Kaya di Tanah Miskin

Filed in Profil, Uncategorized by on 04/03/2016

Semula lahan 0,8 ha di Dusun Tirtodadi, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, itu bera. Banyak pekebun mencoba menanam beragam komoditas seperti kacangan-kacangan di lahan itu. Sayang hasilnya nol besar karena tanaman mati. Harap mafhum lahan itu bercadas sehingga tanaman sulit tumbuh.

Pakde Gun sukses membudidayakan buah naga dan buah lainnya di lahan marginal.

Pakde Gun sukses membudidayakan buah naga dan buah lainnya di lahan marginal.

Kondisi demikian tentu saja membuat nyali petani lain ciut. Namun, itu tidak berlaku untuk Ir Muhammad Gunung Soetopo. Pada 2005 Pakde Gun—sapaan akrab Muhammad Gunung Soetopo—nekat membudidayakan buah naga putih Hylocereus undatus di lahan menganggur itu. Gun tertarik menanam buah naga karena genjah, bisa ditanam di lahan apa saja asal tahu teknologinya, serta harga relatif bagus.

Ramah lingkungan
Masyarakat pesimis Gun berhasil mengembangkan tanaman kerabat kaktus itu. Konsultan ahli dari Taiwan pun meragukan Gun bakal sukses menghasilkan buah naga. Musababnya kebun itu berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (m dpl). Pekebun di Taiwan menanam rhino fruit—sebutan buah naga di Australia—di ketinggian 0—200 m dpl.

Setahun berselang tanaman anggota famili Cactaceae itu berbuah. Bagaimana cara Gun menaklukkan tanah cadas minim lapisan atas itu? Ia membenamkan 100 ton pupuk kandang setara 20 truk bervolume masing-masing 5 ton sehingga lahan kembali subur. Panen perdana menghasilkan 4 ton buah naga. Gun melego 60% buah naga ke pedagang kaki lima, 20% laku terjual di kebun, dan 20% diberikan gratis ke masyarakat sekitar. Kini Sabila Farm—nama kebun milik Gun—semakin berkembang.

Luas kebun mencapai 11 ha di 5 tempat berbeda. Semua lokasi itu di wilayah Pakem. Kebun-kebun itu pun semula lahan marginal yang miskin hara. Komoditas buah juga lebih beragam. Total jenderal ia mengembangkan sekitar 35 buah lain seperti srikaya, sirsak, jambu kristal, delima, dan durian. “Buah lain masih dalam tahap pengembangan karena masih dipelajari ilmunya,” kata ayah 2 anak itu.

Buah naga premium dari Sabila Farm.

Buah naga premium dari Sabila Farm.

Selain sukses menyuburkan tanah, ia juga mampu menghasilkan buah-buahan berkualitas prima. Yang paling terkenal bagus mutunya pasti buah naga. Kelebihan buah naga milik Gun yakni dibudidayakan secara organik. Sejatinya tidak hanya buah naga yang organik. Buah lain seperti sirsak dan srikaya pun dipelihara secara organik. Gun juga menerapkan budidaya ramah lingkungan.

Pembeli langsung
Gun Sutopo tidak pernah membasmi hama dan penyakit. Jika ada serangan semut dan uret berarti keseimbangan alam terganggu. Munculnya serangan uret karena keseimbangan mikrob dalam tanah timpang. Oleh karena itu Gun berupaya mengendalikan populasi kedua momok itu agar jumlahnya tidak melampaui batas. Caranya ia membuat lubang biopori di sekitar kebun.

Alumnus Institut Pertanian Bogor itu lalu mengisi lubang biopori itu dengan cabang dan ranting tanaman, daun, serta kulit buah. Semut dan uret suka dengan itu sehingga tidak menyerang tanaman produksi. Biopori juga berperan membantu meresapkan air hujan ke dalam tanah sehingga kebun tidak banjir. Saat musim panas ketersediaan air relatif terjaga dengan adanya biopori.

Mengunjungi pasar di luar negeri untuk mendapat wawasan baru seputar produk hortikultura.

Mengunjungi pasar di luar negeri untuk mendapat wawasan baru seputar produk hortikultura.

