Kedelai Baru Kering Tidak Masalah

Filed in Sayuran by on 31/12/2010 0 Comments

Padahal, pertanaman kedelai di Indonesia kebanyakan di lahan sawah pada musim kemarau ke satu (MK I) dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai atau musim kemarau kedua (MK II) dengan pola tanam padi-padi-kedelai. Pola tanam demikian menurut Dr Ir Muchlis Adie MS, periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI, rentan terhadap kekurangan air pada periode generatif.

Kondisi kering pada masa pembungaan menyebabkan bunga dan polong muda rontok serta mengurangi jumlah polong dan ukuran biji. Sementara pada fase pengisian menyebabkan biji tidak terbentuk sempurna, berakibat biji kedelai lebih kecil dan bobot kering biji rendah. ‘Itu akibat pengisian biji lebih singkat, kematangan lebih cepat, serta daun gugur lebih awal yang berpengaruh pada metabolisme tanaman,’ ungkap Muchlis. Oleh karena itu kekeringan menurunkan produksi hingga 40%.

Menurut Muchlis untuk mengantisipasi risiko kekeringan perlu dikembangkan varietas unggul yang lebih adaptif. ‘Bisa varietas berumur genjah atau yang toleran terhadap cekaman kekeringan,’ kata Muchlis. Alternatif kedua itulah yang dikembangkan para periset di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang, Jawa Timur, yang terdiri dari Ir Suhartina MP, Purwantoro SP, Dr Novita Nugrahaeni, Ir Abdullah Taufiq MS, dan Dr Ir I Made Jana Mejaya MSc. Kelimanya berhasil merakit galur unggul kedelai toleran kekeringan berkode DV/2984-330-1-16-1 yang akan dirilis pada 2011.

2,83 ton/ha

Sejatinya menurut Suhartina sudah ada varietas unggul kedelai toleran kekeringan yakni detam-2 hasil riset Balitkabi (lihat Si Hitam Berproduksi Menjulang, Trubus 462/Mei 2008). Varietas itu berumur sedang (panen 82 hari setelah tanam), berukuran biji besar (13,5 g/100 biji), serta mempunyai potensi hasil tinggi, mencapai 2,96 ton per ha. Namun, detam-2 berwarna biji hitam, sementara preferensi petani kedelai menghendaki warna biji kuning sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe. Kedelai hitam lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap.

Hasil uji adaptasi memperlihatkan galur unggul DV/2984-330-1-16-1 selain lebih toleran terhadap cekaman kekeringan selama fase reproduktif, juga mempunyai rata-rata hasil lebih tinggi dibanding dua varietas pembanding: tidar dan wilis. Galur harapan itu mempunyai rata-rata hasil 1,91 ton/hektar dengan potensi hasil 2,83 ton/ha dan umur panen 82 hari. ‘Hasil itu lebih tinggi 11% dibanding varietas tidar dan 14% dibanding wilis,’ tutur Suhartina. Rata-rata hasil tidar 1,72 ton/ha (potensi hasil 2,39 ton/ha), wilis 1,67 ton/ha (2,5 ton/ha).

Keunggulan lain ukuran biji DV/2984-330-1-16-1 mencapai 10,77 g/100 biji lebih besar dibanding tidar. Pun warna biji DV/2984-330-1-16-1 lebih menarik. Warna biji galur harapan itu kuning serta tidak berubah menjadi hijau ketika tercekam kekeringan. Bandingkan dengan biji tidar yang berwarna hijau kekuningan dan berukuran lebih kecil. Ketika tercekam kekeringan warna biji tidar berubah menjadi hijau seperti kacang hijau. Ukuran kecil dan warna biji hijau ini tidak diminati petani.

Menurut Suhartina perakitan kedelai toleran kekeringan dilakukan di Balitkabi memanfaatkan plasma nutfah kedelai toleran kekeringan yang berkode MLG 2805, MLG 2984, MLG 3474, MLG 3072, MLG 2999, SV-7. Pada 1997 – 1998 dilakukan persilangan buatan untuk mendapatkan populasi sebagai bahan penggaluran dan seleksi generasi lanjut dan galur harapan kedelai toleran kekeringan. Galur-galur F2-F3 (hasil perkawinan generasi ke-2 dan ke-3) dilakukan pada kondisi lingkungan optimal.

12 galur

Baru pada 2006 dilakukan seleksi toleransi kekeringan memanfaatkan F4-F5, galur-galur hasil seleksi tanaman tunggal pada populasi SV-7, serta galur-galur umur genjah dari hasil persilangan varietas Argomulyo dan galur GCP. Lingkungan seleksi dikondisikan tercekam kekeringan mulai fase berbunga hingga masak. Kriteria kelulusan dilihat dari jumlah polong dan hasil biji banyak, serta warna biji kuning. Hasilnya didapatkan 60 galur homozigot toleran kekeringan.

Galur-galur terpilih itu bersama 14 galur/tetua dan 2 varietas pembanding: tidar dan wilis menjalani uji daya hasil pendahuluan di Kebun Percobaan Muneng, Malang, Jawa Timur, pada 2007. Hasilnya 28 galur terpilih ditambah 2 varietas pembanding menjadi bahan uji daya hasil lanjutan di Kebun Percobaan Kendalpayak dan Jambegede, keduanya masih di Malang, pada 2008. Tujuannya mendapatkan genotif kedelai toleran kekeringan berdasarkan kriteria indeks toleran kekeringan (ITC). Berdasarkan nilai ITC akhirnya terpilih 12 galur harapan.

Ke-12 galur tersebut bersama varietas pembanding tidar dan wilis menjalani uji adaptasi di 13 lokasi berbeda, di antaranya di Mojokerto, Banyuwangi, Pasuruan (Jawa Timur), Bantul dan Sleman (DI Yogyakarta), Mataram dan Lombok Barat (NTB) pada musim kemarau I dan II pada 2009. ‘Tujuannya menilai stabilitas, potensi, dan adaptabilitas hasil galur-galur tersebut,’ ungkap Suhartina, master pemuliaan tanaman dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Percobaan dilakukan dengan rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Setiap galur ditanam pada petak berukuran 3,2 m x 4,5 m dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm. Setiap rumpun berisi 2 tanaman. Selanjutnya kedelai dipupuk dengan dosis 100 kg Urea, 75 kg SP36 dan 75 kg KCl/ha yang ditebar merata saat tanam. Hasilnya adalah galur harapan DV/2984-330-1-16-1 yang akan menjadi varietas kedelai berbiji kuning pertama yang toleran cekaman kekeringan pada fase reproduktif di Indonesia.

(Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software