Kecap Air Kelapa

Filed in Majalah, Perkebunan by on 15/08/2019

Kecap dari air kelapa cocok untuk anak berkebutuhan khusus.

 

Kecap baru berbahan air kelapa. Orang tua anak berkebutuhan khusus meminati produk itu.

Akhmad Affan Fakhrudin dan Harmi Fepri Hendarti membuat 200—250 botol kecap setiap bulan. Volume setiap botol 135 ml. Namun, kecap produksi pegiat pertanian organik dan pangan sehat di Jombang, Jawa Timur, bukan berbahan baku kedelai seperti lazimnya. Mereka memanfaatkan air kelapa. Produk mereka mengisi pasar Jakarta dan sekitarnya, Surabaya, serta Bali melalui jejaring komunitas organik, pegiat pangan sehat, atau lembaga swadaya masyarakat peduli lingkungan.

Gula merah memaniskan sekaligus memberikan warna.

“Di Jombang malah jarang pembeli,” kata Harmi. Penjualan itu berlipat kali ketimbang ketika memulai pada 2014. Saat itu, penjualan per bulan hanya 30 botol. Affan mengirim kecap air kelapa kepada relasi lama di Denpasar, Bali. Selain itu, mereka mengandalkan pameran maupun festival yang dihelat komunitas. Perlahan-lahan jumlah konsumen dan penjualan meningkat.

Buah kepayang

Harmi memproses air kelapa dari pengupas kelapa di pasar dekat rumah. Frekuensinya dua kali sepekan. Ia menitipkan 2 jeriken bersih masing-masing berkapasitas 10 l kepada pengupas pada pagi hari lalu mengambil kembali beberapa jam setelahnya. Lantaran tidak menggunakan kedelai hitam, ia menambahkan keluak alias kepayang sebagai pemberi warna.

Pemanis menggunakan gula merah, bisa berasal dari kelapa maupun aren. Selain memaniskan, “Gula merah juga menggelapkan warna,” kata perempuan 41 tahun itu. Harmi dan Affan merebus 2 kali untuk memastikan kecap buatan mereka awet dan bebas mikrob maupun pengotor.

Menurut Harmi salah satu tahap penting adalah memastikan gula merah secepatnya larut. Pada awal proses, ia mengaduk secara kontinu sampai gula merah tidak lagi terlihat membongkah. “Kalau gula merah sampai gosong, rasa kecapnya rusak. Ada rasa pahit yang walau sedikit tapi mengganggu,” kata Harmi. Durasi perebusan tahap pertama 5 jam. Perebusan yang singkat hanya 2 jam menyebabkan kecap cepat basi lantaran terfermentasi.

Akhmad Affan Fakhrudin (kiri) dan Harmi Fepri Hendarti membuat kecap berbahan air kelapa.

“Botol jadi menggembung, beberapa bahkan sampai pecah. Rasa kecapnya menjadi masam,” katanya. Harmi dan Affan bertanggung jawab penuh dan langsung mengirim kecap baru sebagai pengganti. Terinspirasi proses pembuatan jenang—kudapan tradisional etnis Jawa berbasis kelapa—Harmi memperlama perebusan menjadi 3 jam, 4 jam, dan terakhir sekarang 5 jam. Hasilnya, insiden “ledakan” hampir nihil dan daya simpan produknya meningkat. “Kalau belum dibuka tahan setahun,” kata Harmi.

Namun, kalau sudah dibuka, ia menyarankan untuk disimpan dalam kulkas agar terhindar dari fermentasi akibat kontaminasi mikrob dari udara. Selama ini pasokan air kelapa terpenuhi, meski musim hujan sekalipun. Namun, saat kemarau Harmi menyatakan bahwa kadang mereka “berebut” bahan baku dengan para penjual es kelapa.

Harmi membanderol kecap Rp18.000 per botol. Pelanggan kecap bermerek Srunen itu adalah para orangtua anak berkebutuhan khusus. seperti menderita alergi kacang, alergi gluten, serta pengidap autisme—baik Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) maupun Attention Deficit Disorder (ADD). “Mereka bilang anak-anaknya tidak tantrum,” katanya. Pada 2016, pasangan pemilik kebun organik Asri di Kabupaten Jombang itu mengganti merek dari Asri menjadi Srunen.

Musababnya, merek Asri telanjur terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM atas nama produk dan pemilik lain. Ia berencana membuat variasi berupa rasa baru untuk penggemar pedas. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software