Kaleng Penentu Tanam

Filed in Komunitas, Majalah, Uncategorized by on 14/07/2020

Nurkilah mengukur curah hujan di Desa Pekandanganjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu.

 

Kaleng di sudut sawah andalan petani Indramayu sukses beragribisnis. Mereka terhindar gagal panen akibat serangan hama.

Sebuah omplong atau kaleng bekas berdiri di atas tiang 2 meter di sudut sawah Nurkilah. Kaleng berkapsitas 2 liter itu menampung air hujan. Petani di Desa Pekandanganjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu memasukkan bambu kecil ke dalam kaleng lalu mengukur tinggi tanda air pada bambu dengan penggaris.

Laki-laki berusia 54 tahun itu mencatat curah hujan dan menyusunnya menjadi data harian per sepuluh hari. Ia melakukan hal itu 10 tahun, tanpa henti. Pengamatan dilakukan rutin setiap pukul 07.00. Ia juga mendata jumlah hari hujan dan kering dalam setahun serta temuan lain terkait serangan hama dan penyakit. Setiap akhir bulan, Nurkilah mendiskusikan dengan petani lain—melakukan hal serupa—untuk merumuskan solusi konkret.

Skenario musiman

Prof. Dr. Yunita Triwardani Winarto, antropolog dari Universitas Indonesia.

Mereka, para petani itu, menjadi anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI). Tujuannya agar petani dapat bercocok tanam menyesuaikan iklim yang berubah antara lain hujan terlambat datang, kemarau berkepanjangan. Diskusi setiap bulan selalu menarik lantaran mereka bekerja sama dengan ahli agrometeorologi dari Belanda, Prof. Kees Stigter, dan antropolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Yunita Triwardani Winarto.

Selain itu periset Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Karawang, Jawa Barat, juga ikut serta. Petani pengukur curah hujan terdapat di setiap kecamatan di Kabupaten Indramayu. Mereka menghitung banyaknya hari hujan dan kering yang terangkum dalam data per sepuluh hari atau dasa harian. Berbekal data itu, petani memperoleh skenario musiman dengan bantuan Kees dan Yunita.

Skenario musiman berisi prediksi kapan musim hujan dan kemarau datang serta intensitasnya tiga bulan mendatang. Skenario musiman penting untuk menentukan jadwal tanam agar petani memperoleh air irigasi yang cukup dan terhindar dari serangan hama dan penyakit. Nurkilah menerima pesan skenario musiman dari Kees dan Yunitas setiap awal bulan.

Petani pengukur merasakan manfaat mencatat air dalam omplong setelah lima tahun. Mereka dapat memprediksi intensitas hujan berdasarkan data lima tahun. “Data curah hujan rata-rata di suatu wilayah bisa diperoleh setelah mengukur selama sepuluh tahun. Harusnya 30 tahun supaya lebih lengkap seperti yang dilakukan Prof. Kees,” kata Nurkilah.

Evaluasi data curah hujan untuk menentukan rencana tanam.

Petani membuat grafik probabilitas menggunakan data lima tahunan itu sebagai patokan curah hujan normal di Indramayu. Berdasarkan data itu Nurkilah mengatakan curah hujan tertinggi terjadi pada dasa harian ketiga bulan Januari sekitar 200—500 mm. Saat kondisi ekstrem, curah hujan pada bulan itu mencapai 1.500 mm. Curah hujan terendah terjadi pada awal musim tanam kedua yakni Juni—Juli kurang dari 200 mm.

Menurut penyuluh pertanian BPP Cikedung, Andriatna Retno Dewayanti, petani anggota PPTPI memiliki perencanaan tanam berbeda dengan nonanggota. Petani pengukur menghitung jadwal semai dan pindah tanam berdasarkan evaluasi curah hujan yang diperbarui tiap bulan. Retno mengatakan, petani Indramayu lazim menanam dengan pola padi-padi-palawija.

Musim tanam (MT) pertama diawali olah tanah pada bulan November dan pindah tanam Desember atau Januari. MT kedua berlangsung pada Mei—Agustus. MT ketiga bulan September—Oktober. Retno mendampingi petani di Desa Amis, Kecamatan Cikedung, yang menanam bayam pada MT ketiga jika ketersediaan air mencukupi. Petani lain lazim menanam palawija dan ada pula yang membiarkan bera saat sulit air.

Ramah lingkungan

Retno mengatakan petani pengukur juga lebih selektif terhadap varietas dan perlakuan budidaya. Perempuan kelahiran Cirebon, 4 Juni 1979 itu mengatakan, petani pengukur curah hujan mengutamakan perlakuan ramah lingkungan seperti penggunaan kompos, pupuk organik cair, dan pestisida nabati buatan sendiri. Nurkilah menggunakan lampu perangkap hama sebelum dan setelah tanam.

Pemasangan perangkap sebelum tanam penting untuk mengamati hama apa saja yang berpotensi hadir saat musim tanam berlangsung. “Puncak serangan misalnya penggerek batang, dapat diprediksi kapan terjadi dari hasil pengamatan sebelum tanam,” kata petani alumni Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Misalnya serangan tertinggi ngengat penggerek batang teramati pada tanggal 1. Ia akan menanam 15 hari kemudian.

Petani Indramayu lazim menggunakan pola tanam padi-padi-palawija.

Itulah cara Nurkilah dan petani PPTPI mengamankan fase primordia padi atau pengisian bulir pada 45—50 hari setelah tanam. Jika abai, padi berpotensi terserang beluk—hama perusak tanaman yang sudah berbunga yang mengakibatkan mengeringnya malai. Tandanya muncul malai berwarna putih dengan bulir kosong. Menurut Nurkilah padi yang terserang beluk tidak tertolong bahkan dengan penggunaan pestisida kimia.

Retno mengamati petani pengukur seperti Karwita di Desa Amis tidak mengalami gagal panen akibat wabah wereng batang cokelat tahun 2015. Bahkan hasilnya cukup memuaskan lantaran budidaya pertanian ramah lingkungan. Padahal, saat itu banyak petani lain gagal panen. Mereka belajar dengan omplong di sudut sawah. (Sinta Herian Pawestri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software