Kayu Berubah Bensin

Filed in Perkebunan by on 04/11/2010 0 Comments

Prof Dr Ir Wasrin Syafii MAgr, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, meriset kayu sebagai bahan baku bioetanol. Dalam riset itu ia menggunakan 4 jenis kayu: pinus Pinus merkusii, sengon Paraserianthes falcataria, gemelina Gmelina arborea, serta kelapa sawit Elaeis guineensis. Rendemen kayu kelapa sawit paling rendah (lihat tabel). ‘Bahan baku bioetanol sebaiknya dari jenis kayu keras,’ kata Wasrin. Kayu keras lebih banyak mengandung selulosa – bahan baku bioetanol.

Soelaiman Budi Sunarto, produsen bioetanol di Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menyambut baik penelitian Wasrin. ‘Limbah penggergajian di sentra-sentra kayu dan pabrik kayu lapis bisa bertruk-truk setiap hari,’ kata Budi. Pemanfaatan baru sebatas media tanam, baglog jamur, atau pelapis lantai kandang ternak, sisanya terbuang.

Jerami padi

Menurut Dr Ir M Arif Yudiarto MEng, kepala Bidang Teknologi Etanol dan Derivatif Balai Besar Teknologi Pati BPPT, peluang penerapan teknologi pembuatan bioetanol berbahan selulosa sebenarnya  lebih besar pada bahan bagase dan jerami padi. ‘Selama ini kedua bahan itu terbuang percuma, kadang malah dibakar sehingga mengemisikan gas rumah kaca,’ kata Arif. Pada 2010, Departemen Pertanian memperkirakan produksi jerami 84-juta ton per tahun.

Untuk menghasilkan 1 liter bioetanol berkadar 80% memerlukan 3 – 4 kg jerami. Artinya potensi produksi bioetanol berbahan jerami setidaknya 21-juta liter per tahun. Bagaimana dengan bagase atau limbah pengolahan tebu? Pada musim giling 2008, produksi total 59 pabrik gula di Indonesia mencapai 2.574,3 ton gula pasir dari rendemen 8%. Itu dari 32.175 ton batang tebu mentah. Dari jumlah itu, 30 – 40% menjadi bagase dan pabrik hanya menyerap dua per tiga, maka terdapat 2.896 ton per tahun.

Menurut Wasrin jerami, limbah penggergajian, bambu, dan ampas tebu bahan baku bioetanol potensial. ‘Syaratnya mempunyai kandungan selulosa,’ kata Wasrin Syafii. Selulosa merupakan polimer alam penyusun dinding sel tanaman yang melalui proses pengolahan menjadi alkohol alias bioetanol.

Bioetanol dari pangan seperti singkong, sorgum, dan tebu mengundang konflik sejak seruan penggunaan bahan bakar nabati santer terdengar. Itu sebabnya pria kelahiran Tegal 56 tahun lalu itu melirik potensi kayu sebagai bioetanol.

Selulosa

Pengolahan kayu menjadi bioetanol memang perlu tahapan panjang. Sebab, rantai karbon dan ukuran molekul selulosa dalam kayu lebih besar daripada glukosa dalam tebu atau pati dalam singkong. Selain itu selulosa kuat dan ulet. Maklum, ‘Selulosa berfungsi melindungi sel dari pengaruh lingkungan dan makhluk lain,’ kata guru besar Fakultas Kehutanan sejak 2000 itu. Selain itu, produsen mesti memisahkan selulosa dari komponen kayu lain seperti lignin, hemiselulosa, dan selulosa berbentuk kristal.

Lignin dan selulosa berbentuk kristal menghambat proses fermentasi selulosa. Oleh karena itu produsen perlu menyingkirkan melalui proses delignifikasi. Wasrin mengolah kayu menjadi pulp alias bubur kertas terlebih dulu, kemudian memfermentasi menjadi bioetanol. Ia  menggunakan larutan sodium sulfida (Na2S) dan soda api (NaOH) untuk memasak kepingan kayu  berbobot 200 g. Lama pemasakan 4 jam pada suhu 170oC. Rendemen delignifikasi berkisar 32,75 – 61,04%, tergantung jenis kayu dan tingkat alkalinitas atau sulfiditas proses.

Selain dengan bahan kimia, produsen bioetanol dapat memanfaatkan cendawan pelapuk putih, di antaranya Phanerochaete chrysosporium, Ceriporiopsis subvermispora, atau Schizophyllum commune. Cendawan itu tergolong jenis pelapuk akar yang kerap menimbulkan penyakit busuk putih pada tanaman berkayu. Meski ramah lingkungan, delignifikasi dengan agen hayati perlu waktu lama, 28 – 35 hari.

Hasil delignifikasi berupa pulp alias bubur kayu. Wasrin mensakarifikasi dan memfermentasi dengan proses SSF alias simultaneous saccharification and fermentation. Selanjutnya ia menggunakan cendawan Aspergillus niger dan kapang Saccharomyces cerevisiae, untuk fermentasi bubur kayu selama 96 jam. Proses fermentasi hasil paten perusahaan minyak Gulf Oil Company dan University of Arkansas, Amerika Serikat itu menghasilkan bioetanol. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software