Kebun Sayur Mini di Halaman

Filed in Laporan khusus by on 31/05/2011

 

Itu seperti yang disaksikan wartawan Trubus Imam Wiguna di stan minigarden pada Singapore Garden Festival (SGF) 2010 silam. Di sana terlihat 4 tumpukan pot yang dirangkai membentuk kotak dengan alas seluas 1 m2. Pot itu sudah didesain sedemikian rupa sehingga dapat dihubungkan satu sama lain membentuk vertikultur alias sistem bercocok tanam secara vertikal. Sehingga, rangkaian pot itu bisa disusun menjadi beragam bentuk sesuai selera.

Tiap pot berukuran 60 cm x 20 cm x 20 cm dan memiliki 3 bagian menjorok mirip lubang pada cerek air minum yang berfungsi sebagai lubang tanam. Pada stan milik produsen asal Portugal itu terlihat tanaman selada dan sawi yang tumbuh subur, merekah dari lubang tanam. Setiap lubang tanam dapat menghasilkan sekitar 200 g selada, artinya dari tiap pot dapat dipetik 600 g selada.

Jika pot-pot itu disusun 9 tumpuk dan dirangkai dengan 3 tumpukan lain dalam lahan 1 m2 seperti terlihat di minigarden, maka 21,6 kg selada segar dapat diperoleh. Menurut Dr Agus Suryanto, ahli budidaya tanaman Universitas Brawijaya, Malang, asal pasokan nutrisi terpenuhi vertikultur dapat berproduksi tinggi. Pendapat serupa disampaikan Dr Anas Dinurrohman Susila, ahli agronomi dan hortikultura dari Institut Pertanian Bogor. “Karena media terbatas, produksi tanaman pada vertikultur juga terbatas. Namun, dengan manajemen hara yang bagus tanaman dapat berproduksi lebih tinggi,” ujarnya.

Modern

Di mancanegara, vertikultur memang sudah menjadi gaya hidup. Sebab, lahan untuk budidaya tanaman sangat terbatas. “Di Indonesia lahan pertanian masih luas sehingga vertikultur belum banyak diadopsi,” ujar Anas. Lantaran menjadi gaya hidup, di luar negeri pun bermunculan produsen yang menawarkan rangkaian vertikultur instan nan cantik. Selain rangkaian pot ala minigarden, di SGF juga ditampilkan kreasi vertikultur lain yang tak kalah menawan. Sebut saja veggie pipe yang tersusun dari rangkaian pipa khusus dengan 3 lubang: atas, bawah, dan depan. Lubang bagian depan itulah yang digunakan untuk bercocok tanam.

Namun, yang paling mewah adalah vertikultur buatan Singapura yang berupa rak-rak dengan baki-baki sebagai tempat menanam. Rak itu dilengkapi lampu infra merah dan UV sebagai pengganti cahaya matahari untuk fotosintesis. Artinya, sayuran dapat ditanam di dalam ruangan, misalnya dapur atau bahkan ruang tamu.

Produk yang diberi nama veggie factory itu juga bisa digunakan dalam skala lebih luas oleh produsen sayuran untuk menghasilkan beragam sayuran tanpa mengenal musim. Sayang, untuk pasar Indonesia harganya masih belum ekonomis dibanding harga sayuran yang dihasilkan. Satu rak 4 tingkat sepanjang sekitar 6 m lengkap dengan lampu itu dibanderol US$48.000 atau sekitar Rp410-juta.

Toh vertikultur tak melulu harus mahal. Tengok saja bangunan bambu 4 tingkat di halaman Ahmad Setiobudhi MT. Dosen Institut Teknologi Nasional (ITENAS) di Bandung, Jawa Barat, itu membuat vertikultur berbentuk piramida dari bahan bambu dan talang air dengan panjang sisi alas  1,8 m. Talang air ditutup ujungnya dan digunakan sebagai alas media tanam.

Ahmad hanya membuat lubang kecil pada ujung talang untuk drainase. Untuk media tanam, ia menggunakan campuran kompos, tanah, dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1. ”Yang jelas media harus porous agar air tidak menggenang,” ujarnya. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman, Ahmad rajin menyemprotkan pupuk organik cair sekali seminggu. Menurut Anas, hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat vertikultur adalah desain yang pas agar sinar matahari bisa diterima semua tanaman. ”Kelemahan vertikultur selama ini tanaman di bagian bawah ternaungi tanaman di atasnya sehingga tidak cukup mendapat cahaya matahari,” ujarnya.

Low carbon

Ahmad menanam jenis sayuran yang mudah tumbuh dan tak perlu lahan besar seperti selada, bayam, kangkung darat, dan pakcoy. Menurut Anas, sayuran daun dan tanaman berperakaran dangkal seperti stroberi memang yang paling cocok ditanam pada vertikultur. Meski baru 4 bulan membuat vertikultur itu, toh Ahmad sudah menikmati beragam sayuran segar yang ia tanam. Harap mafhum, selain gampang tumbuh, jenis-jenis sayuran itu juga dapat dipanen dalam waktu singkat. Di vertikultur bambu itu kangkung darat dipanen pada umur 21 hari, pakcoy 2—2,5 bulan. Sementara bayam merah, bayam hijau, dan selada umur 21—30 hari.

”Saya bisa memetik sayuran segar tiap hari sekadar untuk lalapan atau campuran masakan,” ujar alumnus Institut Teknologi Bandung itu. Bahkan anaknya yang gemar makan burger rajin memetik selada tiap pagi untuk membuat santapan kegemarannya. Menurut Ahmad, bercocok tanam di halaman menjadi pelampiasan hobinya untuk menghindarkan pikiran dari stres.

”Bertanam sayuran di halaman juga mendukung gaya hidup low carbon city,” tuturnya. Sebab, dengan menanam sayuran di pekarangan kita tidak perlu mendatangkan sayuran jauh-jauh dari sentranya. Itu berarti pengurangan karbon yang dihasilkan dari alat transportasi untuk mengangkut sayuran. Nah, dengan vertikultur, pekarangan atau teras sesempit apa pun memungkinkan untuk ditanami. (Tri Susanti/Peliput: Faiz Yajri & Tri Istianingsih)

 

Powered by WishList Member - Membership Software