Kayu Besi Melawan Punah

Filed in Eksplorasi by on 02/01/2013 0 Comments
Populasi ulin di alam kian menipis

Populasi ulin di alam kian menipis

Kayu ulin yang superkuat itu di ambang punah.

Mesin sepeda motor itu meraung-raung merobek keheningan sebuah siang di hutan. Zainudin-bukan nama sebenarnya-bersusah-payah mengendalikan stang sepeda motor yang tengah merangkak di jalan menanjak berbatu. Ia memang membawa beban tak tanggung-tanggung, 300 kg kayu ulin. Ia menata kayu sepanjang 1,2 m itu di sisi kiri dan kanan motor. Jarak kayu terbawah hanya sejengkal dari permukaan jalan.

Tunggul berdiameter20 cm dapat menghasilkan13 tunas samping yang dapatdipisahkan menjadi individuindividu

Tunggul berdiameter 20 cm dapat menghasilkan 13 tunas samping yang dapat dipisahkan menjadi individu-individu

Belum lagi sosok motor yang 3 kali lebih lebar daripada motor lazimnya. Sedikit saja dasar kayu terantuk batu atau roda motor terpeleset, maka kaki Zainudin menjadi taruhan: patah atau remuk. “Sudah puluhan yang menjadi korban karena tertimpa kayu,” kata ayah 3  anak itu. Motor biasa tentu menyerah mengangkut muatan di luar kapasitas. Zainudin mengakali dengan memasang sepasang shockbreaker tambahan di belakang yang asli. Dengan demikian di motor Zainudin terdapat 4 shockbreaker.

Selain itu ia juga memasang 2 kayu sepanjang 3 m sebagai  penahan beban kayu ulin bervolume 0,3 m3 itu. Sebuah rantai besi dan tambang mengikat balok-balok Eusideroxylon zwageri. Zainudin tak sendirian menantang risiko menjadi pengepul kayu ulin di sebuah desa di Kabupaten Tanahlaut, Provinsi Kalimantan Selatan. Di sana banyak pengepul seperti Zainudin yang menjual kayu di Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan.

Setiap hari minimal 22 ojek ulin-julukan pengangkut tunggul ulin-melintas di jalur Tanahlaut-Banjarmasin sejauh 128 km. Dari jarak itu 28 km berupa jalan berbatu, mendaki, dan berdebu. “Kami pergi sore dan tiba di Banjarmasin saat subuh,” kata Zainudin. Itulah suasana sehari-hari di Riamkanan-wilayah hutan di Perbukitan Meratus yang membentang di Kabupaten Banjar dan Tanahlaut-yang kini berupa hutan sekunder.

Yang mereka bawa adalah balok kayu ulin dari tunggul atau bekas tebangan. Menurut Riskan Effendi, peneliti di Pusat Penelitian Pengembangan Hutan Tanaman, terjadi penurunan rata-rata populasi ulin lebih dari 20% selama 10 tahun terakhir. Turunnya populasi antara lain karena pembalakan liar. Kayu ulin yang termasuk kelas awet I dan kelas kuat I kini termasuk kategori rawan dalam CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) sejak 2003.

Ketika pohon ulin kian langka, mereka pun beralih pada tunggul tersisa yang bertahun-tahun tak tersentuh. Sejak 10 tahun lalu para pengepul mencari tunggul, memotong dengan gergaji mesin, dan mengolahnya menjadi balok. Dari sebuah tunggul setinggi rata-rata 1,2 meter, pengepul mendapatkan 0,11 m3 kayu ulin. Harga jual balok ulin mencapai Rp12.500.000 per m3. Balok itu menjadi bahan bangunan seperti pintu, jendela, atau atap sirap.

Dahulu sebuah perusahaan terkenal pemegang hak pengusahaan hutan di Pulau Borneo menguasai hutan di Perbukitan Meratus. Di sana tersisa sekitar 10% populasi kayu ulin di Kalimantan Selatan. Borneo iron wood-julukan kayu ulin di mancanegara-yang tersisa berupa tunggul setinggi 0,5-2 m, pohon muda, dan pohon setengah dewasa. Para pengepul seperti Zainuddin mengambil tunggul atau bekas tebangan. Dua yang disebut terakhir pohon yang tumbuh alami dari biji, tunas dari tunggul, atau tunas dari patahan kayu.

Kini sebagian bekas wilayah perusahaan seluas 1.000 ha berubah status menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) di bawah Balai Penelitian Kehutanan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. “Di sana habitat asli kayu ulin sehingga upaya penanaman kembali beserta penelitiannya pun di sana,” kata Suhardi Atmoredjo, kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. Di lahan itu pada 2005 ditanam 2.500 ulin asal biji.

Menurut Ir Abdul Aziz Karim MP, dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pemerintah menerbitkan SK Menteri Pertanian No.54/Kpts/Um/2/72 pada 1972 untuk melindungi kayu ulin. Menurut regulasi itu masyarakat terlarang menebang  pohon ulin berdiameter kurang dari 60 cm. Sayang, peraturan itu seolah-olah tidak pernah ada karena lemahnya komitmen dari semua pihak. Akibatnya penebangan pohon ulin di bawah 60 cm terus berlangsung.

