Kampiun dari Baskom

Filed in Tak Berkategori by on 01/10/2012 0 Comments

Juara di tiga kontes maskoki itu hasil silangan Tjoan Hay Oey di Bandung. Padahal, ranchu top view sulit disilangkan.

 

Pada kontes di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, (April 2012), maskoki-maskoki koleksi Oey sukses menyabet juara ke-1, 2, dan 3 pada kelas ranchu top view (RTV) baby dan junior. Dua bulan berselang saat berlangsung Indonesian Goldfish & Betta Splendens Contest di Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, maskoki itu menyabet peringkat ke-1,2, dan 3 di kelas ranchu top view junior dan senior.

Sepekan berikutnya ranchu-ranchu itu meraih gelar sama pada kontes maskoki di Jakarta Utara. Bagi Oey, rentetan prestasi itu sungguh membanggakan. “Tapi yang paling membanggakan, seluruh ikan juara itu hasil tangkaran saya sendiri. Jerih payah saya selama ini tidak sia-sia,” ujar pegawai perusahaan asuransi jiwa itu.

Sulit

Keberhasilan Oey mencetak ranchu panorama atas (RTV) juara mematahkan mitos bahwa menangkarkan maskoki yang keindahannya dinikmati bila dilihat dari atas itu sulit. Menurut penangkar maskoki di Bandung, Ever Tagoli, saat ini pehobi memang sulit memelihara dan menangkarkan ranchu panorama atas karena rentan mati. Para pehobi lazimnya mendatangkan ranchu panorama atas dari Singapura dan Thailand.

Celakanya maskoki introduksi itu sulit beradaptasi. “Biasanya karena keliru pada saat penanganan ketika datang. Kalau sudah beradaptasi, dengan sendirinya mereka akan bereproduksi,” ujar Ever. Kesulitan itu menjadi tantangan bagi Oey. Pada November 2011 ia pergi ke Singapura untuk membeli indukan. Di sana Oey membeli dua induk betina kawai tashiro dan empat induk jantan ito nobuo. Kedua varian itu bergalur murni produksi penangkar di Jepang. Oey sukses mengadaptasikan keenam induk itu tanpa satu pun meregang nyawa sampai saat ini. Ia menempatkan induk dalam bak serat kaca berukuran 1 m  x  1 m secara terpisah antara jantan dan betina.

Saat pertama datang, ia menempatkan kedua bak di tempat tertutup agar suhu relatif stabil karena di Bandung perbedaan suhu pada siang dan malam hari cukup tajam. Suhu pada siang hari 28-29oC dan malam 22oC. Oey melengkapi bak dengan pemanas agar suhu air stabil. “Suhu udara di Singapura panas, sementara Bandung sejuk. Oleh karena itu suhu air dinaikkan agar ikan tidak stres,” ujarnya. Ia menjaga suhu air stabil pada 28oC.

Setiap hari Oey mengurangi suhu pemanas 1oC sampai stabil pada suhu 25oC. “Tujuannya agar ikan beradaptasi secara perlahan di air yang lebih dingin,” katanya. Setelah 10 hari, Oey memindahkan indukan ke bak di halaman lantai satu rumah yang dinaungi atap serat kaca. Hanya  dua bulan setelah kedatangan, beberapa induk mulai menunjukkan berahi. Cirinya perut induk betina tampak membesar tanda mulai mengandung telur. Sementara pada induk jantan muncul totol-totol di bagian sirip depan.

Dalam baskom

Penangkar itu menempatkan indukan berahi dalam baskom plastik berdiameter 40 cm yang diisi air hingga 2/3 tinggi baskom. “Saya sengaja menggunakan baskom karena ingin membuktikan bahwa menangkarkan ranchu top view itu sebetulnya mudah dan sederhana,” ujar Oey. Dalam satu wadah Oey memasukkan 1 betina dan 3 jantan, tergantung jumlah induk yang berahi. “Walau hanya satu jantan dan satu betina juga dilakukan pemijahan,” ujarnya. Ia juga memasukkan 1-2 eceng gondok Eichornia crasipes ke dalam baskom untuk tempat menempelnya telur.

Pasangan induk biasanya kawin pada malam atau fajar. Sang betina meletakkan telur di akar eceng gondok. Bila permukaan air tampak berbuih, itu pertanda sang jantan sudah mengeluarkan sperma untuk membuahi telur. Setelah itu Oey memindahkan induk ke baskom baru. Wadah berisi telur yang sudah dibuahi kemudian ditetesi methyline blue untuk mencegah serangan cendawan atau bakteri.

