Kedelai: Produksi Tinggi ala India

Filed in Sayuran by on 03/09/2013 0 Comments
526_119-120-2

Vijay Singh Raghuvanshi

Penambahan biaya 15%, meningkatkan 25% panen kedelai.

Metode bercocok tanam itu sohor dengan sebutan samruddhi. Dalam bahasa Sanskrit, kata itu berarti kemakmuran. Metode itu mengajarkan petani untuk mempraktikkan cara bercocok tanam yang benar, mulai dari pemilihan benih, pengolahan lahan, pemupukan, pengendalian hama penyakit, sampai cara panen yang baik. Vijay Singh Raghuvanshi yang menerapkan metode samruddhi memang harus merogoh kocek lebih dalam. Biaya produksi meningkat hingga 15,4%. Namun, itu tertutup oleh laba penjualan hasil panen yang meningkat 38,7%.

Vijay menanam kedelai kuning di lahan 7,3 ha miliknya di Desa Sankal Kheda, Distrik Vidisha, negara bagian Madhya Pradesh, India. Sejak 2010, ia menerapkan metode samruddhi, panen kedelai bertambah dari 1,5 ton menjadi 1,9 ton per ha. Sudah begitu, kualitas polong membaik dengan ukuran biji lebih besar dan seragam. “Harga jual pun meningkat,” kata Vijay. Sekuintal kedelai dari lahannya laku seharga Rs3050—setara Rp513.000.

Olah tanah

Harga jual kedelai Vijay Singh Raghuvanshi relatif tinggi. Bandingkan dengan kedelai dari petani di luar kelompoknya, yang hanya dihargai Rs3006 setara Rp505.000 per 100 kg. Sepintas selisih harga itu tidak sampai Rp100 per kg. Dengan panen mencapai 1,9 ton, Vijay meraup omzet setara Rp9,74-juta. Artinya ada selisih Rp2,24-juta ketimbang petani di luar kelompoknya yang hanya mendapat omzet Rp7,5-juta. Itulah sebabnya banyak pekebun, 180.000 petani kedelai di India, yang kemudian mengadopsi metode itu.

Kepada para wartawan Trubus pada perhelatan BASF Agriculture Media Event, di Pulau Sentosa, Singapura, kepala Proyek Samruddhi, Rajendra Velagala, menyatakan bahwa praktik samruddhi membimbing dan mendampingi petani mulai penyediaan benih, pengolahan lahan, perawatan, sampai panen. Maklum, petani di sana sekadar bertani seperti cara leluhur mereka dengan mengikuti musim.

Saat kharif alias musim hujan, Juni—Oktober, mereka mengandalkan padi, jagung, kedelai, kacang hiris atau kajan Cajanus cajan, kacang hitam Vigna mungo, kacang hijau Vigna radiata, atau hasil panenan kapas. Sementara ketika rabi—musim kemarau, November hingga Mei—petani Negeri Anak Benua itu menanam gandum, kentang, atau kacang arab Cicer arietinum.

Sayang, penanaman berturut-turut itu tidak disertai pemupukan dan pengolahan tanah secara tepat. Sudah begitu, banyak petani yang memaksa menanam di luar musim untuk memperoleh harga tinggi. “Itu sebabnya, metode samruddhi menekankan praktik bertani yang baik untuk memperbaiki hasil panen, yang berdampak meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Rajendra.

Biasanya, boro-boro melakukan pengolahan tanah, petani menanam komoditas berturut-turut nyaris tanpa jeda. Mereka juga enggan melakukan pemupukan. Efeknya kesuburan dan kelembapan terperah habis sampai tanah menjadi tandus dan tidak lagi bisa ditanami. Sistem samruddhi mengharuskan petani membajak tanah setelah panen di pengujung kemarau.

