Keju Menambal Jantung Bocor

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 15/11/2019

Konsumsi keju membantu pemulihan kelainan jantung bawaan.

Konsumsi keju sejak bayi membantu pemulihan kelainan jantung pada Khadijah Claire de Luna.

Kehadiran buah hati menjadi saat paling membahagiakan semua pasangan suami istri termasuk pasangan Muhamad Najmi dan Nieta Trisillia Puspitasari. Pada 21 September 2011, lahir putri pertama mereka, Khadijah Claire de Luna. Sayang, kebahagiaan mereka segera berganti waswas. Dokter mendiagnosis Khayya—nama panggilan Khadijah—mengidap kelainan jantung. “Ada satu bilik dan satu serambi yang bocor,” kata Nieta mengulangi ucapan dokter.

Dokter menenangkan mereka dan memberi tahu bahwa ada kemungkinan kelainan itu membaik atau pulih seiring pertumbuhan sang bayi. Kalaupun masih bocor, “Selama tidak terlalu mengganggu atau mengancam kehidupan tidak apa-apa,” kata Nieta kembali mengulangi pernyataan dokter. Setelah dewasa, penderita kelainan jantung biasanya mudah lelah. Menurut Nieta dokter menyatakan bahwa operasi menjadi opsi terakhir dan hanya dilakukan ketika diperlukan. Najmi dan Nieta untuk sementara tenang sembari rutin memeriksakan sang putri.

Sejak 8 bulan

Menurut spesialis endokrinologi di Philadelphia, Amerika Serikat, Dr. Steven Dowshen, kelainan jantung bawaan kadang tidak menunjukkan gejala ketika bayi lahir sampai tumbuh menjadi balita. Ketika memasuki usia remaja atau menjelang dewasa, barulah muncul gejala seperti mudah lelah, kerap berkeringat berlebih, napas tiba-tiba tidak teratur, atau sakit di dada.

Keju enak dan terbukti menyehatkan.

Pada bayi atau anak-anak, kelainan jantung menyebabkan anak yang kerap sulit makan menjadi makin sulit makan. Efek selanjutnya bobot anak lambat bertambah sehingga pertumbuhan pun terhambat. Menurut Steven sejatinya kelainan jantung bisa dideteksi melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) sejak tahap janin, yaitu mulai kandungan berusia 5 bulan. Saat itu dokter memberi pilihan, Khayya bisa menjalani terapi berbasis obat atau pemberian asupan bergizi tinggi.

Sadar efek samping obat-obatan dalam jangka panjang, “Saya langsung memilih terapi asupan gizi,” kata Najmi. Mereka sepakat memberikan makanan fermentasi sejak Khayya mulai mengonsumsi makanan padat untuk pendamping air susu ibu (MPASI). Nieta memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif sampai Khayya berusia 6 bulan.

Mulai usia 7 bulan, Nieta mulai memberikan MPASI berupa makanan yang mengandung karbohidrat, sayuran, dan buah. Pada usia 8 bulan, Khayya mulai mendapat asupan keju. Nieta dan Najmi mulai dengan memberikan rikota (ricotta) yang tergolong keju lunak. Mereka menyuapkan 1—2 sendok teh keju berbahan whey itu sebagai tambahan setiap kali Khayya makan. Setelah sang putri berusia setahun, Najmi dan Nieta memberikan keju keras seperti mozarela, halumi, gouda, dan parmesan.

Susu bahan baku keju mengalami proses fermentasi sehingga mikrob memecah kandungan bahan baku menjadi bentuk yang mudah terserap tubuh.

“Keras atau lunaknya keju ditentukan oleh waktu fermentasi. Makin lama fermentasi, keju makin keras,” kata Najmi. Meski mengidap kelainan jantung bawaan, Khayya tumbuh normal dan lincah seperti bayi lain. Kondisi itu memperkuat keyakinan Najmi dan Nieta bahwa Khayya bakal pulih tanpa harus mengonsumsi obat sintetis. Saat memeriksakan sang putri pada usianya yang 2 tahun, keyakinan mereka terbukti. “Dokter menyatakan katup jantung tumbuh dan menutup sempurna sehingga tidak lagi ada kebocoran,” kata Nieta.

Tinggi nutrisi

Periset bioteknologi pangan di Pusat Bioteknologi Industri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Prof. Dr. Suyanto Pawiroharsono, DEA menyatakan bahwa makanan hasil fermentasi biasanya lebih mudah dicerna lantaran mikrob memecah kandungan bahan baku menjadi bentuk yang mudah terserap tubuh. Selain itu makanan fermentasi, termasuk keju, tinggi nutrisi. Menurut Suyanto fermentasi meningkatkan nilai nutrisi makanan lantaran terbentuk nutrisi baru hasil metabolisme mikrob maupun zat gizi yang diproduksi mikrob itu sendiri.

Selama fermentasi juga terjadi hidrolisis—pengurangan kadar air—yang mengurangi kandungan zat antinutrisi dalam bahan baku. Contoh bahan antinutrisi dalam susu yang menjadi bahan baku keju adalah kandungan gula susu alias laktosa. Suyanto menyatakan, laktosa memicu diare pada pengidap intoleransi laktosa. Dalam proses fermentasi keju, mikrob menguraikan laktosa menjadi asam laktat. Itu sebabnya kadar laktosa dalam keju sangat rendah sehingga biasanya aman dikonsumsi penderita intoleransi laktosa.

Halumi tergolong keju keras yang fermentasinya lama.

Fermentasi pun efektif menghasilkan cita rasa maupun aroma bahan makanan yang lebih menggiurkan. Menurut Prof. Suyanto fermentasi biasanya menghasilkan senyawa penghasil aroma, seperti asam karboksilat nonvolatil, asam lemak volatil, atau alkena. Hal itu terbukti pada Khayya yang sampai sekarang menjadikan keju sebagai camilan lantaran ia menyukai rasanya. Khayya membuktikan bahwa keju tidak hanya enak tapi juga menyehatkan. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software