Kelapa Sawit Hebat Hulu Hilir

Filed in Perkebunan by on 31/12/2010 0 Comments

Nama varietas baru kelapa sawit itu adalah D x P PPKS 239 hasil riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara. Selain genjah alias cepat berbuah, pendatang baru itu juga berproduksi menjulang. Pada panen perdana umur 2 tahun, produksi mencapai 10 ton tandan buah segar (TBS) per ha. Varietas-varietas lain menghasilkan produksi sebanyak itu pada umur 3 tahun. Jika harga TBS Rp1.350 – Rp1.380 per kg, omzet pekebun Rp13,5-juta – Rp13,8-juta per ha.

Jumlah TBS terus meningkat seiring bertambahnya umur pohon. Ketika pohon berumur 4 – 6 tahun, misalnya, jumlah TBS membubung hingga 30 ton per ha per tahun. Produksi kembali melambung hingga 32,6 ton per ha per tahun ketika pohon anggota famili Arecaceae itu berumur 7 – 9 tahun. Panen stabil pada kisaran 30 – 32 ton saat pohon berumur 6 tahun. Itu dengan populasi 136 pohon per ha.

Minyak tinggi

Penampilan pohon tetap prima meski berumur 18 tahun dan belum ada tanda-tanda serangan organisme pengganggu tanaman. Kalau pun ada serangan, masih dalam ambang batas. Semua kelebihan itu tanpa perlakuan khusus atau penanaman secara intensif. Oleh karena itu wajar bila Kementerian Pertanian merilis D x P PPKS 239 sebagai varietas unggul pada April 2010.

Kelebihan lain PPKS 239 adalah produksi CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) tinggi. Potensi CPO, misalnya, mencapai 9,7 ton per ha per tahun. Rata-rata produksi CPO varietas terdahulu hanya 8,4 ton per ha per tahun. Dengan harga Rp7.446 per kg, artinya omzet pemilik pabrik Rp72.226.200 per ha per tahun. Pendapatan kotor itu belum termasuk penjualan dari palm kernel oil yang mencapai 1,3 ton per ha per tahun.

Bandingkan dengan produksi PKO varietas terdahulu yang hanya 0,5 – 0,9 ton per ha per tahun. Berdasarkan harga patokan eskpor pada November 2010, harga crude PKO US$1.148 setara Rp10.349.220 per ton. Varietas-varietas baru lainnya adalah D x P PPKS 540 dan D x P PPKS 718. Mesokarp atau kulit luar pada buah D x P PPKS 540 tampak tebal dan licin. Kadar CPO varietas itu sekitar 8,1 ton per ha per tahun. Sebaliknya, inti buah yang kecil sehingga produksi PKO rendah, hanya 0,6 ton per ha per tahun.

Sementara D x P PPKS 718 istimewa karena memiliki tandan besar, rata-rata berbobot 22,8 kg per tandan. Angka itu 1,5 kali lebih besar dari PPKS 540 yang berbobot 15,4 kg per tandan. Sayangnya, produksi CPO hanya 6,9 ton per ha per tahun. Meski demikian PPKS 718 memiliki inti besar sehingga kadar PKO tinggi, yakni 1,3 ton per ha per tahun, sama seperti PPKS 239. Singkat kata, ketiga varietas baru itu memang hebat di hulu atau lahan, juga hebat di hilir alias pabrik.

Inden bibit

Semua keistimewaan ketiga varietas itu melalui seleksi ketat selama 24 tahun. PPKS 239, misalnya, lahir dari hasil seleksi tahap ke-2 persilangan antara jantan tenera LM 239 T dan betina dura DA 128 D x LM 270 pada 1971. Pada PPKS 239, jantan dari tipe tenera menurunkan sifat kandungan minyak tinggi. Sedangkan betina bertipe dura mewarisi tandan besar. Para periset di lembaga itu terus melakukan seleksi dan mengidentifikasi sifat-sifat unggul. Proses seleksi dari satu persilangan perlu waktu 12 – 15 tahun. Rumitnya persilangan menyebabkan rilis PPKS 239 baru pada Juni 2010.