Setelah mengadopsi metode itu petani kedelai mesti membajak tanah maksimal sedalam 15 cm. Bersamaan dengan itu, mereka menaburkan 2,5—4,5 kg bakteri pelarut fosfat per ha. Bajak lahan minimal 2 tahun sekali untuk mempertahankan sifat granulasi alias kegemburan tanah. Selanjutnya mereka menggaru tanah untuk meratakan lahan dan membersihkan sisa serasah. Berikutnya mereka membenamkan 350—375 kg pupuk superfosfat lalu mendiamkan lahan.

Belerang

Dalam metode samruddhi, mereka memilih benih kedelai yang tenggelam dalam air dan bebas penyakit akibat cendawan. Untuk mencegah cendawan, petani mengaduk rata 3 g fungisida berbahan aktif karbendazim per kilogram benih. Lalu petani menyiapkan 70—90 kg benih untuk sehektar lahan. Selang 45 hari atau setelah curah hujan mencapai 7,5—10 mm, mereka menugal tanah sedalam 2,5—3 cm, lalu membenamkan benih. Populasi ideal 40.000—45.000 tanaman per ha atau jarak antartanaman 20—25 cm.

Setelah menanam benih, perawatan terpenting adalah mencegah pertumbuhan gulma. Menurut Rajendra, gulma berpotensi mengurangi 35—70% panen lantaran mengurangi pasokan air, hara, sampai sinar matahari untuk kedelai. Selain itu, beberapa jenis gulma menjadi tanaman inang bagi hama atau penyakit. Dalam metode samruddhi, penanggulangan gulma menggunakan herbisida berbahan aktif imidazolinon dengan dosis 2 ml per liter.

Sehektar lahan memerlukan 375 liter campuran. Penyemprotan herbisida ketika gulma daun lebar mulai memunculkan 2—3 helai daun atau ketika tinggi gulma daun sempit mencapai 6—8 cm. Pastikan tidak ada hujan minimal 1 jam pascapenyemprotan agar herbisida tidak habis terbilas. Adapun untuk mengusir hama, metode samruddhi merekomendasikan 2 jenis insektisida. Insektisida berbahan aktif triazofon untuk mengendalikan kumbang Oberea brevis yang ulatnya merusak batang.

Adapun untuk mengatasi ulat dari golongan kupu Lepidoptera, petani menyemprotkan insektisida kontak berbahan aktif metaflumizon sesuai dosis di kemasan. Sebagai tambahan, masih ada zat perangsang tumbuh berbahan aktif klormekuat klorida. Fungsinya merangsang pertumbuhan akar, memacu pembungaan, dan menjadikan ukuran biji seragam. “Bahan aktif itu merangsang pembentukan giberelin sehingga memicu peralihan pertumbuhan dari vegetatif menjadi generatif,” kata Rajendra.

Pada 15 hari pascatanam, petani membenamkan 20—25 kg belerang per ha lahan. Hasil riset BA Sonune dan rekan-rekan dari Jurusan Kimia Tanah Universitas Panjabrao Deshmukh Krishi Vidyapeeth (PDKV), Akola, India, belerang berperan penting untuk pembentukan protein pengisi kedelai. Pemberian 20 kg belerang untuk sehektar lahan meningkatkan kadar protein biji kedelai menjadi 36,5%. Sementara kandungan protein kedelai tanpa sulfur hanya 35,3%. Pada 3—4 bulan pascatanam, ketika sebagian besar daun menguning dan polong terbawah mulai mengering, kedelai siap panen.

Para petani menjemur biji sampai kadar air maksimal 12%. Mengapa kedelai menjadi komoditas penting di India? Hasil survei lembaga internasional Price Waterhouse Coopers (PwC), kedelai berkontribusi 40% terhadap pendapatan tahunan petani. Saat musim hujan, kedelai bahkan menyumbang 81% terhadap pendapatan. Apalagi 51% dari 1,27-miliar penduduk Negeri Sungai Gangga itu menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Peningkatan panen kedelai pun berarti peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software