebuah keluarga dengan 4 anggota. Itu di luar tambahan pendapatan Rp360.000 per bulan.

Peternak cukup memberi pakan berupa 15 kg hijauan dan 1 kg ampas tahu atau dedak per hari. Hasilnya adalah 105 kg bobot hidup setara 52,5 kg karkas atau 42 kg daging dari 15 induk setiap 2 bulan. Bobot itu mengandung 8.400 g protein (15 x 0,7% kebuntingan x 4 ekor anak x 2,5 kg bobot hidup umur 4,5 bulan). Jika tiap kepala keluarga yang terdiri 4 orang memperoleh 20 g protein per hari, butuh 80 g protein/KK/hari. Bandingkan dengan konsumsi protein hewani per kapita penduduk Indonesia: 5,7 g/hari.

Jumlah itu sama dengan 4.800 g protein per 2 bulan. Artinya, masih terdapat kelebihan 3.600 g protein setara 18 kg daging. Bila harga daging Rp40.000/kg, peternak memperoleh pendapatan Rp720.000 per 2 bulan. Pendapatan itu akan bertambah jika dilakukan integrasi dengan usaha lain, seperti: penanaman sayuran dan bunga, pengolahan daging, pengolahan kulit-bulu, dan pengolahan pupuk organik bermutu tinggi.

Konsep ‘Kampung Kelinci’ berorientasi komersial dan sosial, yang memberikan dana operasional Rp250-juta untuk membangun beragam fasilitas. Bila 75% produk digunakan untuk membiayai aktivitas pembibitan dan 25% untuk bantuan pada peternak, dalam setahun muncul 40 pembibit baru. Pusat pembibitan mandiri terisi 150 induk dengan produksi 450 – 600 ekor per 2 bulan.

Selain itu, melalui 10 kooperator awal dan 25% produksi, maka dapat dibentuk 30 kooperator baru tiap tahun. Artinya dalam 1,5 – 2 tahun, dari sejumlah dana itu satu kampung dengan 100 KK dapat memelihara masing-masing 15 induk dan 2 pejantan yang dapat mencukupi kebutuhan gizi keluarga dan pendapatan per bulan Rp360.000.

Dalam waktu sama, dengan pengelolaan benar dan terarah, Kampung Kelinci dapat berkembang menjadi Kampung Industri Kelinci. Kampung Kelinci sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi pendapatan dan pekerjaan masyarakat setempat.

Yang perlu diperhatikan, pasar terbuka dan harga tinggi bisa menyebabkan pengurasan ternak dan ancaman ketersediaan bibit dari segi jumlah maupun mutu. Selain itu peternak perlu memperhatikan manajemen budidaya agar tidak terjadi kenaikan mortalitas (kematian) dan penurunan produktivitas. Sehingga, ketersediaan pasokan tidak terancam dan tidak terjadi penurunan pasar.***

*) Peneliti Produksi Kelinci dan Nutrisi Hewan, Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor.

 

Powered by WishList Member - Membership Software