Dengan perlakuan itu buah naga dari Gun bebas pestisida dan pupuk kimia. Konsumen pun aman mengonsumsi buah naga itu dengan kulitnya. “Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan buah naga kami bebas pestisida,” kata pria berumur 58 tahun itu. Kini rata-rata Gun memproduksi 20 ton buah naga—berdaging merah dan putih—setiap tahun. Semuanya ludes tidak tersisa. Padahal Gun membanderol buah naga Rp25.000 per kg.

Harga itu 150% lebih tinggi ketimbang produk serupa dari pekebun lain, yakni Rp10.000 per kg. Gun menuturkan agar konsumen bisa menerima produk pertanian pekebun mesti memahami cara budidaya yang baik dan benar. Pekebun juga harus membangun citra diri yang positif seperti dapat dipercaya, mudah dihubungi, dan selalu menepati janji. Lebih bagus lagi jika konsumen bisa melihat langsung kebun budidaya.

Dengan modal itulah masyarakat menerima buah naga kreasi Gun. Agar berhasil melewati segala tantangan Sabila Farm memiliki 3 prinsip yakni tekad, semangat, dan nekat untuk maju. Ia tidak menjual produknya ke pasar swalayan atau toko buah lain. Sebanyak 40% konsumen datang langsung ke kebun. Sisanya 60% membeli secara daring atau online. Gun menginformasikan kepada pelanggan melalui media sosial menjelang panen.

Sirsak bermutu

Sirsak bermutu bagus karena penyerbukan buatan .

Sirsak bermutu bagus karena penyerbukan buatan .

Konsumen beragam buah produksi Gun berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Medan, Provinsi Sumatera Utara, Palembang (Sumatera Selatan), Bandung (Jawa Barat), Jakarta, Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), dan Makassar (Sulawesi Selatan). Gun menyasar konsumen menengah ke atas. Alasannya pendapatan mereka sangat mencukupi dan menghendaki sesuatu yang istimewa.

Beberapa orang dari kalangan itu juga kadang-kadang memiliki masalah kesehatan. Mereka enggan menenggak obat dari dokter dan lebih memilih mengonsumsi sesuatu yang menyehatkan. Disitulah Sabila Farm hadir menyediakan buah-buahan berkhasiat obat seperti buah naga. “Tema kebun kami memang menyediakan buah berkhasiat kesehatan dari lahan marginal. Itu trik bisnis kami.” ucap pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, itu.

Kebun buah naga berada di kaki Gunung Merapi.

Kebun buah naga berada di kaki Gunung Merapi.

Bisnis tidak lepas dari bumbu-bumbu promosi. Gun mengamati kebanyakan petani di Indonesia kurang promosi. Mereka hanya mengeluh masalah budidaya dan pemasaran. Oleh karena itu Gun menyarankan para petani mencari solusi dan pengetahuan seputar budidaya. Gun juga menganjurkan agar petani mendidik konsumen. Tidak bisa tiba-tiba meminta konsumen membeli produk tanpa penjelasan.

Sabila Farm membuka diri bagi setiap orang yang ingin belajar menanam.

Sabila Farm membuka diri bagi setiap orang yang ingin belajar menanam.

Buah bermutu tinggi lainnya dari Sabila Farm yakni sirsak. Annona muricata produksi Gun jauh berbeda dengan produk serupa yang banyak beredar di pasar. Mayoritas penampilan sirsak di tanah air kurang bagus karena bentuknya tidak beraturan, bercitarasa masam, dan daging buah berair. Bobot buah tanaman anggota famili Annonaceae itu pun maksimal 1,5 kg.

Mancanegara
Sayangnya sangat jarang mendapati srikaya jawa—sebutan sirsak oleh masyarakat Bali—seukuran itu. Bandingkan dengan sirsak kepunyaan Gun yang berbobot rata-rata lebih dari 2 kg. Bahkan ia pernah mendapati nangka londo—sebutan sirsak dalam bahasa Jawa—berbobot 4,2 kg. Yang paling mencolok sosok sirsak dari Pakem itu gilig, lonjong, dan simetris.

Sirsak ala Gun berdaging buah kering, legit, dan tidak banyak berair. Biji pun sedikit. Tentu saja konsumen kesengsem rasa manis tanpa masam pada buah. Selain itu sirsak bercitarasa gurih. Sebab, “Saya membudidayakan sirsak di lahan marginal dengan jenis tanah grumusol berbahan dasar batuan magma gunung api,” kata alumnus Jurusan Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor itu.

Srikaya new varietas organik dari bercitarasa manis.

Srikaya new varietas organik dari bercitarasa manis.

