Kelapa Sawit Taktik Atasi Aral

Filed in Inspirasi, Majalah by on 09/04/2019

Tanaman sawit rentan serangan hama dan penyakit.

Serangan hama dan penyakit menjadi ancaman kelapa sawit. Pengendalian kimiawi yang aman menjadi solusi.

Hama ulat api Setothosea asigna dan ulat kantung Metisa plana hingga kini masih menjadi momok bagi pekebun kelapa sawit. Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Sumatera Utara, serangan hama ulat menurunkan produktivitas kelapa sawit hingga 40% atau setara dengan 6,4 ton per hektare. Menurut manager unit kebun PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V Provinsi Riau, Choiri, untuk mengatasi Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDK), pihaknya menerapkan pengendalian secara biologi. Salah satunya dengan menanam bunga pukul delapan Turnera subulata di sekitar lahan.

Hama ulat api menjadi pengganggu yang paling sering ditemui pada pokok kelapa sawit

Choiri menuturkan tanaman itu menjadi tanaman inang bagi serangga pemakan ulat api. Ia juga menanam Antigonon leptosus alias air mata pengantin. Tanaman itu diharapkan dapat menjadi singgasana kepik predator Cosmolestes. Sayangnya pengendalian secara biologis dan ramah lingkungan itu hasilnya sulit diprediksi dan perlu biaya relatif lebih tinggi. Waktu pengendalian pun lebih lama.

Antiulat

Oleh sebab itu, agar lebih cepat mengatasinya, produk Prevathon 50 SC dapat menjadi andalan. Produk dari PT Bina Guna Kimia (FMC) itu berbahan aktif klorantinilkiprol. Zat antiulat itu memiliki label hijau yang artinya aman untuk diaplikasikan. Menurut Business Manager Estate and Plantation FMC, Ari Panca Nugraha, dosis aplikasi bervariasi dari 500—700 ml per liter air. “Tergantung tingkat serangan,” kata Ari Panca. Cukup semprotkan Prevathon pada bagian tanaman yang terserang.

Agil 100 EC. Sasaran spesifik pada gulma, tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman penutup tanah.

Namun, pekebun tak perlu khawatir. Zat antiulat itu aman terhadap musuh alami. Angka residu terhadap makhluk lain hanya sebesar 3%. Hasil uji dosis lethal (LD50) sebesar 4.000. Artinya, tingkat mematikan zat itu rendah. Pekebun juga bisa menggunakan Marshal 5 GR. Produk legendaris dari FMC itu telah 20 tahun digunakan para pekebun kelapa sawit. Dengan dosis 3—6 g per liter air bisa memberikan efek mematikan pada ulat kantung dan ulat api selama 30 hari, tapi tetap aman bagi kumbang penyerbuk.

Atasi gulma

Ari Panca Nugraha, Business Manager Estate and Plantation PT Bina Guna Kimia (FMC)

Selain hama, gulma pun turut merongrong kelapa sawit. Menurut Choiri, gangguan produktivitas sawit akibat gulma mencapai 20%, terutama gulma dari kelompok pakis Nephrolepis biserrata. Penyiangan gulma dengan tenaga manusia perlu biaya tinggi untuk membayar upah. Oleh sebab itu, penggunaan herbisida kimia dapat menjadi salah satu jalan untuk pengendalian. Salah satunya produk dari PT Royal Agro, yakni Raiquat 276 SL yang berbahan aktif parakuat diklorida. Herbisida itu ampuh memerangi pertumbuhan gulma, baik gulma berdaun lebar maupun berdaun sempit.

Herbisida kontak purna tumbuh itu diproses dengan teknologi yang mutakhir. Dosis aplikasi cukup dengan 1,5—3 liter per hektare. Selain itu, ada juga Agil 100 EC yang berbahan aktif propaquizafop. Herbisida itu menyerang gulma secara sistemik. Namun, produk itu hanya efektif untuk memberantas gulma berdaun sempit dengan dosis aplikasi 1—1,5 liter per hektare. Tiga sampai empat hari pascaaplikasi, pertumbuhan gulma sasaran akan terhenti. Herbisida itu menyerang gulma dengan mematikan jaringan muda. Seluruh tanaman akan mati 10—20 hari berikutnya.

Satria Bramanto, Marketing Manager PT Royal Agro

Kehadiran jamur Ganoderma juga menjadi ancaman. Namun, hingga saat ini belum ada solusi yang mumpuni untuk mengatasinya. Para pekebun terpaksa membongkar tanaman yang terserang jamur untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, lalu menggantinya dengan tanaman baru. Hingga saat ini industri minyak kelapa sawit masih menjadi andalan tanah air untuk mendatangkan devisa negara dan menyerap tenaga kerja.

Itulah sebabnya pemerintah terus menggenjot produksi kelapa sawit baik perusahaan milik negara maupun swasta. Namun, bukan berarti industri dan perkebunan kelapa sawit tumbuh tanpa kendali. Dengan kendali pemerintah, diharapkan industri kelapa sawit di Indonesia semakin ramah lingkungan. Dampak aktivitas pengolahan minyak kelapa sawit harus diperhatikan baik jangka pendek maupun jangka panjang. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software