Kebun Bawang Tanpa Moler

Filed in Inspirasi, Majalah by on 19/12/2019

Budidaya bawang merah menggunakan mulsa mencegah penyakit moler akibat seragan Fusarium sp.

 

Mencegah dan menanggulangi serangan layu fusarium pada bawang merah.

Petani di Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Muhamad Mulya waswas melihat bawang merah di ladangnya tiba-tiba merunduk layu. Padahal, 2 pekan lagi Allium cepa siap panen. Memasuki musim pancaroba, kebun bawang merah sempat terendam air. Sehari berselang panas terik. Saat itulah daun bawang merah mulai layu. Mulya berkonsultasi dengan penyuluh pertanian setempat.

Barulah petani bawang merah sejak 2005 itu mengetahui tanamnnya terserang layu fusarium. Petani setempat menyebutnya penyakit moler. Itulah serangan fusarium terparah di kebun Mulya yang terjadi pada akhir 2017. Luas serangan sekitar 600 meter persegi dari total kebun bawang merah seluas 8.000 meter persegi.

Fusarium

Muhamad Mulya (jongkok) dan anggota Kelompok Tani Ragusta di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menanam bawang merah sejak 2005.

Menurut ahli hama penyakit tanaman dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dr. Widodo, penyakit busuk pangkal yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cepae merupakan salah satu pembatas produksi bawang merah dan bawang bombai. Gejala yang tampak adalah daun mengering dan meliuk (twisting) dimulai dari atas karena umbinya membusuk.

Selain pada pertanaman, penyakit tular tanah itu juga dapat terjadi pada umbi lapis hasil panen dalam penyimpanan. Layu fusarium dilaporkan di Srilanka pertama kali pada 1992 dan 1993 dengan gejala utama daun meliuk. Penyakit busuk pangkal yang disebabkan oleh F. oxysporum f. sp. cepae juga menjadi kendala dalam produksi bawang putih A. sativum. Gejala serangan hampir sama, yaitu pengeringan dan pengeritingan daun dimulai dari ujung serta pembusukan umbi atau perakaran.

Menurut Manajer Produk PT Bina Guna Kimia (FMC), Agus Suryanto, perubahan iklim berpengaruh tinggi terhadap perkembangan cendawan. Pada musim hujan terjadi peningkatan kelembapan udara. Kondisi lingkungan lembap menyebabkan perkembangan cendawan fusarium sangat cepat. Serangan pada musim hujan bisa meningkat secara cepat bahkan bisa menyebabkan puso. Kerusakan dari 20% hingga 100%.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Agus mengatakan, serangan fusarium juga disebabkan oleh kebiasaan petani yang secara terus-menerus menanam bawang merah tanpa pergiliran tanaman. Idealnya petani beralih komoditas lain yang sefamili dengan bawang merah. Penggunaan bibit yang tidak selektif, menggunakan bibit dari tanaman inang yang terinfeksi serta kurangnya kandungan bahan organik tanah. Hal itu bisa memicu meningkatnya serangan fusarium.

Mencegah serangan

Mulya menanggulangi dengan mencabut bawang yang terkena gejala. Kemudian ayah tiga anak itu menyemprotkan fungisida ke seluruh lahan bawang merah baik yang terserang fusarium maupun yang masih segar. “Untung serangan hanya satu spot sehingga mudah menanganinya,” kata pengurus Kelompok Tani Ragusta itu. Mulya beruntung menggunakan mulsa ketika menanam bawang merah.

Aplikasi kompos matang mencegah penyakit tular tanah.

Jika tanpa mulsa serangan cendawan fusarium bisa menyebar cepat lebih karena serangan lebih dari satu titik. Menurut Agus mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang atau terinfeksi cendawan menjadi solusi menanggulangi fusarium. Penyemprotan fungsisida juga penting sebagai upaya mengendalikan moler. Bahkan, fungsida seperti Octave 50WP juga berfungsi sebagai pencegahan Agus menuturkan penyemprotan fungisida Octave 50WP sejak tanaman berumur 14 hari dan 21 hari. Sementara itu saat tanaman berumur 28 hari dan 35 hari, petani memanfaatkan fungisida Rovral 50WP untuk melindungi dan mengendalikan penyakit trotol akibat serangan Alternaria porri. Adapun upaya pencegahan lain dengan pengolahan tanah untuk meningkatkan pH tanah sekaligus memperbaiki drainase agar tanpa genangan air.

Cara lainnya penambahan bahan organik dengan menggunakan pupuk kandang atau kompos matang. Pekebun sebaiknya menggunakan bibit sehat dari sumber tanaman yang tidak terserang atau terinfeksi penyakit fusarium. Menjaga kebersihan sanitasi lingkungan dengan pembersihan gulma untuk mengurangi kelembapan. Mulya mengatakan, menggunakan true shallot seed (TSS) atau menyemai benih sendiri juga upaya pencegahan.

Bawang merah berumur 60 hari setelah tanam masih berpotensi terserang fusarium.

Kelebihannya petani hafal kualitas bibit hasil semainnya. Memang menyemai butuh waktu lebih banyak. Dari semai hingga siap tanam memerlukan 30 hari. Namun, sembari memelihara semaian bisa berbarengan dengan mengolah lahan agar siap tanam. Menurut Mulya mencangkul, memberikan tambahan kompos matang, dan memberakan lahan sebelum ditanami efektif mencegah penyakit tular tanah. Adapun pencegahan lanjutan dengan menggunakan mulsa selama budidaya. Beragam upaya itu untuk mencegah serangan penyakit moler. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software