Tingginya produktivitas 239, 540, dan 718 seakan menjawab isu lingkungan penanaman kelapa sawit. Maklum, beberapa lembaga swadya masyarakat menganggap pembukaan lahan sawit besar-besaran merusak plasma nutfah. Apalagi investor membidik hutan primer sebagai lahan sehingga mengganggu ekosistem. Sebab itu kini pekebun melakukan budidaya intensif dengan menerapkan teknik budidaya, baik dari cara budidaya sampai manajemen panen. Intensifikasi itu bakal berjalan baik dengan sokongan bibit unggul.

Pemakaian bibit unggul tidak berpengaruh nyata terhadap biaya. Persentase pembelian bibit unggul hanya 4 – 5% dari total biaya produksi. Harga PPKS 239 hanya Rp7.000 per kecambah. Namun, untuk mendapatkannya pekebun harus menunggu sampai April – Mei 2011. Saat itu produksi kecambah mencapai 3,5-juta. Hingga kini calon pekebun harus menginden bibit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit menerima inden hingga 1-juta bibit untuk memenuhi permintaan pekebun di Sumatera dan Kalimantan.

Bibit memang menjadi titik krusial dalam budidaya kelapa sawit. Salah memilih bibit bakal berdampak buruk karena lamanya masa produksi tanaman asal Guinea itu. Dari 40% kebun rakyat, 20% di antaranya mendapatkan bibit palsu. Oleh karena itu sebaiknya pekebun membeli bibit bersertifikat dan terjamin keasliannya dari lembaga yang terpercaya. Kini PPKS mulai mengembangkan kerja sama produksi bibit di beberapa daerah: Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Sumetera Selatan. Itu untuk memudahkan pekebun mendapatkan bibit berkualitas. (Dr Abdul Razak Purba, Peneliti Pemuliaan Tanaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara)

Kelapa Sawit: Hebat Hulu Hilir

PEKEBUN TAK PERLU MENUNGGU PANEN HINGGA 3 – 4 TAHUN, VARIETAS BARU KELAPA SAWIT INI PANEN PADA UMUR 2 TAHUN.

Nama varietas baru kelapa sawit itu adalah D x P PPKS 239 hasil riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara. Selain genjah alias cepat berbuah, pendatang baru itu juga berproduksi menjulang. Pada panen perdana umur 2 tahun, produksi mencapai 10 ton tandan buah segar (TBS) per ha. Varietas-varietas lain menghasilkan produksi sebanyak itu pada umur 3 tahun. Jika harga TBS Rp1.350 – Rp1.380 per kg, omzet pekebun Rp13,5-juta – Rp13,8-juta per ha.

Jumlah TBS terus meningkat seiring bertambahnya umur pohon. Ketika pohon berumur 4 – 6 tahun, misalnya, jumlah TBS membubung hingga 30 ton per ha per tahun. Produksi kembali melambung hingga 32,6 ton per ha per tahun ketika pohon anggota famili Arecaceae itu berumur 7 – 9 tahun. Panen stabil pada kisaran 30 – 32 ton saat pohon berumur 6 tahun. Itu dengan populasi 136 pohon per ha.

Minyak tinggi

Penampilan pohon tetap prima meski berumur 18 tahun dan belum ada tanda-tanda serangan organisme pengganggu tanaman. Kalau pun ada serangan, masih dalam ambang batas. Semua kelebihan itu tanpa perlakuan khusus atau penanaman secara intensif. Oleh karena itu wajar bila Kementerian Pertanian merilis D x P PPKS 239 sebagai varietas unggul pada April 2010.

Kelebihan lain PPKS 239 adalah produksi CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) tinggi. Potensi CPO, misalnya, mencapai 9,7 ton per ha per tahun. Rata-rata produksi CPO varietas terdahulu hanya 8,4 ton per ha per tahun. Dengan harga Rp7.446 per kg, artinya omzet pemilik pabrik Rp72.226.200 per ha per tahun. Pendapatan kotor itu belum termasuk penjualan dari palm kernel oil yang mencapai 1,3 ton per ha per tahun.