Khusus di Kalimantan Selatan pemerintah mengambil jalan tengah pada 1978. Surat Keputusan Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan No Ek-005/SK-78 mengatur perizinan pemungutan kayu ulin hanya diberikan kepada warga di sekitar hutan dengan peralatan sederhana. “Tujuannya agar laju penebangan lambat, tapi penduduk lokal tetap dapat memanfaatkan,” kata Ir Sudin Panjaitan MP, peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

“Kini ulin bukan lagi langka, tapi menuju kepunahan bila tidak ada upaya konservasi serius,” kata Aziz. Penelusuran sehari penuh di wilayah Kintap, Riamkanan, memang tak menemukan kayu ulin berdiameter di atas 60 cm. Dua pohon terbesar yang tumbuh alami ditemukan berlingkar batang 75 cm setara diameter 23,4 cm. Sementara lainnya umumnya berlingkar batang 40 cm setara 12,7 cm.

Pohon yang berdiameter di atas 60 cm hanya berupa tunggul setinggi 0,5-1,5 m. Itu karena dahulu penebang menebang kayu di atas 1,3 m di atas permukaan tanah, bahkan lebih tergantung tingkat kesulitan penebangan. “Ulin itu berbanir (akar yang memipih di pangkal batang, red) sehingga ditebang di atas banir,” kata Dra Eny Dwi Pujawati MSi, anggota staf pengajar Fisiologi di Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Kini saat kayu berdiameter di atas 60 cm kian langka, maka warga sekitar hutan memanfaatkan tunggul-yang dahulu tak berguna. Kayu asal tunggul itulah yang diangkut Zainudin dan kawan-kawan dari Riamkanan ke Banjarmasin. Mereka membelinya dari penduduk sekitar hutan yang mengumpulkan dari hutan dengan bantuan kerbau. Penduduk menumpuk balok ulin di halaman rumah di tepi jalan raya dan melakukan transaksi di tepi jalan. “Selama pengangkutan dengan roda 2 mereka dibolehkan,” kata Sudin.

Yang pasti wilayah Kalimantan Selatan sebelum era 1967 sangat kaya kayu ulin. Jejak tumbuh ulin terekam dalam beberapa nama tempat dan institusi. Sebut saja Landasanulin di Banjarbaru yang kini menjadi nama sebuah kecamatan. Bahkan pada era penjajahan Jepang, julukan untuk Bandara  Syamsuddin Noor adalah Lapangan Terbang Ulin. Begitu juga rumahsakit negeri terbesar di Kalimantan Selatan dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, Banjarmasin. “Diduga hampir semua daratan di Kalimantan Selatan yang bukan rawa menjadi habitat asli ulin,” kata Sudin.

Sayang, tidak ada data populasi ulin  pada masa sebelum 1967-masa sebelum muncul izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Satu-satunya cara termudah menghitung populasi ialah menduga tegakan atau tunggul yang tersisa dalam 1 ha. Sebagai contoh di Jorong, Tanahlaut, yang menghubungkan Banjarbaru-Kotabaru, menyisakan jejak tumbuh ulin. Lahan 1 ha itu merupakan kebun karet dan mahoni.

Di sana tersisa 20 tunggul kayu ulin yang menghitam tanda pernah berpuluh kali terbakar. Tinggi tunggul bervariasi dari 50-180 cm. Diameter batang juga bervariasi, antara 40-200 cm. “Tunggul tanaman lain sudah habis dilahap api tapi ulin tetap kokoh berdiri,” kata Sudin yang menduga tunggul itu ditebang 40 tahun silam. Sudin menduga dahulu di setiap ha lahan kering di Kalimantan Selatan tumbuh 20 ulin.

Sementara itu banyak tanaman muda tumbuh secara alami dari batang yang sudah terbelah. Dari tunggul bekas tebangan juga tumbuh tunas baru. Dahulu satu-satunya anggapan konservasi ulin hanya dengan perbanyakan melalui biji karena perbanyakan secara vegetatif sulit. “Ternyata alam memiliki kemampuan memulihkan dirinya sendiri. Tugas kita merawat dan menyeleksi mereka,” kata Eny. Contohnya dari tunggul bekas tebangan bakal muncul belasan tunas.

Menurut Eny menyeleksi pohon asal tunas, menghasilkan kayu berkualitas dan tidak kalah dengan kayu yang berasal dari biji. Di Kintap, misalnya, tumbuh ulin berumur 20 tahun asal tunas samping yang tumbuh tegak lurus. Nyaris serupa dengan kayu bulian-sebutannya di Sumatera-yang berasal dari biji. Sebelumnya banyak orang meyakini bahwa tanaman asal tunas samping dari tunggul bakal tumbuh bengkok. Padahal, pada tanaman kehutanan lain-seperti sengon-pekebun justru memelihara tunas samping untuk mengganti biaya penanaman yang mahal (baca Sengon: 3 Tahun Panen, Trubus September 2011).

