Kanker Menyebar Sirsak Hentikan

Filed in Obat tradisional by on 08/03/2013 0 Comments
dr Paulus Wahyudi Halim

dr Paulus Wahyudi Halim

Kanker payudara menyebar ke tulang dan lever masih dapat diatasi.

Penderitaan Arimbi Larasati—nama samaran—belum berakhir usai operasi pengangkatan sel kanker payudara pada November 2011. Tujuh bulan kemudian Arimbi melakukan Positron Emission Tomography Computed Tomography (PET CT Scan) untuk mengetahui sebaran sel kanker di tubuhnya pascaoperasi. Arimbi terkejut saat dokter menjelaskan kanker payudara telah bermetastasis.

Sel ganas tersebut sudah menyebar ke organ hati, tulang belakang, jantung, ginjal, bahkan uterus. “Kanker yang bermetastasis ke hati saya sudah parah,” ucap Arimbi. Metastasis sel kanker ke tulang belakang sesungguhnya bisa merusak tulang. Michal Rajski dan rekan dari Basel University, serta Florent Baty dari Cantonal Hospital St. Gallen, semuanya di Swiss, mengungkapkan tulang menjadi tempat umum yang selalu terpapar sel kanker yang bermetastasis.

Terapi hormon

Dalam jurnal “PLoS ONE” Michal Rajski menekankan 70% pasien kanker payudara mengalami masalah pada tulang belakang. Begitu pula dengan Arimbi yang mengalami nyeri di tulang belakang. Dokter sekaligus herbalis di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir, mendukung riset Michal Rajski dan rekan.

Berdasarkan pengalaman Paulus, pasien kanker payudara yang datang kepadanya, sel kankernya bermetastasis ke tulang belakang, selanjutnya hati, paru-paru, serta otak. Dokter alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu, menjelaskan penyebab semua itu adalah sel kanker yang masuk ke aliran darah dan getah bening. “Tulang tempat melekatnya otot terdapat pembuluh darah dan saluran getah bening,” kata dokter yang pernah bertugas di Uganda itu.

Lebih jauh Paulus menyebutkan bagian yang terkena dampak metastasis seperti tulang atau hati, tidak serta-merta bisa disebut kanker tulang atau kanker hati. Sebab, “Jaringan utama tempat sel kanker tumbuh berawal di payudara. Sementara tulang dan hati hanya menjadi tempat tumbuh sekunder sel kanker,” tuturnya. Menurut Arimbi setelah mengetahui sel kanker payudara telah bermetastasis, dokter menyarankan kemoterapi sel kanker di hati dan radiasi untuk tulang.

“Saya menolak karena sepengetahuan saya kemoterapi tidak hanya membasmi sel kanker, tapi juga merusak sel sehat,” tutur Arimbi. Lantas ia berkonsultasi ke dokter lain di sebuah rumahsakit di Jakarta. Di sana dokter yang memeriksa tidak menganjurkan kemoterapi, tetapi meminta Arimbi menjalani terapi antihormon pada Agustus 2012. Terapi antihormon bertujuan mencegah sel kanker bertambah besar dengan mengontrol produksi hormon estrogen dan progesteron.

Kanker Payudara Bermetastasis

Kanker Payudara Bermetastasis

Daun sirsak

Arimbi berencana menjalani terapi hormon selama 4 bulan. Bila terapi itu tidak berhasil, pilihan terakhir adalah menjalani kemoterapi. Namun, pada Oktober 2012 ia kembali mengeluh sakit di tulang belakang dan menduga terapi antihormon tidak berjalan baik. Arimbi melakukan tumor marker pada Oktober 2012 untuk mengetahui aktivitas  kanker. Hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat keganasan kanker berkurang. Nyeri pada tulang belakang itu diduga terjadi akibat osteoporosis dan nyeri sendi sebagai efek radiasi.

Dokter Paulus yang juga menangani Arimbi meningkatkan dosis daun sirsak, menjadi 3 kapsul tiga kali sehari. Kapsul itu tidak hanya berisi daun sirsak, tapi juga herbal lain seperti temuputih. Biasanya Paulus hanya memberikan 2 kapsul sirsak 3 kali per hari untuk pasien kanker yang belum bermetastasis. Selain itu dr Paulus memberikan ekstrak kulit manggis majemuk—dengan penambahan ekstrak pegagan dan sambiloto. Semua sediaan dalam bentuk kapsul. Dosis konsumsi masing-masing 2 kapsul 3 kali sehari.

Ekstrak temulawak untuk melindungi hati. “Jika fungsi hati bagus membantu proses penyembuhan penyakit dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bila sistem kekebalan tubuh terdongkrak, pasien pun lebih cepat sembuh,” kata Paulus. Selain memberikan kapsul herbal, Paulus juga memberi Arimbi serbuk herbal. Serbuk itu berupa 8 jenis benalu dari tanaman berbeda seperti teh dan mangga, tapakdara, kunyitputih, serta mahkotadewa. Arimbi merebus 18 gram serbuk herbal  dalam 3 gelas air hingga mendidih,  tersisa 1 gelas, dan menyaringnya.

Ia lalu membagi hasil saringan itu menjadi 3 bagian dan diminum 3 kali sehari. Menurut Paulus untuk mengatasi kanker dan penyakit lain, herbal yang digunakan harus majemuk, tidak bisa tunggal. “Itu untuk mensinergiskan beragam herbal sehingga lebih ampuh mengatasi kanker dan penyakit lain,” ujar dokter yang selalu meresepkan daun sirsak untuk kanker selama 10 tahun lalu itu.

Pada November 2012 Arimbi melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk memastikan kondisi sel kanker. Hasilnya cukup membuat Arimbi senang: sel kankernya mengecil. “Kankernya berukuran   2 cm2 dari sebelumnya 12 cm2,” kata ibu dua anak itu. Untuk memastikan perkembangan kanker terhambat, pada Januari 2013 Arimbi kembali melakukan PET CT Scan. Hasilnya tidak terdeteksi sel kanker di sekujur tubuh pehobi tanaman itu.

Gabungan pengobatan modern dan ektsrak daun sirsak membantu Arimbi mengatasi kanker payudara. Hasil riset Eka Prasasti Nur Rachmani dan Tuti Sri Suhesti dari Departemen Farmasi serta Retno Widiastuti dan Aditiyono dari Departemen Obat, keduanya dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, mengungkapkan daun sirsak bersifat antikanker payudara. Kesimpulan penelitian itu menunjukkan 17,149 µg/mL ekstrak etanol daun sirsak memiliki sifat sitotoksik pada sel kanker payudara. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun sirsak, semakin besar pula efek sitotoksik. Sel kanker pun berkurang karena membunuh dirinya sendiri alias apoptosis. (Riefza Vebriansyah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software