Oey membiarkan proses bertelur secara alami. Peternak lain biasanya menekan bagian perut ikan agar seluruh telur keluar dan teknik suntik. Sekali fase bertelur, seekor betina bertelur di 4-6 baskom. Total jumlah telur rata-rata 2.000-5.000 butir per  peneluran. Tiga hari berselang telur menetas. Burayak atau anak ikan itu mulai berenang pada umur 3 hari. Pada saat itulah Oey memberikan pakan Artemia salina.

Oey menyeleksi ikan berumur 7 hari. “Burayak yang ekornya kuncup atau tidak membuka langsung dibuang,” ujarnya. Seleksi berikutnya pada umur 2 minggu dan 1 bulan. Yang terpilih adalah yang benar-benar kualitas kontes: punggung terlihat tebal, perut tidak gendut, panjang, dan ekor simetris. “Dari 2.000 burayak, yang terpilih biasanya hanya 3-5 ekor,” ujar Oey.

Setelah berumur sebulan, pakan berganti menjadi kutu air, cacing darah, dan cacing sutra. Pada umur 3 bulan Oey memberikan pakan 4 kali sehari dengan jenis pakan bergantian. Pada pukul 06.00 pegawainya memberi pakan cacing darah, pukul 10.00 pelet, pukul 14.00 cacing sutera, dan pukul 17.00 cacing darah. “Setiap hari 1-2 kali kotoran disedot, lalu ditambahkan air baru,” ujarnya.

Ranchu top view hasil tangkaran Oey terbukti berkualitas bagus. Menurut juri maskoki internasional, Kris S Widjaja, mutu ranchu produksi Oey punya harapan besar untuk mencapai standar internasional. Syaratnya Oey konsisten meningkatkan mutu, meskipun penangkaran berlangsung di dalam baskom. Dari sanalah lahir para kampiun yang aduhai jika dinikmati dari atas. (Imam Wiguna)

 

 

 

 

 

 

 

Jalan Menuju Juara


     

     

     

     

     

     

     

     

     

    1. Pada November 2011 Tjoan Hay Oey membeli dua induk betina kawai tashiro dan empat induk jantan ito nobuo. Indukan jantan dan betina disimpan pada bak terpisah
    2. Tjoan Hay Oey sukses mengadaptasikan indukan impor dengan menjaga suhu air 28oC dengan bantuan alat pemanas. Setiap hari temperatur pemanas dikurangi 1oC hingga stabil 25oC agar ikan beradaptasi perlahan pada air yang lebih dingin
    3. Pada Januari 2012 beberapa indukan mulai berahi dan siap pijah. Tjoan Hay Oey memisahkan induk yang siap pijah pada baskom berdiameter 40 cm berisi air dan 2-3 tanaman eceng gondok
    4. Induk betina bertelur pada malam atau fajar. Ia meletakkan telur pada akar eceng gondok. Setelah telur dibuahi, Oey memindahkan induk pada baskom lain agar kembali bertelur. Begitu seterusnya hingga telur habis
    5. Telur yang sudah dibuahi ditetesi methyline blue untuk mencegah serangan bakteri dan cendawan. Tiga hari setelah pembuahan telur mulai menetas. Tiga hari kemudian burayak mulai berenang dan diberi pakan artemia.
    6. Oey menyeleksi burayak berumur sepekan. Burayak berekor kuncup dibuang. Seleksi selanjutnya pada umur dua minggu dan sebulan. Dari 2.000 telur, yang terpilih berkualitas bagus hanya 3-5 ekor.
    7. Setelah burayak berumur sebulan, Oey memberikan pakan kutu air, cacing darah, dan cacing sutera, secara bergantian
    8. Pada April-Juli 2012, hasil tangkaran Oey sukses meraih juara ke-1, 2, dan 3 di tiga kontes berturut-turut

     

    Keterangan Foto :

    1. Ranchu top view hasil tangkaran Tjoan Hay Oey asal Bandung, Jawa Barat, sukses mendominasi juara pada tiga kontes maskoki berturut-turut
    2. Tjoan Hay Oey, sukses menangkarkan ranchu top view kualitas juara
     

    Powered by WishList Member - Membership Software