Kampiun Setelah 7 Kali Gagal

Filed in Satwa by on 02/08/2013

Super Hornet merebut gelar best of the best (BOB). Gelar pertama setelah 7 kali tampil di final BOB.

Rere meraih kampiun best of bitch setelah sebelumnya meraih peringkat tertinggi di kelas serama betina dewasa

Rere meraih kampiun best of bitch setelah
sebelumnya meraih peringkat tertinggi di kelas
serama betina dewasa

Super Hornet serama milik Markus Soedjiwo asal Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, itu  mantap beraksi. Ia rajin berputar-putar di atas meja. Mentalnya kuat meski penonton ramai bersorak di dekatnya.  Beberapa kali serama itu pun menyibakkan sayapnya lebar-lebar. “Gaya sangat bagus dengan aktif membusungkan dada. Meskipun agak melemah di pertengahan waktu, tapi ia kembali tampil aktif, bahkan lebih atraktif daripada sebelumnya,” ujar Wahyudi, juri asal Bali.

Rival terkuat Super Hornet adalah Jampang milik Damiri. Jampang pula yang menyisihkan Super Hornet di babak BOB pada  kontes serama  nasional Giant Cup III di Tangerang, Provinsi Banten pada Mei 2013. “Jampang kurang aktif beraksi,” kata Damong, juri asal Jakarta. Saigon Kick, jawara jantan dewasa A milik Dorry Zachry dari Jakarta yang sempat digadang-gadang bakal meraih kampiun akhirnya juga tersingkir. Padahal, “Saigon tampak percaya diri,” ujar Alu Peng, pehobi serama asal Bandung, Jawa Barat. Namun, di mata para juri performa serama itu belum sebanding Super Hornet.

Ramuan herbal

Menurut Markus, ayam itu dirawat oleh rekannya Yudika Indarto di Surabaya, Jawa Timur. Yudika melatih Super Hornet secara khusus. “Satu jam setiap hari Super Hornet harus beraksi di atas meja dengan iringan suara bising seperti  suasana kontes,” ujar Yudika.  Super Hornet juga mendapat asupan ramuan terdiri atas umbi bawang merah, umbi bawang putih, rimpang kunyit, dan rimpang lengkuas supaya stamina prima. Yudika mencampurkan ramuan itu bersama pakan voer yang digiling halus hingga homogen.

Sepekan menjelang lomba, Yudika  memberikan ramuan itu kepada Super Hornet setiap malam.   Pakan lainnya supaya Super Hornet fit adalah beras merah, menir jagung, dan voer dengan perbandingan masing-masing 2 : 1 : 1. Yudika memberikan pakan itu setiap pagi dan sore, masing-masing satu sendok makan.  Buah latihan itu menurut Markus memberi hasil mengesankan. Sejak Februari 2013, Super Hornet yang berbobot 280 gram itu 7 kali lolos ke babak final BOB di berbagai lomba. Sayang saat itu dewi fortuna belum memihak.

Untuk ke lima kalinya DP menduduki singgasana raja kebas

Untuk ke lima kalinya DP menduduki singgasana raja kebas

Pada kontes di Ecopark Ancol, Jakarta Utara, Super Hornet meraih gelar BOB untuk pertama kali. “Sebelum lomba sempat ditawar Rp25-Juta,” kata Markus yang membelinya dari  Wanto Sekar, kolektor serama di Tulungagung, Jawa Timur, seharga Rp2,5-juta. Serunya perebutan gelar bergengsi juga berlangsung di kelas best of chick (BOC). Vega milik Seto dari Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, merebut gelar juara. Menurut juri kontes, Eka Andri, Vega yang sebelumnya merebut kampiun anakan betina B itu sudah aktif mengangkat dada.

“Aktivitas itu stabil selama 3 menit penjurian,” ujar juri dari Surabaya, Jawa Timur itu. Gelar tertinggi di kategori betina, best of bitch, berhasil diraih oleh Rere, milik Madi asal Jakarta.

Meriah

Menurut Rudi Pelung, juri, Rere menang karena struktur anatomi tubuhnya memang baik serta aktif ketika berada di atas meja. “Biasanya serama betina pasif dan penakut saat di atas meja,” kata ketua koordinator juri itu. Menurut Madi, kunci sukses Rere adalah rajin memberikan minyak ikan dalam pakan. “Minyak ikan berguna sebagai sumber vitamin sehingga serama jadi lebih berenergi dan bugar,” ujar Madi. Di kategori raja kebas, Down Payment (DP) tetap yang terbaik.

Serama milik Krisnandar asal Tangerang, Provinsi Banten, mengungguli lawannya dengan 31 kebasan. Gelar raja kebas itu adalah yang ke-5 bagi DP sejak Februari 2013. Selain raja kebas, gelar laga bintang menjadi salah satu gelar prestisius lain yang dilombakan.

Pesona 9 milik Eddy Yuwono, pehobi serama asal Kediri, Jawa Timur,  menjadi yang terbaik.  “Pesona 9 memang hebat, ia mampu mengalahkan 23 serama lainnya,” ujar Ralls, ketua panitia acara. Kontes pada 30 Juni 2013 itu berlangsung meriah.

Acara tahunan  yang dilaksanakan atas kerja sama  Asosiasi Pecinta Ayam Serama (APASI) dengan Flora Festival Ecopark Ancol itu diikuti 230 peserta dari berbagai kota seperti  Palembang (Sumatera Selatan),  Bandung (Jawa Barat), Tangerang (Banten),  Kediri (Jawa Timur), hingga Lombok (Nusa Tenggara Barat). Kontes itu memperebutkan 35 piala dari 13 kelas lomba.  (Nurul Aldha Mauliddina Siregar)

 

Powered by WishList Member - Membership Software