Bandingkan dengan produksi PKO varietas terdahulu yang hanya 0,5 – 0,9 ton per ha per tahun. Berdasarkan harga patokan eskpor pada November 2010, harga crude PKO US$1.148 setara Rp10.349.220 per ton. Varietas-varietas baru lainnya adalah D x P PPKS 540 dan D x P PPKS 718. Mesokarp atau kulit luar pada buah D x P PPKS 540 tampak tebal dan licin. Kadar CPO varietas itu sekitar 8,1 ton per ha per tahun. Sebaliknya, inti buah yang kecil sehingga produksi PKO rendah, hanya 0,6 ton per ha per tahun.

Sementara D x P PPKS 718 istimewa karena memiliki tandan besar, rata-rata berbobot 22,8 kg per tandan. Angka itu 1,5 kali lebih besar dari PPKS 540 yang berbobot 15,4 kg per tandan. Sayangnya, produksi CPO hanya 6,9 ton per ha per tahun. Meski demikian PPKS 718 memiliki inti besar sehingga kadar PKO tinggi, yakni 1,3 ton per ha per tahun, sama seperti PPKS 239. Singkat kata, ketiga varietas baru itu memang hebat di hulu atau lahan, juga hebat di hilir alias pabrik.

Inden bibit

Semua keistimewaan ketiga varietas itu melalui seleksi ketat selama 24 tahun. PPKS 239, misalnya, lahir dari hasil seleksi tahap ke-2 persilangan antara jantan tenera LM 239 T dan betina dura DA 128 D x LM 270 pada 1971. Pada PPKS 239, jantan dari tipe tenera menurunkan sifat kandungan minyak tinggi. Sedangkan betina bertipe dura mewarisi tandan besar. Para periset di lembaga itu terus melakukan seleksi dan mengidentifikasi sifat-sifat unggul. Proses seleksi dari satu persilangan perlu waktu 12 – 15 tahun. Rumitnya persilangan menyebabkan rilis PPKS 239 baru pada Juni 2010.

Tingginya produktivitas 239, 540, dan 718 seakan menjawab isu lingkungan penanaman kelapa sawit. Maklum, beberapa lembaga swadya masyarakat menganggap pembukaan lahan sawit besar-besaran merusak plasma nutfah. Apalagi investor membidik hutan primer sebagai lahan sehingga mengganggu ekosistem. Sebab itu kini pekebun melakukan budidaya intensif dengan menerapkan teknik budidaya, baik dari cara budidaya sampai manajemen panen. Intensifikasi itu bakal berjalan baik dengan sokongan bibit unggul.

Pemakaian bibit unggul tidak berpengaruh nyata terhadap biaya. Persentase pembelian bibit unggul hanya 4 – 5% dari total biaya produksi. Harga PPKS 239 hanya Rp7.000 per kecambah. Namun, untuk mendapatkannya pekebun harus menunggu sampai April – Mei 2011. Saat itu produksi kecambah mencapai 3,5-juta. Hingga kini calon pekebun harus menginden bibit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit menerima inden hingga 1-juta bibit untuk memenuhi permintaan pekebun di Sumatera dan Kalimantan.

Bibit memang menjadi titik krusial dalam budidaya kelapa sawit. Salah memilih bibit bakal berdampak buruk karena lamanya masa produksi tanaman asal Guinea itu. Dari 40% kebun rakyat, 20% di antaranya mendapatkan bibit palsu. Oleh karena itu sebaiknya pekebun membeli bibit bersertifikat dan terjamin keasliannya dari lembaga yang terpercaya. Kini PPKS mulai mengembangkan kerja sama produksi bibit di beberapa daerah: Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Sumetera Selatan. Itu untuk memudahkan pekebun mendapatkan bibit berkualitas. (Dr Abdul Razak Purba, Peneliti Pemuliaan Tanaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara)

 

Powered by WishList Member - Membership Software