Kunci sukses Gun membudidayakan jambu landa—sebutan sirsak oleh masyarakat Lampung—yakni menjaga kesehatan tanaman dan melakukan penyerbukan buatan. Sejatinya kebun di kaki Gunung Merapi itu tidak hanya memproduksi buah. Sejak 2010 Gun menjadikan kebun itu tempat rekreasi dan edukasi. Saban tahun lebih dari 6.000 orang mengunjungi kebun milik Gun.

Pengunjung agrowisata berasal dari barbagai kalangan mulai dari siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pegawai negeri sipil dan swasta dari berbagai instansi pun kerap bertandang memetik aneka buah. Bahkan turis mancanegara menyambangi Sabila Farm demi menikmati kelezatan buah tropis langsung dari kebun. Waktu kunjungan paling ramai terjadi pada November—April.

Saat itu Gun memanen aneka buah naga. Supaya mendapat wawasan lebih banyak seputar produk hortikultura ia dan istri pergi ke luar negeri. Frekuensi bepergian 3 kali setahun. Setiap kunjungan selama 2 pekan. Di luar negeri Gun mengikuti pameran hortikultura. Dari situ ia mengetahui kualitas produk dan cara pengemasan. Selain itu Gun juga mempelajari teknik budidaya dan pascapanen serta mengunjungi pasar di negara tujuan. (Riefza Vebriansyah)
556_ 46-13

Menciptakan Pesaing

Pakar konservasi lahan marginal, tepat untuk menggambarkan Muhammad Gunung Soetopo. Melalui bendera Sabila Farm Pakde Gun—sapaan akrab Muhammad Gunung Soetopo—menyulap lahan marginal menjadi kebun buah produktif. Tercatat sudah lima kategori lahan marginal yang ia kelola yakni cadas, kering, bekas penambangan, gambut, dan karst.

Salah satu lahan karst binaan Gun berada di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Di tempat itu ia menanam buah naga, srikaya, dan sirsak di lahan 5 ha. Rencananya luas kebun nantinya maksimal 20 ha. Lahan gambut yang ia garap berlokasi di Pontianak, Kalimantan Barat. Luas keseluruhan sekitar 20 ha dan ditanami buah naga. Di Kalimantan Selatan Gun membudidayakan buah naga di lahan bekas tambang batu bara seluas lebih dari 20 ha. Lahan kering yang ia kembangkan berada di Aceh, Riau, dan Palembang.

556_ 46-14Total jenderal ia sudah mengkonservasi 17 lokasi berlahan marginal. “Kegiatan itu program pribadi saya. Tujuannya mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kemampuan bertani masyarakat lokal,” tutur Gun. Pria yang selalu memakai topi ala koboi itu membagikan gratis ilmu budidaya lengkap buah-buahan. Gun pun memandu petani binaan menembus pasar.
Artinya produk petani binaan bersaing dengan milik Gun. Intinya ia menciptakan kompetitor sendiri. Tentu pesaing yang ia bina mesti menjaga kualitas produk dan berintegritas. Gun tidak takut bersaing. “Saya malah senang jika ada petani yang lebih sukses,” kata suami dari Ir Elly Mulyati itu. Menurut Gun pangsa pasar buah nasional masih sangat besar. Konsumsi buah di Indonesia masih berkisar 36 kg per kapita.

Menurut Food Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian tingkat konsumsi buah masyarakat tropis idealnya 72 kg per kapita. Apalagi saat ini pemerintah masih mengimpor pangan seperti beras, daging, dan produk hortikultura. Gun mengatakan nilai impor sayur dan buah pada 2011 mencapai Rp17-triliun. Jumlah itu mengalahkan nilai impor beras senilai Rp9-triliun. Data itu semakin meneguhkan tekad Gun untuk memajukan produk hortikultura, khususnya buah dan sayuran.

Selain dari kalangan petani, Gun pun mencetak pengusaha hortikultura dari kalangan mahasiswa. Ia membimbing mahasiswa itu dari awal hingga berhasil. Gun masih punya impian yang belum terwujud. Ia berharap Indonesia bisa menjadi produsen pangan untuk Benua Asia bahkan dunia. Gun menggunakan istilah Indonesia Feed Asia (IFA). “Itu bisa terwujud karena lahan pertanian kita luas,” kata ketua Asosiasi Buah Naga Indonesia (ABNI) itu. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software