Kampung Naga

Filed in Nusantara by on 25/02/2010 0 Comments

  1. Hutan garapan merupakan wilayah hutan yang dimiliki masing-masing warga Kampung Naga. Di hutan itulah warga membudidayakan beragam tanaman produktif seperti sengon, manglid, bambu, atau genitri. Di sela tanaman kayu itu mereka menanam cabai atau kunyit. 401
  2. Rumah adat Suku Naga rata-rata berukuran 30 m2. Mereka memilih material ringan, rumah panggung, dan sistem bongkar pasang sehingga sangat tahan gempa. Atap, misalnya, memanfaatkan ijuk yang ringan. Agar tak bocor, bagian bawah atap dilapisi daun tepus Achasma coccineum. Dengan sistem itu rumah adat Suku Naga mampu bertahan 15 tahun. 402
  3. Masyarakat Suku Naga memperoleh beras dengan cara menumbuk padi di dalam lesung. Ibu rumah tangga menumbuk padi dalam 3 hari sekali. Beras hasil tumbukan itu jauh lebih sehat karena kaya tiamin alias vitamin B1 yang berkhasiat mencegah penyakit beri-beri. Lapisan aleuron yang kaya vitamin B1 dalam beras hasil penggilingan hilang. 403
  4. Warga Suku Naga menyimpan padi di goah, sebuah ruang 3 m x 2 m persis di sisi dapur. Asap hasil pembakaran kayu saat memasak, menerbos dinding goah yang terbuat dari anyaman bambu. Tanpa sadar, cara itu justru mengawetkan padi hingga bertahan 48 tahun. Sebab, asap pembakaran mengandung fenol, asam, dan karbonil yang bersifat anti mikroba dan desinfektan. 404
  5. Selain lumbung goah di setiap rumah, masyarakat Suku Naga mempunyai lumbung bersama yang disebut leuit. Itu merupakan lumbung cadangan yang dimanfaatkan bila sewaktu-waktu bila gagal panen, misalnya. Leuit berdinding kayu sehingga mampu mencegah kelembapan tinggi. Kelembapan terlampau tinggi mengundang cendawan. Padi yang dismpan di lumbung itu mampu bertahan hingga 8 tahun. 405
  6. Mata pencaharian utama warga Suku Naga adalah bertani. Mereka membudidayakan padi-padi lokal seperti varietas jamblang, lokcan, dan sreksrek. Penanaman dan panen dilakukan serempak. Tujuannya memutus siklus hama tikus sekaligus mencegah kecemburuan. 406
  7. Masyarakat Suku Naga menyimpan cadangan pangan dalam bentuk padi, bukan beras. Kebiasaan itu sekaligus mengawetkan padi. Sebab, kulit padi mengandung silika sehingga hama-hama gudang sulit mencerna. Penyimpanan cadangan pangan dalam bentuk beras sangat rentan serangan hama. 407
  8. Tamu yang datang ke wilayah Suku Naga melewati sebuah gapura. Selepas gapura terdapat 365 anak tangga di punggung bukit dengan kemiringan 30 derajat. Tangga selebar 1,2 meter itu terbuat dari semen. Suhendri, pemimpin adat terteinggi Suku Naga, mengatakan tak ada makna tertentu jumlah anak tangga yang kebetulan sama dengan jumlah hari dalam setahun. 408
  9. Hutan di sisi timur perkampungan Suku Naga hanya boleh dimasuki oleh para pemimpin adat. Sedangkan hutan di sisi timur yang bersebelahan dengan Sungai Ciwulan terlarang dimasuki oleh siapa pun. Warga Suku Naga hanya boleh menebang pohon di hutan garapan yang ditanami beragam kayu seperti sengon dan janitri. Warga Suku Naga patuh dan tak merambah hutan sehingga beragam bencana seperti kekeringan, tanah longsor, dan banjir tak pernah terjadi. 409
  10. Jumlah bangunan rumah di perkampungan Suku Naga tak akan bertambah. Batas antara rumah, sungai, dan hutan tak boleh dilanggar sehingga tak ada penambahan rumah, kata Ade Suherlin, kuncen Suku Naga. Pembatasan itu untuk menjaga ekosistem lahan. Itulah sebabnya banyak warga Suku Naga yang tinggal di luar perkampungan itu, tetapi tetap mengikuti adat-istiadat Suku Naga. 410
  11. Orang dewasa Suku Naga mampu menyebutkan 39 kultivar pisang. Beberapa kultivar pisang itu adalah hurang jambe, bubuyan, dan muli. Buah itu memang menjadi kudapan favorit di sana. Tingginya jenis pisang itu diperkirakan kampung Suku Naga merupakan salah satu pusat plasma nutfah pisang di Jawa Barat. 411
  12. Beragam perlengkapan rumah tangga warga Suku Naga terbuat dari bambu. Mereka mengenal 6 jenis bambu seperti awi tali, awi surat, awi tamang, dan awi haur hejo. Semua perlengkapan rumah tangga itu mereka buat sendiri. Agar ketersediaan bambu mencukupi, mereka menanam bambu di hutan. 412
  13. Satu orang satu pohon. Tema kampanye penghijauan pada 2008 itu telah lama dilakukan oleh warga Suku Naga. Mereka turun-temurun menanam pohon, terutama kelapa, setiap kali kelahiran anak. Kelapa dipilih lantaran dapat dipetik hasilnya, berupa buah dan daun, tanpa harus menebang pohon. 413
