Kefir Atasi Hipertensi

Filed in Majalah, Topik by on 02/03/2017

Penelitian ilmiah membuktikan kefir dapat membantu mengendalikan tekanan darah dan menjaga fungsi ginjal.

Kefir kaya kalsium yang berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

Kefir kaya kalsium yang berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

Karimah demam dan kepalanya sangat pusing. Ibu rumah tangga di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu pun hanya bisa berbaring dalam kamar. Hasil pemeriksaan dokter gejala itu akibat tekanan darah Karimah yang mencapai 165/125 mmHg. Tekanan darah itu jauh melebihi ambang normal yang hanya 120/80 mmHg. Sejak itu Ema—panggilan akrabnya—bergantung pada obat penurun tekanan darah.

Tiga hari setelah mengonsumsi obat, tekanan darah Ema turun. Namun, saat obat habis, tensi darahnya kembali naik. Gangguan hipertensi itu memperburuk kondisi kesehatan Karimah. Pada Januari 2015, ia mesti menjalani cuci darah tiga kali dalam sebulan. Ketika itu dokter mendiagnosis fungsi ginjal Karimah turun 20% dari kondisi normal. Akibatnya kemampuan untuk menyaring sisa metabolisme menjadi terganggu dan perlu tindakan medis agar kembali normal. Ema menduga penyebab gangguan ginjal karena konsumsi obat epilepsi dalam jangka panjang.

Konsumsi kefir
Karimah memang mengalami epilepsi. “Saya tidak berani menghentikan konsumsi obat itu karena takut epilepsi saya kambuh pada saat dan tempat yang membahayakan,” katanya. Menurut dr Rully Rusli, SpPD-KGH, dokter spesialis ginjal dan hipertensi Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) HAA Habibie Kota Bandung, Jawa Barat, hipertensi dan gagal ginjal berkaitan erat. Tekanan darah tinggi atau hipertensi akibat terjadinya penyumbatan pembuluh darah.

Kolostrum domba sebagai bahan baku kefir berkualitas premium.

Kolostrum domba sebagai bahan baku kefir berkualitas premium.

Jika penyumbatan terjadi di pembuluh darah ginjal, maka dapat merusak fungsi ginjal. Sebaliknya, gangguan ginjal dapat menyebabkan hipertensi. Salah satu fungsi ginjal adalah memproduksi enzim angiotensin. Selanjutnya enzim itu berubah menjadi angiotensin II. Perubahan itu dapat menyebabkan pembuluh darah mengerut dan mengeras sehingga terjadi tekanan darah tinggi. “Jadi, hipertensi bisa berakibat gagal ginjal dan pasien gagal ginjal sudah pasti terkena hipertensi,” tuturnya.

Prihatin dengan kondisi yang menimpa sang ibu, salah seorang anak Ema berusaha mencari jalan penyembuhan alternatif selain medis. Dari pencarian di sosial media, ia menemukan sebuah unggahan berisi kisah seseorang yang menggalami gangguan hipertensi dan ginjal seperti Ema. Pengirim kisah itu menceritakan bahwa tekanan darahnya stabil dan kondisi ginjalnya membaik setelah mengonsumsi kefir yang mengandung kolostrum kambing. “Saat itu saya juga belum paham tentang kefir. Ternyata itu produk olahan susu,” ujar Ema.

Ema lalu menyuruh anaknya untuk mencari informasi tentang kefir dan tempat untuk memperolehnya. Ternyata kefir dari kolostrum susu itu hasil produksi salah satu produsen kefir di Jawa Tengah. Ema lalu memesan kefir berukuran 1 liter untuk dikirim ke rumahnya. Tiga hari kemudian kefir berkolostrum itu ia terima. Sejak itu ia rutin mengonsumsi sesendok makan kefir berkolostrum sekali sehari setiap malam. Ema merasakan kondisinya membaik setelah tiga pekan mengonsumsi kefir. “Gejala pusing jarang saya rasakan lagi. Saya lanjutkan meminumnya sampai tensi darah kembali normal,” ujarnya.

Sebulan kemudian tekanan darah Ema kembali normal yaitu 120/85 mmHg. Hingga saat ini ia terus mengonsumsi kefir berkolostrum agar tekanan darahnya stabil. Menurut Ema keistimewaan fefir tidak menimbulkan ketergantungan. Ema pernah beberapa hari tidak mengonsumsi kefir, tapi kondisi tubuh tidak langsung drop dan tensi darah tetap stabil. Ema berharap dengan rutin mengonsumsi kefir juga dapat membantu memperbaiki kondisi ginjalnya.