Bahkan, menurut Sudin seleksi tunas samping juga sebaiknya tak membuang tunas yang tak layak. “Sangat mungkin dilakukan perbanyakan dengan pemisahan tunas samping yang tumbuh menjadi indinvidu-individu. Misal, dengan mencongkel agak dalam mata tunas dan menumbuhkannya di media lembap. Mirip pemisahan tanaman pada kultur jaringan atau tanaman keluarga Araceae. Oleh karena itu butuh riset untuk menguji tingkat keberhasilannya,” tutur Sudin.

Di alam tunas dari belahan papan yang gagal atau tunggul dapat muncul dan bertahan hidup selama tunggul dan belahan papan dalam kondisi tidak terganggu. Maksudnya, tanaman di sekitar tetap utuh sehingga cahaya yang masuk hanya 50% dan kelembapan tinggi. Bila tanaman di sekitar ikut hilang atau lahan terbakar, maka harapan regenerasi pun lenyap. “Yang dikhawatirkan kebakaran hutan di musim kemarau akibat masyarakat membakar lahan yang menyisakan tunggul ulin,” kata Sudin.

Kini dari tunas yang tumbuh di tunggul itu menjadi harapan agar ulin tidak punah. Perbanyakan ulin dengan biji memang memungkinkan, tetapi pasokan biji seret. Pasalnya, ulin tak berbuah setiap tahun. Literatur klasik karangan ahli Belanda HAJM Beekman pada 1949 menyebut ulin dewasa hanya berbuah 4 kali setahun. Sementara pengamatan Sudin ulin berumur 30 tahun berdiameter batang 23 cm berbuah 3-4 kali setahun.

“Ulin berumur 20-30 tahun yang tersisa itu nantinya bakal menjadi pohon induk penghasil biji. Pohon induk yang banyak diharapkan bisa menghasilkan panen yang bergantian,” kata Sudin. Pertumbuhan mereka yang sangat lambat berpacu dengan meraung-raungnya mesin sepeda motor yang juga terengah-engah mengangkut balok tunggul ulin. (Ridha YK, Kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

 

 

Khasiat Bulian

Kayu ulin bukan hanya kuat sebagai bahan bangunan, tetapi juga kuat sebagai obat. Begitulah kesimpulan Aulia Ajizah, Thihana, Mirhanuddin, dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat. Mereka meriset serbuk gergaji kayu bulian sebagai antibakteri. Selama ini limbah gergajian dibuang dan mencemari sungai. Industri penggergajian kayu ulin banyak di tepi sungai.

Mereka meriset khasiat ulin setelah memperoleh informasi bahwa masyarakat menggunakan air rendaman kayu ulin untuk mengobati sakit gigi. Kemungkinan kayu ulin mengandung senyawa antikuman penyebab sakit gigi atau hanya bersifat analgesik alias mengurangi rasa sakit. Khasiat antibakteri kayu ulin terhadap bakteri di mulut dan menyebabkan sakit gigi seperti Streptococcus mutans, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus pneumoniae, dan Staphylococcus aureus.

Menurut Aulia Staphylococcus aureus menginfeksi jaringan atau organ tubuh lain dan menyebabkan penyakit dengan tanda-tanda yang khas seperti peradangan, nekrosis, dan pembentukan abses. Kuman itu juga menyebabkan septikemia, endokarditis, meningitis, abses serebri, sepsis purpuralis, dan pneumonia. Hasil riset membuktikan bahwa konsentrasi 2% dan 2,5% sama sekali tidak memperlihatkan pertumbuhan koloni bakteri. Semakin tinggi konsentasi ekstrak kayu ulin, pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus semakin dihambat.

Kandungan beragam senyawa kimia seperti alkaloid, flavonoid, triterpenoid, tanin, dan saponin berperan dalam penghambatan itu. Akibat pemberian ekstrak kayu ulin, sintesis dinding sel bakteri pun terhambat. Senyawa fenol dapat bersifat koagulator atau menggumpalkan protein. Dampaknya protein tidak dapat berfungsi lagi, sehingga mengganggu pembentukan dinding sel bakteri. (Sardi Duryatmo)

 

Keterangan Foto :

  1. Populasi ulin di alam kian menipis
  2. Ir Abdul Aziz Karim MP “Kini ulin bukan lagi langka, tapi menuju kepunahan bila tidak ada upaya konservasi serius.”
  3. Tunggul berdiameter 20 cm dapat menghasilkan 13 tunas samping yang dapat dipisahkan menjadi individu-individu
  4. Jalur pengangkutan balok dari tunggul ulin yang menggunakan tenaga kerbau
  5. Setiap hari minimal 20 ‘ojek ulin’ menarik balok ulin sebanyak 300 kg ke Banjarmasin
  6. Biji ulin
  7. Daun ulin
  8. Ulin dari tunas samping pun berkualitas setara dengan dari biji: lurus dan kokoh
  9. Kawasan hutan dengan tujuan khusus
  10. Di wilayah perbukitan Meratus di Kalimantan Selatan tersisa ulin muda yang perlu dikonservasi

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software