  14. Pusat kegiatan bersama seperti mesjid, tempat pertemuan, lumbung bersama, dan pusat upacara adat dibangun di lokasi berdekatan. Mesjid selain sebagai tempat ibadah, juga sebagai tempat pengajian dan silaturahim antarwarga. Balai pertemuan di sebelah mesjid biasa digunakan rapat, selamatan, atau menyambut tamu dalam jumlah banyak. 414
  15. Lantai rumah panggung di Kampung Naga berasal dari kayu manglid Mangletla glauca yang ringan tetapi kuat. Lantai kayu dan dinding kayu membuat rumah terasa hangat pada malam hari dan sejuk pada siang hari. Almari buatan sendiri anyaman bambu dan kayu menjadi ornamen interior bernilai seni tinggi yang serasi dipajang di ruang tengah. 415
  16. Warga Kampung Naga banyak memanfaatkan tanaman di sekitar kampung dan hutan untuk mengobati beragam penyakit ringan. Daun seseuruehan <i>Piper aduntum</i>, contohnya, mereka gunakan untuk mengobati iritasi mata. 416
  17. Meski ketat menjaga adat istiadat, warga Kampung Naga juga membebaskan generasi muda untuk mennempuh pendidikan formal. Setiap pagi, jalan-jalan setapak di Kampung Naga ramai oleh anak-anak berseragam yang hendak bersekolah. 417
  18. Kolam-kolam berisi ikan nila, bawal, atau lele berada di sekeliling Kampung Naga. Hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan sisanya di jual ke pasar atau dibeli tengkulak. 418
  19. Sungai Ciwulan yang mengalir di sisi timur Kampung Naga menjamin ketersediaan air bagi warga untuk mencuci dan mandi. Begitu pentingnya peran Sungai Ciwulan sehingga warga Kampung Naga ketat menjaga kebersihannya. Tak bisa dibiarkan jika ada pencemaran di hulu. 419
  20. Warga Kampung Naga memperoleh air untuk minum dan memasak dari sumber air tanah di sisi barat Kampung Naga. Sumber air bersih itu tak pernah kering meski kemarau panjang. Sebab, vegetasi hutan masih terjaga sehingga mampu menyimpan air tanah. 420
  21. Di luar penghasilan utama dari hasil kerajinan dan pertukangan, beberapa warga menyisihkan modal untuk berternak kambing. Jika kambing sudah besar, mereka memajang kambing-kambing itu di tepi kampung. Pembeli pun berdatangan. 421
  22. Dahulu warga Kampung Naga membuat aneka kerajinan bambu seperti angklung, kipas, hiasan dinding, seruling untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri. Kini, mereka membuat kerajinan untuk dijual. Tak jarang pesanan untuk membuat souvenir datang dalam jumlah besar. 422
  23. Suhendri menjabat wakil kuncen alias wakil kepala adat. Dialah yang memberikan izin masuk Kampung Naga kepada setiap tamu. Ia hanya mengizinkan kunjungan untuk tujuan pendidikan, penelitian, atau pengamatan. ‘Kampung Naga bukan tempat wisata,’ katanya. 423
  24. Bagi warga Kampung Naga, bambu merupakan tanaman penting lantaran multiguna. Anggota famili Poaceae itu sebagai bahan baku beragam kerajinan, alat rumah tangga, bahkan untuk mendirikan rumah. Beberapa jenis bambu yang ditanam di hutan garapan adalah awi surat, awi haur hejo, awi tamiang, awi haur koneng, awi haur payung, dan awi tali. 424
  25. Kuncen Kampung Naga Ade Suherlin (kiri) dan wakil kuncen Suhendri (kanan) ketat menjaga kemurnian adat Suku Naga. Upacara adat, aturan pembatasan wilayah, bentuk rumah, dan menolak aliran listrik semata-mata dilakukan untuk kemurnian adat Kampung Naga. 425
  26. Ibu rumah tangga Suku Naga menanak nasi secara tradisional. Mereka merebus beras tumbuk beberapa saat hingga beras mengembang. Setelah itu mereka mengukus hingga matang. Cara memasak tradisional itu membuat nasi awet sampai 3 hari meski tak disimpan dalam pemanas. 426
  27. Perumahan warga Kampung Naga di lereng berkemiringan 25o. Oleh karena itu lahan dibuat berundak dengan penahan tanah dari batu. Rumah-rumah dibangun di ketinggian yang berbeda sehingga drainase lancar. Saat hujan, air dengan mudah mengalir ke area lebih rendah hingga mengalir ke sungai. Penahan batu bertujuan menghindari longsornya tanah akibat air hujan. 427
  28. Terpeliharanya kemurnian adat Kampung Naga sampai saat ini merupakan hasil transformasi budaya dari para orang tua kepada setiap anaknya. Konsistensi antargenerasi itulah kuncinya. 428
  29. Lantaran jumlah bangunan rumah di Kampung Naga tak boleh melanggar batas wilayah, sehingga jumlah rumah tetap. Dampaknya banyak keturunan Suku Naga hidup di luar Kampung Naga. Namun, mereka tetap memelihara warisan budaya leluhurnya. Mereka masih mengikuti upacara adat. Bentuk rumahnya pun masih rumah panggung. 429
  30. Untuk menjamin ketersediaan air sepanjang tahun, warga Kampung Naga membangun pintu air di sungai Ciwulan. Dengan pintu air, aliran air ke sawah bisa diatur sesuai kebutuhan. Saat kemarau pun, aliran bisa diperkecil agar sungai tak kekeringan. 431
 

Powered by WishList Member - Membership Software