Terbukti ilmiah

dr Rully Rusli, SpPD-KGH, dokter spesialis ginjal dan hipertensi Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) HAA Habibie Kota Bandung.

dr Rully Rusli, SpPD-KGH, dokter spesialis ginjal dan hipertensi Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) HAA Habibie Kota Bandung.

Khasiat kefir menstabilkan tekanan darah terbukti dalam penelitian yang dilakukan oleh Gungor Kanbak dari Fakultas Farmasi, Departemen Biokimia Eskisehir Osmangazi University di Eskisehir, Turki, pada 2013. Dalam penelitian itu Kanbak menggunakan sampel empat puluh tikus Sprague-Dawley yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok I merupakan kontrol. Pada kelompok II Kanbak memberikan perlakuan berupa larutan garam (NaCl) berkonsetrasi tinggi atau high salinity (HS), yakni 8%. Sedangkan pada kelompok III—V masing-masing diberi asupan HS dan aspirin berdosis 10 mg/kg, HS dan 10,0% b/v kefir, serta gabungan HS, aspirin, dan kefir. Dalam riset ini aspirin berfungsi sebagai penahan lonjakan tensi darah. Selanjutnya Kanbak mengamati parameter tekanan sistolik darah, rata-rata tekanan arteri, diastolik, dan nadi pada tikus. Pengamatan berlangsung selama 4 pekan.

Hasil penelitian menunjukkan tekanan darah tikus yang diberi asupan larutan garam konsentrasi tinggi mencapai 170 mmHg, lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kontrol. Namun, tekanan darah itu tidak mencapai level hipertensi. Tekanan darah tikus normal adalah 133—149 mmHg. Tikus mengalami hipertensi bila tekanan darah mencapai lebih dari 200 mmHg. Dalam penelitian itu kelompok yang memiliki tekanan darah paling rendah adalah kelompok yang diberi perlakuan aspirin dengan kefir. Menurut Kanbak, kefir berperan mengendalikan tekanan darah lantaran kaya kalsium. Kalsium dapat mengurangi tekanan darah karena memainkan peran penting sebagai mediator dalam konstriksi dan relaksasi pembuluh darah

Dalam penelitian itu kefir tak hanya berperan mengendalikan tekanan darah, tapi juga berpotensi menurunkan kerusakan fungsi ginjal. Caranya dengan menghambat enzim angiotensin yang dapat menyebabkan pembuluh darah di ginjal mengerut. Kesimpulannya, kefir terbukti berpotensi mencegah lonjakan tekanan darah dan melindungi fungsi ginjal.

Kekebalan tubuh

Sisa metabolisme akibat konsumsi obat-obatan dalam jangka panjang dapat menurunkan fungsi kerja ginjal.

Sisa metabolisme akibat konsumsi obat-obatan dalam jangka panjang dapat menurunkan fungsi kerja ginjal.

Menurut Dr William Adi Teja, MMed, praktikus pengobatan tradisional tiongkok di Pinangsia, Jakarta Barat, kefir lebih tepat disebut sebagai minuman suplemen bernutrisi tinggi. “Kalau ada orang yang mengonsumsi kefir dan merasakan kesembuhan dari suatu penyakit, itu adalah efek dari kemampuan kefir meregenerasi sel-sel pada organ tubuh dan menggantikan jaringan yang sudah rusak. Hal itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh,” ujarnya.

Zat yang terkandung dalam air susu pertama itu juga mengandung hormon yang berfungsi mengatur keseimbangan aktivitas kerja imunitas tubuh sehingga terhindar dari penyakit akibat gangguan autoimun. Kolostrum juga mengandung laktoferin, yaitu protein yang berfungsi sebagai antivirus, antibakteri, dan meningkatkan kadar oksigen pada jaringan tubuh.

Itulah yang membuat kolostrum berkhasiat membantu penyembuhan berbagai penyakit, termasuk mengendalikan tekanan darah dan memperbaiki fungsi ginjal. Namun, dr Rully mengingatkan pemberian herbal dan suplemen sebaiknya hanya untuk pencegahan, bukan untuk pengobatan. “Tindakan medis tetap diperlukan, terutama untuk menyelamatkan jiwa pasien gagal ginjal,” tuturnya. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software